Nasi Bebek Cak Dulla hingga Nikel (2)

Reporter : -
Nasi Bebek Cak Dulla hingga Nikel (2)
Fathorrahman Fadli Jurnalis Senior, Dosen, Pemerhati Sosial, Politik, Ekonomi, Hukum dan Budaya

 

Oleh. Fathorrahman Fadli

Baca Juga: Getir Di Negara Merdeka

Jurnalis Senior, Dosen, Pemerhati Sosial, Politik, Ekonomi, Hukum dan Budaya

Jakarta, JatimUPdate.id : Saya tidak tahu nasib Cak Dulla semalam. Sebab sejak habis Isha (11/6/25) hujan deras mengguyur Ciputat.

Sampai-sampai tambalan semen yang dikerjakan tukang sore tadi terkelupas kembali. Rasa-rasanya kerusakan pada tambalan semen depan pagar rumahku itu juga mengelupas bisnis Nasi Bebek Madura Cak Dulla juga.

Kemarin malam hanya bebeknya yang terjual dan nasinya masih menumpuk. Namun bisa jadi karena hujan lebat, tidak banyak orang yang membeli. Kasihan jadi orang kecil. Dan betapa enaknya jadi orang besar. Sebab saya pernah merasakan usaha mengais rejeki halal dengan menjual soto Madura.

Alhamdulillah soto Madura kreasi istriku wuenak sekali. Banyak sebenarnya yang minat. Cocok untuk lidah berbagai suku bangsa di bumi ini. Kami punya pelanggan orang China, orang Arab, Orang Makassar, Orang Bugis, Orang Surabaya, orang Batak, orang Riau, orang Ambon, Orang Papua, orang Sunda, orang Padang dan berbagai suka bangsa lainnya.

Soto dan sate kami juga di suka oleh tokoh-tokoh nasional. Mulai Mensesneg Dipo Alam, KSAL Achmad Sutjipto, Dubes Iran Dian Wireungjulit, Dubes Kuwait Lena Marlina Mukti, Politisi PDIP Erwin Moeslimin Singajuru, Nurmansyah Tandjung, Bupati Sragen Sigit Pamungkas, Peneliti politik Nur Iswan, analis kebijakan publik Medrial Alamsyah, Deputi Bappennas Amich Alhumami, pengusaha dan aktivis Hanifah Husein, budayawan Sem Haisye, Litbang Kompas Yohan, Pengacara Andi Syafrani, pengamat Ekonomi Anthony Budiawan, pengacara dan Ketua Umum Masyumi Ahmad Yani, hingga guru politik saya Salim Said.

Soal soto saya akhiri dulu. Saya mau kembali ke pokok masalah semula. Yakni kegelisahan saya soal ketimpangan prilaku elit yang korup dengan rakyat jelata yang jujur dalam mencari penghidupan. Itu kegelisahan saya yang terdalam.

Betapa gampangnya seorang elit itu mencari uang, dan betapa sulitnya rakyat jelata itu mencari cara untuk hanya bertahan hidup.

Baca Juga: Dugaan Ilegal Mining Dan Solar Gelap di Pulau Gebe

Elit politik penguasa itu cukup dehem saja, uang haram miliaran bisa masuk ke mulutnya yang santun itu. Santun beneran atau pura-pura santun hanya Nabi Muhammad dan Malaikat yang tahu.

Tapi....lagi-lagi TAPI...bagi rakyat jelata, betapa sulitnya uang itu datang. Cak Dulla misalnya, dia harus berjibaku, peras keringat, peras otot, peras otak, peras kantong untuk mempertahankan usaha untuk hidup.

Jarak elit politik dengan rakyat jelata itu kira-kira 40 tahun lama tempuhnya. Nyaris sama jarak antara pengusaha sukses pemilik perusahaan dengan karyawan atau jongos mereka. Orang Malaysia di Kualalumpur atau Johor itu menyebut karyawan dengan istilah Kaki Tangan.

Sama juga jarak antara pelaku mafia tambang nikel dengan sopir eskavator penggaruk tanah nikel (ore) dan pekerja-pekerja diladang.

Memang dalam kehidupan ini, Tuhan yang Maha Besar itu sering membuat ekstrimitas antara dua kutub. Ada elit politik yang baik sekali dan ada juga yang rakus bin markus banget.

Baca Juga: Penambangan PT ASM Merusak Ekosistem Pulau Gebe

Ada juga yang mulutnya bau solar dan kaya raya melintir, namun ada juga yang hidup sederhana dan rileks. Kedua kutub itu Allah ciptakan untuk dua jenis manusia.

Dan diantara keduanya, terdapat pula barisan orang-orang yang menginsyafi kehidupan dengan mengambil jalan tengah. Semua kutub itu mengandung risikonya masing-masing. Tak ada yang tanpa risiko. Perbedaan ekstrim diantara mereka itu hanyalah Taqwa kepada Allah dalam artian levelnya, grade-nya, tingkatannya, derajatnya saja.

Pagi ini, saya juga mau komentar soal simpang siur kebenaran yang lagi rame di media yakni si Raja Ampat. Lucu memang; pemerintahnya ngomong begini, rakyat di Raja Ampatnya ngomong begitu. Wah..ruwet-ruwet pokoknya. Padahal, kalau pemerintah itu mulut dan pikirannya menyatu dengan tindakannya ya gampang. Kesimpulannya itu; Siapa saja yang merusak alam itu ya TOLOL.

Sebab manusia, apapun pangkat dan kedudukannya, mau pakai dalih undang-undang maupun dalil hukum adat dan hukim lingkungan, yang namanya merusak alam itu ya TOLOL namanya. Titik. Kata orang Surabaya. Wis, meneng ae cangkemmu. Awakmu pancene TOLOL, wis ta lah!!!


Bersambung jika pikiranku waras....(sof/red)

Editor : Redaksi