Menjaga Tradisi, Menyongsong Transformasi: Refleksi 77 Tahun Pesantren Nurul Jadid
Oleh: Ponirin Mika
Baca Juga: Menuju Puasa Melampaui Ritualisme, Menuju Transformasi Spiritual
Kasubbag Humas dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Jurnalis JatimUPdate.id
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, merupakan salah satu pesantren besar di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam membangun peradaban ilmu, iman, dan amal.
Berdiri pada tahun 1948 atas prakarsa KH. Zaini Mun’im, pesantren ini lahir dari semangat dakwah dan kepedulian terhadap kondisi sosial umat pascakemerdekaan.
KH. Zaini Mun’im bukan hanya seorang ulama, tetapi juga seorang pejuang yang ingin memastikan bahwa kemerdekaan tidak berhenti pada ranah politik, melainkan juga meresap dalam kesadaran spiritual dan pendidikan masyarakat.
Sejak awal berdirinya, Nurul Jadid menegaskan identitasnya sebagai pesantren yang berpijak pada nilai-nilai keilmuan Islam klasik bercorak Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah. Kajian kitab kuning, tauhid, fikih, tasawuf, dan akhlak menjadi fondasi utama pendidikan santri.
Dalam suasana sederhana dan penuh barokah, pesantren ini tumbuh menjadi pusat pembentukan karakter religius, mandiri, dan berjiwa nasionalis.
Namun, sejak masa awal, KH. Zaini Mun’im telah menanamkan visi jauh ke depan: pesantren harus menjadi pusat transformasi sosial, bukan sekadar tempat menimba ilmu agama.
Beliau menegaskan pentingnya Panca Kesadaran—yakni kesadaran beragama, berilmu, berbangsa, bermasyarakat, dan berorganisasi. Lima kesadaran ini menjadi napas intelektual dan spiritual yang terus dihidupkan oleh para penerusnya hingga kini.
Setelah wafatnya KH. Zaini Mun’im, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh KH. Hasyim Zaini, sosok yang dikenal penuh kasih, sabar, dan berwawasan luas.
Pada masa beliau, Nurul Jadid mulai memperluas bidang pendidikan formal dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Dengan gaya kepemimpinan yang lembut namun tegas, KH. Hasyim Zaini berhasil menanamkan nilai keikhlasan dan pengabdian yang kuat di kalangan santri dan guru.
Era berikutnya ditandai dengan kepemimpinan KH. Wahid Zaini, ulama karismatik yang dikenal sebagai organisator dan politisi ulung.
Beliau membawa Nurul Jadid memasuki fase modernisasi struktural dan perluasan jejaring. KH. Wahid menegaskan pentingnya peran pesantren dalam pembangunan bangsa dengan menghubungkan dunia pesantren ke ruang publik dan politik kebangsaan. Ia mengajarkan bahwa politik tidak perlu dijauhi, tetapi harus dijalani dengan akhlak dan visi kemaslahatan.
Perkembangan tersebut berlanjut pada masa kepemimpinan generasi keempat, yang di antaranya dipimpin oleh KH. Moh. Zuhri Zaini sebagai Pengasuh didampingi dikala itu oleh KH. Abdul Haq Zaini (alm), KH. Nurchotim Zaini (alm), dan saat ini KH. Abdul Hamid sebagai Kepala Pesantren, KH. Najiburrahman Wahid sebagai Rektor UNUJA, KH. Faiz Abdul Haq Zaini, KH. Moh. Imdad Robbani, Nyai Nur Diana Kholidah sebagai Wakil Kepala Pesantren, KH. Abdurrahman Wafie sebagai Kepala Badan Perencanaan Pesantren, KH. Faiz Abdul Haq sebagai Kepala Biro Umum, KH. Ahmad Zaki sebagai Kepala Biro Pendidikan, KH. Ahmad Madarik sebagai Kepala Biro Kepesantrenan, serta beberapa Gus dan Ning juga yang turut berperan aktif dalam pengembangan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
Baca Juga: Kiai Zuhri Zaini Sebut Memahami Konsekuensi Akhirat Adalah Kunci Ketenangan Hidup
Transformasi Nurul Jadid di era ini terlihat sangat nyata. Pesantren tidak hanya menjadi lembaga keagamaan, tetapi juga pusat inovasi pendidikan, sosial, dan teknologi. Lembaga-lembaga seperti Universitas Nurul Jadid, sekolah-sekolah formal modern, hingga program pemberdayaan masyarakat menjadi bukti bahwa tradisi keilmuan Islam dapat berjalan seiring dengan kemajuan zaman.
