Perputaran Ekonomi Program MBG Bondowoso Capai Rp 11,4 Miliar Per Bulan

Reporter : -
Perputaran Ekonomi Program MBG Bondowoso Capai Rp 11,4 Miliar Per Bulan
Momen saat Siswa SD Plus Al-Ishlah Bondowoso menerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG) di hari pertama, Senin (17/9/2025).

 

Bondowoso, JatimUPdate.id, – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bondowoso tak hanya memastikan gizi siswa terpenuhi, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.

Baca Juga: Separuh Badan Jalan Ambrol, Jembatan Sentong Ditutup Total; Perbaikan Diperkirakan 8 Bulan

Hingga September 2025, tercatat sudah ada 13 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang setiap hari mendistribusikan makanan bergizi untuk belasan ribu siswa.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Fathur Rozi, mengungkapkan satu dapur SPPG rata-rata memutar uang sekitar Rp 40 juta per hari.

Dengan 13 dapur yang beroperasi, perputaran ekonominya mencapai Rp 520 juta per hari. Jika dihitung 22 hari kerja dalam sebulan, total perputaran ekonomi MBG menembus Rp 11,4 miliar.

“Kalau kebutuhan pangan bisa dipenuhi masyarakat lokal, maka kesejahteraan Bondowoso juga akan ikut meningkat,” ujar Fathur Rozi usai rapat evaluasi MBG di Aula Pemkab Bondowoso, Jumat (19/9/2025).

Selain menggerakkan ekonomi, MBG juga menyerap tenaga kerja lokal. Satu dapur SPPG bisa mempekerjakan hingga 49 orang, mayoritas ibu rumah tangga sekitar.

“Mereka cukup bekerja di lingkungannya sendiri, jadi lebih produktif sekaligus membantu perekonomian keluarga,” tambahnya.

Adapun 13 dapur yang telah beroperasi di antaranya berada di Badean, Jambesari DS, Pakem, Wonosuko Tamanan, Dadapan Grujugan, Pujer, Kademangan Bondowoso, Ponpes Al Ishlah, Ponpes Manbaul Ulum, Tapen, Kerang Sukosari, Rejoagung Sumberwringin, dan Jembung Kidul Tlogosari.

Menyerap Produk Lokal

Baca Juga: Retribusi Administrasi Dihapus, Raperda Pajak Baru di Bondowoso Permudah Layanan Publik

Kepala SPPG Dapur Badean, Mila Afriana Agustin, menjelaskan satu dapur rata-rata melayani 3.000 siswa setiap hari.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, dibutuhkan sekitar 3 kwintal beras, 200–300 kilogram sayur, 200–300 kilogram lauk pauk (ayam, lele, telur, dan lainnya), serta 150 ml susu per anak.

“Kalau dihitung, kebutuhan susu saja dalam sehari bisa mencapai ratusan liter,” jelasnya.

Ketersediaan bahan pangan dipenuhi melalui kerja sama dengan Diskoperindag, Dinas Pertanian, serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD).

Bahkan SPPG juga menggandeng Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) untuk memberdayakan warga menanam sayur dan memperoleh tambahan pendapatan.

Baca Juga: Abdul Mu’ti: Pendidikan Tak Boleh Hanya Cetak Orang Pintar, Tapi Khalifah yang Memakmurkan Bumi

“Dengan bantuan Bumdes, ibu-ibu bisa menanam sayur sendiri. Jadi tidak hanya untuk kebutuhan dapur SPPG, tapi juga bisa menambah pemasukan keluarga,” tambah Mila.

Meski sebagian besar bahan pangan dipasok dari petani dan pedagang lokal, beberapa komoditas masih didatangkan dari luar daerah. Misalnya wortel buah dan produk olahan susu, lantaran Bondowoso baru memiliki peternakan sapi perah tanpa unit pengolahan berskala UMKM.

Butuh Tambahan Dapur

Sekda Fathur Rozi menegaskan, meski program MBG memberikan dampak positif besar, evaluasi menyeluruh tetap diperlukan. Penguatan manajemen, peningkatan kualitas layanan, serta kepastian gizi dalam menu harus terus dijaga. (ries/mmt)

Saat ini Bondowoso masih membutuhkan sekitar 65 dapur SPPG tambahan untuk mencakup seluruh penerima manfaat program MBG.

Editor : Miftahul Rachman