Catatan Mas AAS

Jangan Jadi Manusia Identitas Dan Kulitan Lagi

oleh : -
Jangan Jadi Manusia Identitas Dan Kulitan Lagi

SAYANG sungguh disayang bila kelahiran kita hidup di dunia ini. Serba repot berproses juga bertumbuh, namun abai mengasah budi karena terkungkung mengejar kulit identitas diri yang semu semata!

Seketika berpikir demikian. Mungkin karena pengaruh situasi alam pinggiran di kota Malang. Yang membuatku sadar untuk jumeneng masuk ke dalam diri yang terdalam, di waktu pagi yang sedang merayap ke waktu siangnya sekarang!

Aku mendongak ke atas ke sisi sebelah timur, terbitnya mentari. Saat pagi tadi sinarnya malu-malu tuk tampakkan diri, seperti wajah bayi yang selalu mengundang untuk mendekatinya!

Sekira pukul sembilan lebih, sinarnya mulai terasa hangat menyentuh kulit. Puncaknya terik siang nanti pukul dua belas siang, kulit pun teras panas, apalagi kepala ini, apabila tanpa tutup kepala. Mungkin analogi itu juga terjadi pada manusia. Usia jelang 30-40 adalah masa puncak sebuah aksesoris dan status dikejar sedemikian kerasnya.

Diharapkan teriknya mentari itu akan berkurang jelang sore datang, lalu sang surya itu pun tenggelam saat datang petang! Dan perlahan namun pasti manusia itu di dalam hidupnya akan meracut satu demi satu kemelekatannya akan isi dunia! Awalnya datang ke dunia tanpa sandang yang melekat di tubuh, pun saatnya akan pulang, hukum alam terjadi kegagahan akan berkurang di preteli satu demi satu! Persiapan pulang dengan bahagia ke kampung halaman yang abadi juga langgeng! Dan itulah hasil guyon maton parikeno diriku karo Mbah Kartono, siang ini, di pinggiran kota Malang!

Waktu sedemikian singkatnya. Sedang darma kebajikan hidup sedemikian sedikitnya diukir. Sedang terjerat begitu hebatnya mengejar sebuah arti sebuah konsep semu, "Endi bagian ku!" Yang semakin memperkuat eksistensi semu yang akhirnya juga akan kita lepaskan. Benar juga omongan seorang kawan lama: manusia itu paling ketakutan di dalam hidupnya kalau dirinya tidak eksis, itu aslinya kulit semata. Sedang pencapaian sejati manusia itu akan melepaskan semua status dan pencapaian itu. "Mekaten ta, Mbah Kartono?"

"Ketoke, ngono, le," ujar spontan. Konco lawas yang biasa aku sering panggil Mbah Kartono itu!

Dan kami berdua, waktu sekarang sedang menyeruput kopi sambil berbincang soal banyak hal. Tak lupa materi yang dibahas perihal variabel endogen, eksogen, intervening, dan moderating. Juga tak lupa soal siklus hidup yang biasa kita namai cokro manggilingan. Ya, bagaimanapun Mbah Kartono, pernah mangan bangku sekolah di luar negeri bertitel Ph.D. Sedang aku adalah santrinya tepatnya muridnya Mbah Kartono, yang sedang luru ilmu kepadanya!

Jadi saat aku menyengaja *sowan" ke padepokan nya Mbah Kartono, aslinya selain belajar perihal alat analisa statistik beserta software nya baik Amos, smart pls, stata, juga spss. Jujur, yang ingin aku dengar dari Mbah Kartono, adalah saat ia mewedar soal budaya dan kabudayan yang ada di Nusantara ini. Plus soal patrap dan ngelmu urip!

Mbah Kartono, aku anggap manusia yang lengkap, ia sudah banyak pergi ke luar negeri, guna belajar banyak hal. Tetap saja tak lupakan darimana ia berasal dan bermula. Tetap orang nya njawani. Seneng aku nyawang awakmu bro, ujarku kepada Mbah Kartono, saat duduk di emper rumahnya berdua saja!

Alhamdulilah...