Saatnya Surabaya Menjadi Panggung Kita Bersama
Oleh: Achmad Muzakky Cholily
Baca Juga: Jawa Timur Deklarasikan Gerakan Bersih Narkoba, Mendes PDT Ajak Awasi Desa Dari Peredaran Narkoba
Aktivis Budaya
Surabaya, JatimUPdate.id - Setiap hari, ribuan roda berputar melintasi Jembatan Merah, meninggalkan jejak ban di atas aspal yang menjadi saksi bisu sejarah perjuangan.
Di jantung kota, kompleks Balai Pemuda dan Alun-Alun Surabaya kini bermandikan cahaya, menjadi magnet bagi generasi baru yang haus akan ruang kreatif.
Kita melewati semua itu—bangunan ikonik, taman kota, hingga trotoar yang ramai—seringkali hanya sebagai latar belakang rutinitas harian yang serba cepat.
Langkah pertama yang diambil Pemerintah Kota Surabaya dengan mengubah kompleks Balai Pemuda menjadi ruang kreatif terbuka memang patut diapresiasi.
Ini adalah bukti bahwa dahaga akan ruang ekspresi memang ada dan perlu dijawab. Namun, inisiatif sporadis ini belum cukup jika tidak diimbangi dengan perbaikan sistemik di level kebijakan.
Kenyataannya, di lapangan, komunitas seni dan budaya masih harus berhadapan dengan tembok birokrasi yang rumit hanya untuk bisa menggelar acara non-komersial. Proses perizinan yang sering tidak jelas dan berlarut-larut menjadi 'momok' yang memadamkan semangat di awal.
Inilah ironinya: Pemerintah Kota masih sering bertindak sebagai regulator yang kaku, padahal seharusnya bisa menjadi kolaborator yang merangkul energi kreatif warganya.
Akibatnya, banyak ruang publik potensial yang akhirnya 'mati suri'—indah secara fisik, namun kosong dari denyut ekspresi warga yang otentik karena terhalang akses.
Lalu, bagaimana kita menjembatani jurang antara potensi dan realita ini? Jawabannya terletak pada perubahan paradigma: dari regulator menjadi kolaborator.
Ini bisa dimulai dengan beberapa langkah praktis:
1. Bentuk Meja Kolaborasi Seni Kota: Sebuah forum rutin yang mempertemukan komunitas dengan dinas terkait untuk mencari solusi bersama, bukan sekadar sosialisasi satu arah.
Baca Juga: Menjahit Teori dan Realitas: Sebuah Refleksi Pendidikan Kewirausahaan
2. Ciptakan Peta Ruang Kreatif Digital: Sebuah platform online yang memetakan lokasi publik yang bisa digunakan, lengkap dengan prosedur perizinan yang disederhanakan. Ini mengubah birokrasi dari "tembok" menjadi "pintu" yang jelas.
3. Luncurkan program Adopsi Ruang Publik: Pemerintah memfasilitasi komunitas lokal untuk secara aktif dan rutin menghidupkan area di sekitar mereka.
Energi untuk melakukan ini tidak perlu dicari jauh-jauh. Potensi terbesar justru seringkali tersembunyi di tempat yang paling dekat dengan kita: gang-gang perkampungan. Di sinilah energi kolektif dan budaya *cangkrukan* khas Suroboyo berada.
Kita tidak perlu meraba-raba dalam gelap untuk menemukan contohnya. Gerakan kampung urban yang lahir dari inisiatif warga seperti di Kampung Lawas Maspati, Mbangunrejo, dan Penilih adalah bukti hidup bahwa modal sosial ini nyata.
Mereka tidak menunggu proposal dari balai kota. Dengan swadaya, mereka menghidupkan kembali sejarah, menata lingkungan, dan mengubah wajah kampung mereka menjadi destinasi yang berkarakter.
Mereka adalah prototipe dari demokratisasi budaya yang kita impikan; sebuah bukti bahwa ketika warga diberi ruang dan kepercayaan, mereka mampu menjadi sutradara terbaik di panggung mereka sendiri.
Bayangkan jika semangat ini kita sebarkan ke arteri-arteri kota lainnya. Bayangkan pedestrian megah di Jalan Tunjungan, yang kini menjadi favorit untuk berfoto, setiap akhir pekan diisi oleh para musisi jalanan yang terkurasi, seniman sketsa yang menawarkan jasanya, atau komunitas tari yang melakukan flash mob.
Baca Juga: Zulhas Jadi Keynote Speaker, LHKP PWM Jatim Tegaskan Politik Kebangsaan sebagai Kontrol Demokrasi
Bayangkan pinggiran Kalimas di malam hari, dengan lampion-lampionnya, menjadi panggung terapung untuk pertunjukan musikalisasi puisi yang syahdu, memantulkan cahaya dan suara di permukaan air yang tenang.
Sebuah tembok kosong bisa disulap menjadi galeri mural oleh Karang Taruna, pojok taman baca bisa dihidupkan dengan sesi dongeng untuk anak-anak, dan lapangan voli bisa beralih fungsi menjadi panggung sederhana untuk pertunjukan ludruk atau musik patrol.
Inilah demokratisasi budaya yang sesungguhnya; ketika ekspresi tidak lagi terpusat, melainkan menyebar dan tumbuh di mana saja ada kemauan. Menghidupkan Surabaya sebagai panggung bersama itu lebih dari sekadar proyek tata kota; ini adalah gerakan jiwa.
Sebuah panggilan untuk mengembalikan ruh kota ini ke tangan warganya. Tujuannya agar setiap orang, di sudut jalan mana pun mereka berdiri, punya tempat untuk bersuara dan berkarya, hingga kita semua merasa benar-benar memiliki kota ini—bukan cuma gedungnya, tapi juga ceritanya.
Dan jangan bayangkan gerakan ini harus dimulai dengan proposal tebal atau anggaran miliaran. Kekuatan itu justru lahir dari hal-hal yang sering kita anggap sepele: dari suara gitar di teras rumah yang terdengar sampai ke telinga tetangga, dari keriuhan anak-anak yang menggambar bareng di taman, atau dari kemauan untuk berhenti sejenak, memotret, dan membagikan keindahan mural di dinding yang kita lewati tiap hari.
Maka, anggap ini sebagai ajakan. Untuk setiap komunitas, Karang Taruna, hingga siapa pun yang membaca ini: berhentilah jadi penonton di kotamu sendiri. Sebab, kota yang hidup sejati bukanlah yang paling menjulang pencakar langitnya.
Melainkan yang paling riuh dindingnya oleh cerita, yang paling merdu tamannya oleh suara, dan yang setiap sudutnya punya nyali untuk menjadi panggung.
Panggung itu sudah ada. Mari kita rebut kembali. Panggung kita bersama. (roy/mmt)
Editor : Ibrahim