Serial Urip Iku Urup, Malang, (27/01/026)
Belajar Ulang Menjadi Ilmuwan: Catatan Seorang Doktor dari Sebuah Percakapan Menjelang Dies Natalis
Oleh Agus Andi Subroto
Penulis Urip Iku Urup
Baca Juga: Semangat Hari Pers Nasional 2026, Bontangku Perkuat Komitmen Literasi Digital melalui Legalitas Baru
Malang, JatimUPdate.id - Menjelang dimulainya acara Dies Natalis Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya ke-28 semalam, saya duduk berbincang santai dengan seorang profesor muda.
Ia bukan sekadar akademisi, tetapi juga dekan—enerjik, jernih, dan tenang dalam cara berpikirnya. Prof. Yusuf Hendrawan namanya. Percakapan kami berlangsung hampir satu jam, di sela hiruk pikuk persiapan acara, namun justru menghadirkan keheningan batin yang jarang saya rasakan akhir-akhir ini.
Kami tidak sedang membicarakan jabatan, politik kampus, atau target kinerja. Yang kami obrolkan justru sesuatu yang sangat mendasar: menulis artikel ilmiah. Bukan sekadar bagaimana caranya, melainkan mengapa dan bagaimana seharusnya seorang ilmuwan mencintai proses itu.
Percakapan itu terasa sederhana, tapi dampaknya tidak.
Dalam perjalanan pulang ke Surabaya, ada satu dorongan kuat yang terus mengendap di kepala saya malam tadi usai acara di UB: keinginan untuk belajar ulang. Bukan belajar dari nol, melainkan memanggil kembali pemahaman lama yang mungkin selama ini tertutup rutinitas, target, dan kewajiban administratif. Saya ingin kembali memahami menulis artikel jurnal ilmiah—bukan sebagai syarat, tetapi sebagai laku intelektual.
Ironisnya, dorongan ini justru muncul setelah saya menyandang gelar doktor.
Selama ini, saya menulis banyak hal. Esai, refleksi, catatan harian, bahkan opini. Menulis sudah menjadi bagian dari napas keseharian. Namun saya sadar, menulis artikel jurnal ilmiah adalah medan yang berbeda. Ia menuntut disiplin berpikir, kesabaran, dan kerendahan hati untuk berdialog dengan ilmu, bukan sekadar dengan perasaan atau pengalaman personal.
Dalam diskusi panjang itu, saya tersentak pada satu hal: IMRAD. Kerangka yang sejak S2 dan S3 begitu sering diajarkan—Introduction, Method, Results, and Discussion—namun mungkin tidak pernah benar-benar saya hayati secara mendalam. Terutama bagian Introduction.
Baca Juga: Presiden Prabowo Beri Penghargaan Qori Terbaik MTQ Nasional
Saya baru menyadari, betapa Introduction bukanlah pembuka formalitas. Ia adalah jantung nalar ilmiah. Di sanalah seorang peneliti menunjukkan apakah ia benar-benar paham medan ilmunya, atau sekadar mengikuti pola. Di sanalah riset gap bukan dicari-cari, melainkan disadari setelah tenggelam dalam literatur. Dan di sanalah kejujuran akademik diuji.
Mengapa penelitian ini perlu ada?
Pertanyaan itu ternyata tidak sederhana.
Belajar ulang memahami Introduction membuat saya sadar: menjadi doktor tidak otomatis membuat kita selesai belajar. Justru sebaliknya, gelar seharusnya menjadi undangan untuk lebih rendah hati pada ilmu. Untuk bertanya ulang. Untuk tidak malu mengakui bahwa ada hal-hal mendasar yang perlu dipahami kembali, dengan cara yang lebih matang.
Percakapan dengan profesor muda semalam menyadarkan saya bahwa ilmu tidak mengenal usia, senioritas, atau jabatan. Ia hanya mengenal *kesungguhan*. Dan kesungguhan itulah yang ingin saya rawat kembali—pelan-pelan—dengan mulai mencintai menulis artikel jurnal ilmiah, bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai panggilan.
Baca Juga: Disorot Prabowo, Pemkot Malang Siap Tertibkan Baliho Demi Estetika Kota
Mungkin inilah makna sejati Dies Natalis FTP UB bagi saya tahun ini: kelahiran ulang seorang pembelajar.
Jika seorang doktor masih mau belajar ulang, maka semoga itu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa api keilmuan itu belum padam. Dan semoga catatan kecil ini bisa menjadi pengingat: belajar tidak pernah selesai, bahkan—atau justru terutama—setelah kita merasa sudah sampai.
Urip iku Urup. Setiap kata adalah cahaya, semoga catatan kecil ini menjadi sedekah yang menyalakan kebaikan bersama.
Matur nuwun Prof Yusuf Hendrawan insight nya semalam.
Mister AAS
Surabaya, 25 Januari 2026
Editor : Redaksi