Das Kapital: Buku Berat yang Pernah Dilarang, Kini Jadi Menu Sarapan Akademisi

Reporter : -
Das Kapital: Buku Berat yang Pernah Dilarang, Kini Jadi Menu Sarapan Akademisi
Buku Das Capital

Oleh : Himawan Bayu Patriadi

Pengamat Sosial Politik dan Militer, Dosen Fisipol Universitas Jember

Baca Juga: Anwar Ibrahim: Sebuah Gagasan Kepemimpinan

Jember, JatimUPdate.id, - Pagi belum benar-benar terang ketika grup WhatsApp dosen Program Doktor FISIP Universitas Jember mendadak “dikejutkan” oleh unggahan sebuah tautan epub bertajuk “Tentang Das Kapital Marx”.

Buku ini adalah tafsiran Friedrich Engels atas karya monumental Karl Marx, Das Kapital, yang dalam versi asli berjudul On Marx’s Capital.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Jember, Himawan Bayu Patriadi, menjadi salah satu yang menerima kiriman tersebut. Ia menyebut unggahan itu ibarat menu sarapan pagi, berat tapi menggugah.

“Setelah saya telaah, ini lebih sebagai tafsiran daripada ringkasan. Meski Engels menyampaikan substansi pemikiran Marx, ia merajut narasinya sendiri,” ujarnya.

Menurut Himawan, karya tersebut tetap memiliki bobot akademik yang kuat. Pertama, karena ditulis oleh Friedrich Engels, sahabat dekat sekaligus kolaborator intelektual Karl Marx selama lebih dari 40 tahun.

Kedua, karena diterjemahkan oleh Oey Hay Djoen, sosok yang dikenal luas sebagai penerjemah kawakan literatur filsafat dan politik kiri di Indonesia.

Unggahan ini sekaligus memantik refleksi atas perubahan zaman. “Betapa hari ini dunia akademik begitu dimanjakan dengan akses literatur, termasuk referensi dari aliran kiri. Ini sangat kontras dengan masa Orde Baru,” tutur Himawan.

Ia pun mengisahkan kembali bagaimana di masa kuliahnya di Fisipol UGM, mendapatkan buku seperti Das Kapital adalah kemewahan luar biasa. Buku itu dilarang beredar, dibreidel rezim. Referensi yang tersedia hanya potongan-potongan dalam bunga rampai seperti Great Political Thinkers karya William Ebenstein.

Namun rasa ingin tahu mahasiswa zaman itu justru semakin terpicu. Fotokopi buku kiri menjadi buruan langka.

Himawan mengingat, ia akhirnya bisa membaca Das Kapital edisi bahasa Inggris dari seorang sahabat di Fakultas Filsafat. Saking berharganya buku tersebut, sang pemilik memberi aturan keras, tak boleh dibawa pulang, hanya boleh dibaca di tempat.

Meski sudah memiliki akses, memahami isi Das Kapital tetap menjadi tantangan berat. Buku ini terdiri dari tiga volume, 33 bab, dan lampiran tebal lebih dari 1.000 halaman.

“Pertama, bahasa Inggris saya waktu itu terbatas. Kedua, tebalnya luar biasa. Ketiga, isinya kompleks, penuh teori ekonomi dan narasi filosofis,” jelas Himawan Bayu.

Salah satu bagian tersulit, menurut Himawan, adalah Bab Pertama: Commodities and Money. Di dalamnya Marx mengupas teori nilai, logika produksi kapitalis, dan relasi ekonomi dengan pendekatan yang rumit. Bahkan Marx sendiri mengakui dalam pengantar edisi pertama *Das Kapital*, bahwa bagian itu merupakan yang paling sulit dipahami.

“Awal dari semua ilmu itu memang sulit. Maka bab pertama ini, khususnya analisis tentang komoditas, akan menjadi bagian yang paling menantang,” tulis Marx dalam pengantar yang ditulisnya di London, 25 Juli 1867.

Pernyataan itu bukan sekadar pengakuan. Marx bahkan melakukan revisi pada edisi berikutnya untuk menyederhanakan argumen dan memperkaya materi.

Dalam pengantar edisi Perancis, ia menulis bahwa ia terdorong menyempurnakan teks Jerman sebagai versi dasar, demi memudahkan pembaca memahami gagasannya.

Kini, ketika versi tafsir Engels tersedia secara daring, tantangan baru muncul: karya ini tetap tidak mudah dicerna. “Satu kolega bahkan menyebutnya ‘Angel!’, dalam arti sulit dicerna,” ungkap Himawan sambil tertawa.

Namun, justru dari kesulitan itulah lahir gairah intelektual. Memahami Das Kapital tak hanya butuh semangat akademik, tetapi juga stamina membaca yang kuat. Dan bagi sebagian akademisi, seperti Himawan, buku ini tetap menjadi “kitab babon” ilmu sosial yang patut dibaca, meski tak mudah dilahap.

“Kalau dulu kami harus menyelinap untuk membaca buku ini, hari ini kita bisa menikmatinya di layar ponsel. Tapi tantangan memahami isinya tetap abadi,” pungkasnya.

(Bersambung)

Redaksi JatimUPdate.id mendapatkan kiriman langsung artikel opini diatas dari penulisnya langsung, beberapa waktu lalu dan baru bisa disunting untuk dimuat Selasa (13/05/2025). Selamat menikmati. (ries/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat