Doa di Ponpes Al Khoziny: Karomah Santri Hidup dan Usulan Gelar Pahlawan Santri dari Bupati Swasta

Reporter : -
Doa di Ponpes Al Khoziny: Karomah Santri Hidup dan Usulan Gelar Pahlawan Santri dari Bupati Swasta
Sujani, tokoh masyarakat Sidoarjo yang bermukim di Desa Siwalanpanji, Kec. Buduran yang dikenal dengan sebutan Bupati Swasta, dan foto kondisi proses evakuasi korban Ponpes Al Khoziny.

 

Sidoarjo, JatimUPdate.id - Malam itu, udara di Buduran masih membawa aroma debu dan doa. Di tengah tumpukan reruntuhan Pondok Pesantren Al Khoziny, harapan tampak begitu tipis - seperti cahaya lilin yang ditiup angin.

Baca Juga: Jembatan Sentong Bondowoso–Jember Ditutup Total, Struktur Ambrol dan Retak Parah, Arus Lalu Lintas Dialihkan

Sudah tiga hari tiga malam sejak musala pesantren itu ambruk, menelan puluhan santri yang tengah beribadah dan mengaji.

Namun di tengah kepiluan itu, seorang tokoh masyarakat Sidoarjo, Sujani S.Sos, yang akrab disapa Bupati Swasta, mengucap kalimat yang terdengar seperti doa.

“Insya Allah masih ada yang hidup, antara dua sampai tiga orang. Minimal satu orang, supaya bisa menceritakan apa yang terjadi di bawah reruntuhan,” katanya lirih, malam Selasa itu.

Pernyataan ini disampaikan karena memjawab pertanyaan Kasatpol PP Pemkab Sidoarjo, Yani Setyawan yang selalu bersama selama proses evakuasi korban terdampak ambruknya bangunan musholla Ponpes Al Khoziny tersebut.

Dan esoknya, doa itu menjadi nyata. Pada Rabu (1/10/2025), tujuh santri berhasil dievakuasi dari puing-puing beton.

Dua di antaranya telah wafat, sementara lima lainnya ditemukan hidup, di antaranya Haikal dan Al Fatih - dua nama yang kini menjadi simbol mukjizat dan keteguhan iman.

Haikal: Sholat di Bawah Puing, Menolak Air yang Bukan Miliknya

Menurut penuturan tim SAR, Haikal ditemukan dalam keadaan masih sadar. Tubuhnya lemah, tapi matanya memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Saat ditanya, Haikal mengaku bahwa selama tiga hari di bawah reruntuhan, ia tetap menjalankan shalat lima waktu.

“Kami tetap sholat berjamaah. Ada imam yang memimpin dari tengah reruntuhan,” ujarnya pelan.

Haikal juga menceritakan bahwa rasa haus sempat menghampirinya. Di dekatnya ada botol air mineral, tapi ia tak berani menyentuhnya.

“Bukan milik saya,” katanya. Sebuah kepatuhan kecil yang terasa agung di tengah situasi genting antara hidup dan mati.

Al Fatih: Tertidur di Tengah Doa, Terbangun oleh Suara Penyelamat

Berbeda dengan Haikal, Al Fatih mengaku tak banyak mengingat kejadian selama tiga hari itu. Ia hanya tertidur lama - mungkin karena lelah, mungkin karena tak sadar. Baru ketika mendengar suara petugas memanggilnya, ia membuka mata, seolah baru bangkit dari mimpi panjang.

Baca Juga: SMA Al Muslim Dorong Kesadaran Lingkungan Lewat Brand Audit Sampah Plastik

“Saya dengar ada yang teriak nama saya. Waktu itu saya langsung bangun,” katanya lirih, sesaat setelah dievakuasi.

Keduanya kini menjadi saksi hidup dari tragedi yang menyayat itu. Dari mereka, masyarakat tahu bahwa di bawah reruntuhan pun, iman masih berdiri tegak.

Sujani: Mereka yang Bertahan dan Mereka yang Menyelamatkan

Kepedulian terhadap para santri dan tim penyelamat tak berhenti di situ. Sujani, yang dikenal karena kiprahnya di bidang sosial, menyerukan agar Tim SAR Gabungan mendapat penghargaan resmi dari Pemkab Sidoarjo dan Pemprov Jawa Timur.

“Mereka bekerja tanpa tidur, tanpa pamrih, tanpa mengeluh. Ini bukan sekadar tugas—ini panggilan kemanusiaan,” ujar Sujani, Selasa pagi (7/10), saat menikmati kopi di salah satu warung kopi Desa Siwalanpanji bersama kru Redaksi JatimUPdate.id.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari, Basarnas, BNPB, BPBD Provinsi Jatim, BPBD Sidoarjo, TNI, Polri, relawan ormas, dan masyarakat sekitar dinilainya sebagai wajah sejati dari gotong royong Indonesia.

Gelar Pahlawan Santri untuk yang Gugur

Baca Juga: Aksi Balap Liar Diamankan di Arteri Porong Sidoarjo, Polisi Panggil Orang Tua Pelaku

Tak hanya bagi penyelamat, Sujani juga mengusulkan agar santri-santri yang meninggal dalam tragedi itu diberikan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Santri oleh pemerintah pusat.

“Mereka bukan sekadar korban. Mereka berkorban di jalan agama, di tempat ibadah. Layak disebut pahlawan,” ucapnya.

Ia berharap usulan itu dapat direalisasikan bertepatan dengan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2025 mendatang - sebagai bentuk penghormatan negara terhadap pengabdian dan ketulusan para santri.

Dari Puing ke Peringatan: Pesan dari Tragedi

Tragedi Al Khoziny bukan sekadar kisah tentang bangunan yang roboh. Ia adalah kisah tentang iman yang tak goyah, solidaritas yang tak kenal batas, dan harapan yang bertahan bahkan di bawah tumpukan beton.

Ketika reruntuhan akhirnya dibersihkan dan doa-doa dikumandangkan, satu hal tersisa dalam ingatan banyak orang:
bahwa keajaiban bisa lahir dari keyakinan, dan penghargaan sejati datang dari keikhlasan.

“Jika penghargaan ini diberikan bertepatan dengan Hari Santri,” kata Sujani, “maka dunia akan tahu bahwa pengabdian tidak pernah sia-sia.” (ih/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat