Lobby FEB UB, Malang, 27 April 2026
Simbiosis Akademik dan Kolaboratif: Menenun Masa Depan Intelektual dari Malang
Oleh Dr. Agus Andi Subroto
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan, Ketua DPD AFEBSI Jatim
Malang, JatimUPdate.id - Di lantai tiga Gedung Utama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Senin siang ini, udara tidak hanya dipenuhi oleh aroma kopi dan deru pendingin ruangan.
Ada sebuah kegelisahan intelektual yang bermuara menjadi harapan. Tanggal 27 April 2026 mungkin akan tercatat dalam kalender akademik bukan sekadar sebagai hari pertemuan sebuah kegiatan, melainkan sebuah ikhtiar untuk meruntuhkan tembok-tembok isolasi antarlembaga pendidikan.
Kolaborasi Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) antara FEB UB dan DPD AFEBSI Jawa Timur yang digelar hari ini adalah sebuah pernyataan sikap. Di tengah arus disrupsi pendidikan global, institusi pendidikan tinggi tidak lagi bisa berdiri sebagai menara gading yang angkuh. Ia harus menjadi ekosistem yang terbuka, saling menghidupi, dan—yang terpenting—berbagi beban pengetahuan.
Kehadiran tiga puluh akademisi, mulai dari nakhoda prodi hingga pucuk pimpinan universitas, menunjukkan bahwa ada kesadaran kolektif yang tengah tumbuh. Bahwa kolaborasi akademik bukanlah sekadar seremoni tanda tangan di atas materai, melainkan upaya menyatukan frekuensi demi kualitas pendidikan yang lebih merata di Jawa Timur.
Dua topik yang menjadi noktah utama pertemuan ini—Systematic Literature Review (SLR) dan strategi publikasi ilmiah—adalah "mata uang" utama dalam jagat akademik modern. Dr. Rizka Zulfikar, STP., M.M. membedah kerumitan meta-analisis dengan presisi, sementara Raditha Dwi Vata Hapsari, Ph.D memberikan peta jalan menuju panggung publikasi global. Di sana, diskusi bukan lagi searah; ia menjadi dialektika yang dinamis, tempat di mana teori beradu dengan realitas lapangan.
Namun, jantung dari pertemuan ini sejatinya terletak pada penandatanganan Implementation Agreement. Saat Wakil Dekan I FEB UB, Prof. Dr. Ananda Sabil Hussein, SE., M.Com., Ph.D dan Ketua DPD AFEBSI Jawa Timur, Dr. Agus Andi Subroto, STP., M.M. menggoreskan pena, yang sedang mereka bangun adalah jembatan. Jembatan yang menghubungkan Kediri hingga Pamekasan, Jember hingga Mojokerto, menyatukan para pendidik dari berbagai penjuru Jawa Timur dalam satu tarikan napas perjuangan literasi.
Kehadiran peserta dari pelosok daerah—lintas usia dan batas geografis—menjadi bukti otentik bahwa dahaga akan ilmu tidak pernah mengenal masa purna. Mereka datang bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban administratif, melainkan untuk memperbarui janji sebagai pendidik: bahwa menjadi guru berarti harus tetap menjadi murid.
Apresiasi setinggi-tingginya layak disematkan kepada FEB UB dan Prof. Sabil atas keterbukaan ruang dan pikiran. Kolaborasi ini adalah investasi jangka panjang. Sebab, di masa depan, kejayaan sebuah bangsa tidak lagi diukur dari seberapa banyak gedung yang berdiri, melainkan dari seberapa kuat sinergi intelektual yang dibangun oleh para pemikirnya.
Sebab, pada akhirnya, kita harus mengamini satu hal: kolaborasi yang dibangun di atas fondasi ilmu tidak akan lekang oleh pergantian rezim atau musim. Ia akan menjadi warisan yang melampaui zaman, sebuah legacy yang terus berdenyut dalam setiap ruang kelas dan lembar jurnal yang kita tulis.
Editor : Redaksi