Catatan Mas AAS

Memang Masih Banyak Pekerjaan Rumah Yang Kudu Di Selesaikan

oleh : -
Memang Masih Banyak Pekerjaan Rumah Yang Kudu Di Selesaikan
Farel Prayoga di upacara HUT ke-77 RI di Istana Merdeka Rabu (17/8/2022)

KENAPA masyarakat kita susah untuk bisa menghargai, setidaknya beri apresiasi capaian yang sudah diperoleh orang lain. Setidaknya apa yang sudah di capai oleh Farel Prayogo adalah sebuah prestasi. Memberi like, komentar positif, atau kabarkan apa yang sudah dilakukannya di depan istana, pas usai upacara hari kemerdekaan RI ke 77!

Meski saja saya bukan maniak aplikasi tik tok dan terbukti tidak download aplikasi itu di hape. Tapi, karena saya punya akun media sosial beberapa setidaknya ada FB juga Ig, sehingga bisa tersambung juga melihat suguhan beraneka konten tik tok yang diunggah oleh netizen.

Bisa jadi sedang melakukan aktivitas pansos panjat sosial, numpang terkenal sesaat, untuk ikut mengkritisi apa yang sudah di raih anak kecil dari Banyuwangi ini! Sayang bukan suara memberi apresiasi, tapi seakan sudah jadi ustad baru yang sedang kasih khotbah: "Bagus memang suaranya si Farel, lebih bagus lagi, ia belajar mengaji!" Ada lagi yang statemen yang diunggah di tik tok, yang berbunyi begini,"Masih kecil mending disuruh belajar, lha, kok, malah sudah disuruh cari duit!" Memang apa kamu yang biayai itu urusan sekolah, juga makan sehari-harinya si Farel. "Mudah kali, lo, kalau ngomong!"

Kenapa mesti dibandingkan perbuatan baik si Farel, dengan perbuatan baik lainnya yang seakan lebih baik. Anda sudah jadi malaikat yang diberi mandat menilai perbuatan baik yang A lebih bagus dari perbuatan baik yang B. Ada-ada saja. Tapi bagaimanapun tidak akan ada yang bisa mengendalikan siapapun ingin membuat konten dengan bejibun nya aplikasi, mereka bebas untuk melakukan sesuatu: ngomong, aksi, bertindak, seturut keinginannya di ruang sosial kita. Tapi, asyik saja menyimak langgamnya cara mengapresiasi masyarakat negeri ini terhadap keberhasilan yang sudah diraih orang lain, yang notabene bukan temannya, bukan keluarganya, atau malahan bukan anaknya! Langsung sambar, dan kurang bisa memberi apresiasi. Meski saja masih banyak orang-orang yang waras di negeri ini: mudah mengapresiasi, juga mudah memberi komentar yang positif.

Analogi yang sama bisa jadi untuk kasus lain, namun serupa! Masyarakat kita juga susah memberi apresiasi, dan untuk menghargai capaian yang sudah diraih pemimpinnya! Dalam level struktural apapun. Mulai struktur RT hingga Presiden bisa jadi. Acap kali nada sumir sering kita dengar daripada nada positif, apalagi apresiasi! Salah? Bukan! Tapi kapan masyarakat ini mau naik level derajatnya menuju ke level masyarakat negara kelas menengah, apalagi maju, agar tidak terus-terusan berada di katagori negara berkembang saja.

"Waowww, apa yang sudah kamu lakukan, membuat aku bergembira, dan anak-anak muda di negeri ini jadi terinspirasi, nanda Farel!"

Apa sih susah dan beratnya mengakui keberhasilan orang lain. Hargai saja titik, tidak perlu ada tambahan kata tapi, atau tak perlu diperbandingkan lagi!

Menghargai dan memberi apresiasi saja, kok susah sekali, sih. Kalaupun melakukan, kok tidak ikhlas sekali, sih! Memang Sontoloyo tenan!