Tema “Dari Tradisi ke Transformasi” yang diangkat dalam Haul Masyayikh dan Harlah ke-77 bukan sekadar slogan, melainkan cerminan perjalanan panjang pesantren ini.
Tradisi dalam konteks Nurul Jadid bukan berarti statis, melainkan akar yang menumbuhkan. Sementara transformasi bukan berarti meninggalkan masa lalu, tetapi merupakan keberlanjutan nilai dalam bentuk baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Kekuatan Nurul Jadid terletak pada keseimbangan antara tradisi (al-muhafazhah) dan inovasi (al-akhdu bi al-jadid). Santri tetap dididik membaca kitab kuning, namun juga diperkenalkan dengan teknologi digital, bahasa asing, dan ilmu pengetahuan modern.
Hal ini menjadikan lulusan Nurul Jadid mampu beradaptasi di berbagai sektor kehidupan tanpa kehilangan jati diri keislaman.
Selain itu, Nurul Jadid juga dikenal sebagai pesantren yang menanamkan semangat nasionalisme kuat. Para pengasuhnya menegaskan bahwa “Cinta tanah air adalah bagian dari iman,” sebagaimana diajarkan KH. Zaini Mun’im.
Karena itu, nilai kebangsaan tidak pernah dipisahkan dari pendidikan agama. Pesantren menjadi benteng keutuhan NKRI sekaligus pusat penyebaran Islam rahmatan lil ‘alamin.
Dalam bidang sosial, Nurul Jadid aktif memberdayakan masyarakat sekitar melalui program-program kemanusiaan, ekonomi produktif, dan pendidikan rakyat.
Baca Juga: Kiai Zuhri Zaini Bedah Karakter Ulama Akhirat di Pengajian Ramadan Nurul Jadid
Pesantren juga membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah, lembaga internasional, dan organisasi masyarakat untuk memperluas manfaat dakwahnya. Dengan demikian, Nurul Jadid menjadi model pesantren kosmopolit—berakar di desa, tetapi berdampak hingga global.
Transformasi yang dilakukan tidak pernah menghilangkan ruh spiritualitas yang menjadi ciri pesantren. KH. Moh. Zuhri Zaini, misalnya, selalu menekankan pentingnya ketersambungan ruhani santri dengan kiai agar ilmu yang dipelajari membawa cahaya dan keberkahan.
Dalam pandangan beliau, transformasi tanpa ruhani hanyalah perubahan teknis, bukan kemajuan sejati.
Momentum Haul Masyayikh dan Harlah ke-77 menjadi refleksi bahwa perjalanan panjang Nurul Jadid adalah kisah kesetiaan terhadap tradisi dan keberanian menghadapi perubahan.
Pesantren ini telah membuktikan bahwa Islam tradisional tidak identik dengan keterbelakangan, melainkan mampu menjadi kekuatan pembaharu yang membawa maslahat luas.
Kini, Nurul Jadid bukan hanya lembaga pendidikan, melainkan juga gerakan peradaban. Ia mencetak ulama, intelektual, teknokrat, politisi, dan dai yang berakar pada nilai keikhlasan pesantren, namun mampu berbicara dalam bahasa dunia modern. Di sinilah letak makna sejati tema “Dari Tradisi ke Transformasi” — sebuah perjalanan spiritual dan intelektual yang terus menyala dari masa ke masa.
Nurul Jadid adalah bukti nyata bahwa pesantren mampu menjadi pusat perubahan tanpa kehilangan identitas.
Dari bumi Paiton, Nurul Jadid mengajarkan kepada bangsa ini bahwa kemajuan sejati bukan diperoleh dengan meninggalkan tradisi, melainkan dengan menumbuhkannya menjadi kekuatan baru bagi peradaban Islam dan kemanusiaan. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat