Serial Urip Iku Urup, Surabaya, (17/02/2026)

Menjahit Teori dan Realitas: Sebuah Refleksi Pendidikan Kewirausahaan

Reporter : -
Menjahit Teori dan Realitas: Sebuah Refleksi Pendidikan Kewirausahaan

 

Oleh: Dr. Agus Andi Subroto

Baca Juga: Tingkatkan Minat Belajar Matematika, Mahasiswa Unitri Perkenalkan Papan Perkalian Inovatif

Dosen Manajemen Fakultas Hukum dan Bisnis, ITB Yadika Pasuruan

 


Surabaya, JatimUPdate.id - Di banyak ruang kuliah, pendidikan kewirausahaan sering kali terjebak dalam jebakan simulasi yang rapi.

Mahasiswa dengan fasih menyusun proposal usaha, merancang Business Model Canvas, hingga mempresentasikan gagasan dengan visualisasi memukau demi nilai akhir semester.

Namun, begitu perkuliahan usai, tumpukan proposal itu kerap berakhir menjadi dokumen mati di laci meja. Pembelajaran kognitif memang terjadi, tetapi pengalaman empiris belum tentu tumbuh.

Inilah paradoks pendidikan bisnis kita: mahasiswa diajarkan berenang di atas karpet, bukan di kolam.

Kegelisahan ini bukan lahir dari ruang hampa. Jauh sebelum saya berdiri di depan mimbar akademik sebagai dosen, saya terlebih dahulu bergulat dengan panasnya api kompor dan dinamika pelanggan.

Saya teringat masa-masa mengeksekusi lapak "Nasi Goreng Mbah Joyo" dan "Mister Kentang Kriwul". Saat itu, tidak ada silabus yang mendikte saya.

Yang ada hanyalah tuntutan nyata: bagaimana meracik bumbu yang konsisten agar pelanggan kembali, dan bagaimana tersenyum melayani pembeli yang rewel meski badan lelah luar biasa.

Saya juga pernah menjajal ranah jasa dengan membeli franchise Tour & Travel. Di sana, saya belajar bahwa sistem yang rapi di atas kertas bisa runtuh seketika jika eksekusi pelayanan tidak prima.

Dari balik wajan nasi goreng dan gerobak kentang itulah saya memungut pelajaran yang tak selalu tertulis di buku teks Philip Kotler atau Peter Drucker.

Saya belajar bahwa inti kewirausahaan adalah konsistensi menjaga kualitas dan seni melayani manusia—dua hal yang sulit disimulasikan di ruang ber-AC.

Bahkan, di sudut hati terdalam, terselip niat sunyi: kelak ketika tugas sebagai pendidik purna, lapak-lapak itu mungkin akan saya hidupkan kembali. Karena bagi saya, "ruh" pedagang tidak pernah benar-benar padam.

Baca Juga: Mematahkan Mitos, Meneguhkan Peran Mahasiswa dalam Pergerakan 


Jembatan Kelas dan Pasar

Berangkat dari rekam jejak itulah, gagasan "Dari Kelas ke Pasar" (DKP) hadir. Bukan sebagai antitesis terhadap teori, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan konsep akademis dengan realitas jalanan.

Kita perlu mengakui bahwa realitas pasar bergerak dengan logika yang sering kali berbeda. Usaha mikro bertahan tanpa visi-misi yang dibingkai emas; mereka bertahan karena kejelian membaca kebutuhan tetangga dan ketahanmalangan (resilience) menghadapi sepi.

Melalui pendekatan DKP, saya menawarkan pergeseran paradigma dari sekadar transfer of knowledge menjadi experiential learning. Mahasiswa tidak saya minta untuk sekadar menghafal definisi kepuasan pelanggan, melainkan merasakannya langsung.

Dalam praktiknya, mahasiswa didorong untuk turun ke lapangan. Tahapannya dimulai dengan observasi, lalu berlanjut pada eksperimen mikro. Mereka mencoba menjual produk atau jasa dalam skala terbatas. Tujuannya bukan semata profit, melainkan merasakan "gesekan" nyata: penolakan calon pembeli, komplain atas kualitas produk, hingga negosiasi harga yang alot.


Teori sebagai Muara Refleksi

Di sinilah letak perbedaan mendasarnya. Jika dalam metode konvensional teori diberikan di awal sebagai doktrin, dalam pendekatan ini, teori hadir di akhir sebagai refleksi.

Baca Juga: Jawa Timur Deklarasikan Gerakan Bersih Narkoba, Mendes PDT Ajak Awasi Desa Dari Peredaran Narkoba

Setelah mahasiswa mengalami sendiri betapa sulitnya menjaga kerenyahan keripik atau betapa rumitnya melayani jasa, mereka kembali ke kelas dengan membawa segudang pertanyaan dan pengalaman. Di titik itulah teori manajemen masuk sebagai "pisau bedah".

Dosen tidak lagi menggurui, melainkan membantu mahasiswa membedah pengalaman mereka: "Mengapa konsumen menolak?", "Mengapa kualitas produk kalian menurun di hari ketiga?". Teori hadir untuk menjelaskan fenomena yang baru saja mereka alami.

Pemahaman yang terbentuk dari proses ini bukan hasil hafalan, melainkan kristalisasi pengalaman. Seperti halnya saya memahami manajemen operasional bukan hanya dari buku, melainkan dari upaya menjaga rasa Nasi Goreng Mbah Joyo tetap sama di setiap piringnya.

Pada akhirnya, inovasi pendidikan tidak melulu soal teknologi canggih. Ia sering kali lahir dari kesederhanaan untuk mengembalikan hakikat belajar.

Kewirausahaan adalah disiplin ilmu yang baru bermakna saat kakinya menjejak tanah. Kita perlu mencetak lulusan yang tidak hanya pandai membuat proposal cantik, tetapi juga memiliki mentalitas pelayan yang tangguh dan konsistensi baja.

Sebab, kewirausahaan sejati tidak lahir dari teori yang dihafal di ruang tertutup, tetapi dari realitas yang dimaknai dengan keringat dan kerja keras. (red)

 

Editor : Redaksi