Merah Putih untuk Semua: Eks Napiter Hadiri Upacara HUT RI ke-80 di Grahadi
Surabaya, JatimUPdate.id — Suasana khidmat bercampur haru mewarnai halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (17/8). Ratusan orang dari berbagai lapisan masyarakat duduk berbaur dengan pejabat pemerintah dalam Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, ada pemandangan berbeda yang menarik perhatian.
Untuk tahun ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur secara khusus mengundang sepuluh mantan narapidana terorisme (napiter) untuk turut serta dalam upacara bendera. Kehadiran mereka di tengah simbol-simbol kebangsaan menandai sebuah langkah kecil namun berarti dalam upaya memperluas ruang rekonsiliasi.
Baca Juga: Pemeriksaan Gubernur Jatim oleh Jaksa KPK di PN Tipikor Surabaya Batal Digelar
Setelah upacara, para mantan napiter ini juga mengikuti tasyakuran dan ramah tamah bersama Gubernur Jawa Timur, keluarga pejuang nasional, serta janda perintis kemerdekaan.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jawa Timur, Eddy Supriyanto, menyebut langkah ini sebagai wujud nyata kepedulian pemerintah pada proses reintegrasi sosial.
“Para eks napiter ini sudah kembali ke NKRI. Mereka tetap dalam pembinaan dan pengawasan Densus 88, tetapi sudah berupaya membangun kemandirian. Ada yang berjualan baju, madu, jamu, bahkan membuka restoran,” ujar Eddy.
Menurut catatan Bakesbangpol, Jawa Timur memiliki sekitar 190 mantan napiter. Kehadiran mereka dalam upacara kemerdekaan bukan sekadar simbol, melainkan pesan keterbukaan. “Semua ini adalah bukti bahwa Jawa Timur merangkul mereka untuk bersama-sama merajut kembali kebangsaan dalam bingkai NKRI,” tambah Eddy.
Baca Juga: Dilantik di Gedung Grahadi, Kadin Jatim Tetapkan Tujuh Fokus Strategis
Bagi sebagian mantan napiter, momen di Grahadi menjadi pengalaman pertama. Arif Syaifudin, misalnya, tampak berkaca-kaca ketika bendera Merah Putih dikibarkan. “Ini momentum berharga. Kita bisa menghormati para pejuang yang sudah mengorbankan segalanya untuk negara ini. Apa yang dulu tidak baik harus ditinggalkan. Kemerdekaan harus kita isi dengan hal-hal positif,” katanya.
Hal serupa dirasakan Muhammad Muhidin. Ia mengaku sepanjang hidupnya belum pernah mengikuti upacara kemerdekaan. “Dulu, negara bagi kami adalah musuh. Kami tak pernah datang ke acara seperti ini. Tetapi melalui pembinaan, kami bisa kembali ke NKRI. Mengikuti upacara membuat kami tumbuh lagi rasa cinta tanah air,” ujarnya.
Muhidin berharap pemerintah tidak berhenti mengajak eks napiter hadir dalam agenda kebangsaan. “Kalau sering diajak, rasa cinta bangsa dan tanah air akan semakin kuat. Kita harus bangga menjadi bagian dari Indonesia,” katanya tegas.
Baca Juga: Gelar Rakorda: Pordi Jawa Timur Mantapkan Arah Program Organisasi Tahun 2026
Kehadiran mantan napiter dalam upacara di Grahadi menegaskan bahwa nasionalisme bukanlah ruang eksklusif. Di tengah barisan pejabat, keluarga pahlawan, dan masyarakat umum, mereka berdiri sejajar di bawah kibaran Merah Putih.
Pemandangan itu menjadi pesan kuat bahwa negara ini selalu menyediakan ruang kembali bagi siapa pun yang mau setia pada merah putih. Pada peringatan kemerdekaan ke-80, Indonesia bukan hanya merayakan masa lalu, tetapi juga memberi kesempatan baru bagi anak-anak bangsa untuk menapaki masa depan bersama. (DPR)
Editor : Redaksi