Refleksi Sumpah Pemuda: Penguatan Nilai Religius dan Pesantren dalam Semangat Kebangsaan

Reporter : -
Refleksi Sumpah Pemuda: Penguatan Nilai Religius dan Pesantren dalam Semangat Kebangsaan
Foto istimewa

 

Oleh : Setiawan Budi

Baca Juga: Gema Festival Santri Desa Banjararum Kecamatan Singosari Bersama Wabup dan Penghulu Viral

Dosen STAI Nurul Islam Mojokerto/Mahasiswa S3 Ilmu Manajemen UTM

Mojokerto, JatimUPdate.id - Tulisan ini merupakan materi yang kami sampaikan dalam acara refleksi Hari Sumpah Pemuda di Santri YPP. Nurul Islam Mojokerto tepatnya unit Pendidikan MA 2 Ad-Dauliyah Nurul Islam pada tanggal 28 Oktober 2025.

Pada bulan Oktober Tahun ini, pembahasan tentang Hari Santri dan peran pesantren terasa seperti tiada habisnya dan senantiasa menarik untuk dikaji.

Memang momen Hari Santri dan Sumpah Pemuda setiap tahunnya selalu ada nilai baru dan inspirasi serta hikmah yang dapat kita petik.

Sebelum membahas lebih mendalam tentang nilai religius dan nilai pesantren dalam peringatan Sumpah Pemuda, mari kita bahas terlebih dahulu sejarah singkat Hari Santri Nasional dan sejarah singkat Hari Sumpah Pemuda sebagai landasan pemahaman kita bersama.

Sejarah Singkat Hari Santri

Hari Santri diperingati untuk mengenang peran besar para santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tanggal 22 Oktober dipilih berdasarkan peristiwa bersejarah tahun 1945 ketika KH. Hasyim Asy‘ari mengeluarkan Resolusi Jihad.

Seruan ini menggerakkan para santri dan umat Islam untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan Belanda yang ingin kembali berkuasa.

Dari pesantren-pesantren lahirlah semangat jihad dalam makna kebangsaan. Hal ini berarti berjuang bukan hanya untuk agama, tetapi juga untuk menegakkan martabat bangsa dan menjaga tanah air.

Sejarah Singkat Sumpah Pemuda

Enam belas tahun sebelum Resolusi Jihad, tepatnya pada 28 Oktober 1928, lahir peristiwa bersejarah lain: Sumpah Pemuda.

Dalam Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta), para pemuda dari berbagai daerah dan latar belakang suku menyatakan ikrar untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu: Indonesia.

Sumpah Pemuda menjadi tonggak awal kesadaran nasional yang menembus batas kedaerahan dan menegaskan pentingnya persatuan bangsa. Dari momen ini pula, untuk pertama kalinya Lagu Indonesia Raya karya W.R. Supratman dikumandangkan yang merupakan sebuah simbol lahirnya semangat kebangsaan yang tulus sepenuh hati.

Nilai-Nilai Religius dan Pesantren dalam Sumpah Pemuda

1. Semangat Nasionalisme

Baik santri maupun pemuda 1928 sama-sama menunjukkan semangat nasionalisme yang kuat. Santri berjuang dengan tekad mempertahankan kemerdekaan, sementara para pemuda merintis kesadaran akan pentingnya persatuan bangsa.

Keduanya sama-sama mencintai tanah air sebagai bagian dari iman, sebagaimana prinsip yang diajarkan di pesantren: “Hubbul wathan minal iman” yang berarti cinta tanah air adalah bagian dari iman.

2. Kebersamaan dan Ukhuwah

Baca Juga: Menjaga Tradisi, Menyongsong Transformasi: Refleksi 77 Tahun Pesantren Nurul Jadid

Pesantren membentuk santri untuk hidup dalam kebersamaan, saling tolong-menolong, dan menjaga ukhuwah (persaudaraan).

Nilai ini tampak jelas dalam Sumpah Pemuda, di mana para pemuda dari berbagai suku dan dari berbagai daerah menanggalkan perbedaan mereka untuk bersatu demi cita-cita bersama yaitu kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Persatuan yang lahir dari ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) ini menjadi pondasi kokoh bagi persatuan berbagai suku bangsa dan budaya di Indonesia dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika hingga akhirnya tercapailah cita-cita mulia yaitu Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. Keikhlasan dan Pengabdian

Dalam tradisi pesantren, keikhlasan adalah inti dari perjuangan. Santri dididik untuk beramal lillahi ta‘ala yang dapat diwujudkan dengan berbuat baik dan berjuang tanpa pamrih demi kepentingan umat dan bangsa. Nilai inilah yang juga tampak jelas dalam momen Sumpah Pemuda.

Peristiwa tersebut bukan hanya menandai lahirnya semangat persatuan, tetapi juga menjadi momen pertama kalinya Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” dikumandangkan oleh W.R. Supratman. Lagu ini bukan sekadar simbol kebangsaan, tetapi juga bentuk pengabdian dan cinta tanah air yang tulus.

Lebih luar biasa lagi W.R. Supratman mempersembahkan lagu ini tanpa tuntutan hak cipta, royalti, atau keuntungan pribadi seperti generasi di era sekarang ini.

Beliau mendedikasikan sepenuhnya untuk Indonesia agar lagu tersebut menjadi milik seluruh rakyat, bukan milik individu. Sikap ini mencerminkan nilai beramal ikhlas, memberi tanpa pamrih, dan berjuang demi kemaslahatan bersama dengan setulus hati.

Keikhlasan W.R. Supratman dan para pemuda menunjukkan bahwa perjuangan sejati lahir dari hati yang bersih dan pengabdian yang tulus, sebagaimana santri yang berjuang bukan demi pujian, melainkan demi kemuliaan bangsa dan Ridha Allah.

4. Kemandirian dan Kepemimpinan

Baca Juga: Kado Presiden Pada Hari Santri untuk Peta Jalan Ekonomi Kerakyatan

Santri dikenal mandiri dan tangguh. Para santri terbiasa hidup mandiri, disiplin, dan berjiwa pemimpin. Nilai ini juga tercermin dalam sosok para pemuda 1928 yang berani berpikir kritis dan berdiri tegak menghadapi penindasan kolonial.

Kemandirian, jiwa kepemimpinan yang tangguh serta kekuatan intelektual ini menjadi harapan kita untuk mewujudkan Indonesia Emas di Tahun 2045.

5. Pendidikan dan Pencerahan

Pesantren menempatkan ilmu dan akhlak sebagai dasar kehidupan. Begitu pula para pemuda di masa Sumpah Pemuda yang sebagian besar adalah pelajar dan kaum terdidik. Mereka percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju kemerdekaan dan kemajuan bangsa.

Keduanya menegaskan bahwa bangsa yang beriman dan berilmu akan mampu menjaga martabatnya di hadapan dunia.

Makna Bagi Generasi Masa Kini

Peringatan Hari Santri dan Sumpah Pemuda menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa nasionalisme dan religiusitas tidak pernah bertentangan, justru saling menguatkan.

Dari pesantren lahir semangat spiritual dan moral, sedangkan dari Sumpah Pemuda lahir semangat persatuan dan nasionalisme. Ketika keduanya bersatu, lahirlah generasi muda yang beriman, berilmu, berakhlak, dan cinta tanah air.

Dan generasi inilah yang nantinya akan menjadi modal berharga untuk menuju Indonesia Jaya, Indonesia Raya, Indonesia Emas Tahun 2045. (wb/yh)
 

Editor : Yuris. T. Hidayat