Menjadi Keluarga bagi Santri

Reporter : -
Menjadi Keluarga bagi Santri
Pelatihan Bimbingan Konseling Ponpes Nurul Djadid

 


Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id : Pagi itu, Sabtu, 31 Mei 2025, Ruang Rapat Pondok Pesantren Nurul Jadid di Paiton, Probolinggo, lebih ramai dari biasanya.

Baca Juga: Abdul Mu’ti: Pendidikan Tak Boleh Hanya Cetak Orang Pintar, Tapi Khalifah yang Memakmurkan Bumi

Puluhan wali asuh duduk berjajar, sebagian mencatat, sebagian lain menyimak serius. Di hadapan mereka, terpampang tajuk kegiatan: Pelatihan Bimbingan Konseling dan Kewaliasuhan. Agenda ini diselenggarakan oleh Bidang Konseling dan Wali Asuh, Biro Kepesantrenan (Biktren), selama dua hari.

Bukan sekadar pelatihan teknis. Kegiatan ini bertujuan membenahi cara pandang. Wali asuh, dalam bahasa Gus. Ahmad Madarik—Kepala Biro Kepesantrenan—harus memosisikan diri sebagai keluarga bagi para santri. Pesan itu disampaikan melalui Wakil Kepala Biktren, Gus. M. Hilman Zidny Romzi.

“Kalau ada pelanggaran, bayangkan itu dilakukan oleh adik atau anak kita. Sikap kita pasti akan berbeda. Lebih sabar, lebih lembut,” ujarnya.

Baca Juga: Menuju Puasa Melampaui Ritualisme, Menuju Transformasi Spiritual

Ia menegaskan, tugas wali asuh bukan sekadar menegakkan disiplin, tapi juga membina dengan kasih. Bahkan terhadap santri yang dicap nakal. “Perilaku mereka urusan Allah. Tugas kita mendoakan dan menasihati,” katanya.

Pelatihan itu menghadirkan dua pemateri: KH. Mahfudz Faqih dan Miftahul Huda. Keduanya menyoroti peran strategis wali asuh dalam menyelesaikan persoalan santri, dari konflik pribadi hingga tekanan belajar.

Baca Juga: Kiai Zuhri Zaini Sebut Memahami Konsekuensi Akhirat Adalah Kunci Ketenangan Hidup

“Wali asuh harus menjadi pintu pertama solusi,” kata Miftahul Huda dalam pemaparannya. Ia menyarankan pendekatan partisipatif dan konseling aktif, bukan sekadar menunggu laporan pelanggaran.

Pesantren berharap pelatihan ini menjadi titik balik. Pendampingan bukan lagi soal siapa salah dan siapa dihukum, tapi bagaimana menjadikan setiap santri tumbuh dalam atmosfer keluarga—hangat, terbimbing, dan dihargai. (pm/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat