Analisis Lirik “Seruan Setan” Valhalla: Potret Gelap Perang dan Manusia yang Kehilangan Akal Sehat

avatar Ibrahim
  • URL berhasil dicopy
Valhalla, dok istimewa
Valhalla, dok istimewa

Surabaya,JatimUPdate.id – Lagu Seruan Setan yang dirilis band rock Valhalla pada 1991 hadir sebagai refleksi kelam tentang paradoks manusia. 

Dengan bahasa lugas dan pilihan kata keras, Valhalla menggambarkan bagaimana seruan perdamaian seringkali berjalan beriringan dengan persiapan peperangan.

Diksi seperti setan, iblis, boneka, buas, beringas dipakai untuk menohok kenyataan. 

Imaji yang dibangun pun jelas, serdadu boneka yang diperintahkan, manusia saling menerkam bagai hewan buas, hingga metafora manusia sebagai kanibal. 

Semua itu menghadirkan potret brutal dunia yang dikoyak ambisi.

Repetisi frasa disana memperkuat ironi. Di satu sisi ada ajakan damai, di sisi lain terselubung persiapan perang. 

Kontras ini menegaskan kritik Valhalla pada kemunafikan sosial yang terus berulang.

Secara musikalitas, lirik sederhana dengan rima akhiran -an membentuk ritme cepat. 

Penulisan BERINGAAAAAS dalam huruf kapital dan vokal panjang semakin menambah intensitas. Kesan yang ditinggalkan bukan keindahan, melainkan hentakan emosional yang mengguncang.

Lagu ini tidak berhenti pada simbol religius tentang setan, tetapi lebih jauh menyindir tabiat manusia yang bisa berubah buas. 

Seruan setan dimaknai sebagai bisikan gelap, nafsu kuasa, propaganda, hingga hasutan yang merampas akal sehat.

Valhalla seakan ingin mengingatkan, kebiadaban bukan hanya milik setan, tetapi bisa tumbuh dalam diri manusia ketika membiarkan ambisi menguasai.