Sambut HJKS ke-732
Cak YeBe: Perubahan Bermuara dari Keberanian Bukan Cuma Retorika Apalagi Gagasan
Surabaya, Jatim update.id – Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko atau yang akrab dipanggil Cak YeBe, menyoroti pentingnya keberanian dalam mengubah wajah Kota Pahlawan menyambut Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-732.
Menurut Cak YeBe masa depan Surabaya sangat ditentukan oleh sekuat dan sebagus apa grand design yang dimiliki dan dijalankan.
Baca Juga: Apresiasi Purabaya-Kenpark Lewat Tol, Eri Irawan Dukung Kembali Pakai Bus
"Semua berawal dari keberanian. Teko wani. Wani berubah opo gak? Nek wani ojo wedi, nek wedi ojo wani. Wes iku ae. Gak perlu beretorika soal program dan gagasan indah, tapi gak wani ngelakoni. Keberanian itu bukan hanya soal pemimpinnya, tapi juga dari warga, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, pelaku usaha, eksekutif, legislatif, APH, termasuk media," kata Cak YeBe, saat dimintai pandangan soal HJKS, Kamis (22/5).
Ia menegaskan para pemimpin di Surabaya harus bisa menjadi contoh, termasuk soal konsistensi menjalankan program-program yang sudah dirancang.
"Ini jadi semacam garansi bagi warga Surabaya benar-benar akan jadi lebih baik. Kalau warganya melihat pemimpinnya serius, pasti warganya ikut semangat berubah," lanjutnya.
Baca Juga: BPJS Nonaktif Tanpa Pemberitahuan, Warga Miskin Terancam Gagal Operasi
Legislator Partai Gerindra itu juga mengakui masih banyak pekerjaan rumah di kota ini. Meski ada peningkatan di beberapa sektor, tapi kekurangan juga tetap nyata.
"Kalau ngutip cak Ji atau cak Eri, ya memang banyak yang harus dibenahi. Cak Imam Syafii kemarin juga sudah sampaikan hal yang sama," ucapnya.
Baca Juga: DPRD Surabaya Soroti Dinamika Normalisasi Sungai Kalianak Tahap II
Maka dari itu, Cak YeBe mengingatkan agar semangat kolaborasi yang kerap digaungkan Wali Kota Surabaya jangan hanya berhenti di tataran wacana.
"Membangun Surabaya gak bisa sendiri. Harus kolaborasi eksekutif dan legislatif. Tapi konsistensi dari omongan itu harus konkret. Jangan cuma jadi slogan, tapi lemah pelaksanaan di lapangan," demikian Yona Bagus Widyatmoko. (Roy)
Editor : Miftahul Rachman