Catatan MAS AAS

Kami Berdua Selalu Yes, Tidak Pernah No

oleh : -
Kami Berdua Selalu Yes, Tidak Pernah No

DATANG dan pergi dari dunia sudah menjadi satu paket di dalam hidup ini. Setiap yang hidup akan mengalami siklus itu.

Dapat kabar, kawan lama yang biasa main kelereng juga gobag sodor bersamaku kini sudah kondur. Kenangan kecil jaman masih usia anak-anak dan juga masih senangnya bermain seharian di desa terputar kembali spontan diingatan. Banyak kisah bahagia berbalut tawa riang tak berkesudahan. Tak luput dari catatan yang masih aku ingat malam ini, saat itu, saat bersamanya.

Mendengar kabar meninggalnya konco lawas sontak membuat jati diri ini merenung sejenak masuk ke dalam diri yang terdalam. Entah besok, minggu, bulan, tahun, atau entah kapan. Jadwal itu juga akan datang menghampiriku mungkin juga Anda. Ada banyak tanya, ada banyak jawab saling susul silih berganti masuk ke relung jiwa ini. Sudahkah? Mampukah? dan Siapkah? untuk pulang dengan rasa yang bahagia, juga tak merepotkan siapapun, karena saking senangnya saat sowan kondur kepadaNya. Sedang diri ini masih begitu kuat sekali melekat dengan semua yang ada di dunia ini!

Sudahkah PR dan tugas kehidupan ini telah kita tuntaskan semua. Adakah yang belum kita kerjakan, atau ada yang terlupakan. Keheningan saja yang menjadi jawab akan semuanya. Dalam keterbatasan akal yang sedang mencari jawab: aku sakdermo titah. Waktu yang masih ada layak untuk tidak pernah aku sia-siakan sedikitpun. Untuk bergegas tuntaskan misi yang menjadi alat agar visi sebagai manusia yang jangkep lahir juga batinnya, saat kondur menghadapNya nanti terpenuhi, amin.

Hanya hening, juga rasa ini yang mampu menjadi pelipur dan penghibur yang tak kan pernah bohong. Bukan kapasitas akal juga pikiran untuk menjelaskan secara detail juga terperinci, dengan kata, kalimat, juga bahasa, karena tak sanggup untuk menjelaskan semuanya itu.

Kawan yang selalu merekah senyumnya, saat aku dan dirinya berhasil mengambil mangga tetangga, lalu menarik tebu dari truk yang tengah berjalan menuju ke pabrik gula di Klaten. Hasilnya lalu kita bagi berdua kemudian lanjut main lagi, habis itu mandi di kali di ujung kampung lokasinya! Memori itu tak pernah hilang dari ingatan, saat mudik kalau ia pulang kampung. Toh seharian, dari pagi, siang, juga malam itu datang, tema obrolan lawas masa kecil itu yang jadi perbincangan, membuat kita ingin bertemu, bersapa, dan sambung kembali layaknya dua anak kecil yang mau bermain ke sawah kembali di masa lampau. Aku kerja apa dia kerja dimana tak pernah aku obrolkan, aku tak tertarik menanyakan itu, ia pun sama. Mungkin itu yang membuat awet persahabatan itu terjadi. Kini ia sudah pindah alam, aku masih di dunia yang fana, ia sudah di alam yang berbeda, di alam kelanggengan.

Senang dan bahagia selalu di alam kelanggengan, kawan kecilku. Alfatihah selalu untukmu, ya, amin yra...