Pemuda Dorong Inovasi Pertanian Hadapi Krisis Pangan Nasional

Reporter : -
Pemuda Dorong Inovasi Pertanian Hadapi Krisis Pangan Nasional

Malang, JatimUPdate.id - Gerakan pemuda dinilai harus menjadi motor inovasi untuk menjawab ancaman krisis pangan nasional. Hal itu mengemuka dalam kegiatan Dialogista bertajuk “Pemuda dan Ketahanan Pangan: Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Kedaulatan Pangan Nasional” yang diselenggarakan BEM Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) bersama Pemuda Inspirasi Nusantara (PIN), Jumat (7/11).

Acara yang berlangsung di Aula Gedung Sentral FP UB tersebut menghadirkan tiga narasumber: Dr. Mochamad Syamsulhadi (Ketua Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan FP UB), Heru Sutomo (Ketua P4S Restu Bumi), dan I Nyoman Sugidana (Pimpinan Pusat KMHDI 2023–2025).

Baca Juga: Menjahit Teori dan Realitas: Sebuah Refleksi Pendidikan Kewirausahaan

Dalam paparannya, Dr. Mochamad Syamsulhadi menilai bahwa upaya negara meningkatkan produksi pangan tidak akan berhasil tanpa memperkuat kapasitas generasi petani muda.

Ia mengungkapkan bahwa kenaikan anggaran pertanian selama lima tahun terakhir belum sepenuhnya efektif karena sebagian program masih berorientasi pada proyek fisik, bukan peningkatan kualitas SDM.

“Yang harus diperkuat adalah kapasitas petani muda. Tanpa SDM yang unggul, program besar seperti food estate sulit mencapai target,” paparnya.

Syamsulhadi juga menekankan bahwa sentra produksi pangan Indonesia masih bergantung pada daerah lama seperti Jawa Barat dan Jawa Timur, sementara pembukaan lahan baru belum membawa perubahan signifikan.

Dampak Iklim dan Pendapatan Rendah Hambat Ketertarikan Pemuda

Heru Sutomo memaparkan bahwa sektor pertanian terus menghadapi tekanan akibat perubahan iklim. Fenomena kemarau basah yang berlangsung tiga tahun terakhir berimbas pada penurunan produksi tanaman pangan, termasuk padi.

Baca Juga: Mahasiswa UNITRI Malang Sosialisasikan Inovasi Bio Briket dan Kerupuk Susu

“Data BPS 2024 menunjukkan produksi padi turun. Kondisi iklim tidak menentu membuat banyak petani kesulitan beradaptasi,” jelasnya.

Menurut Heru, rendahnya pendapatan juga menjadi penyebab utama minimnya regenerasi. Rata-rata petani hanya mendapat penghasilan sekitar Rp6 juta per tahun dari lahan 1.000 meter persegi.

“Tidak heran pemuda enggan masuk pertanian. Mereka melihat profesi ini berat, panas, dan hasilnya tidak menjanjikan,” imbuhnya.

I Nyoman Sugidana menilai bahwa solusi atas berbagai tantangan itu membutuhkan keterlibatan aktif mahasiswa. Menurutnya, pemuda harus berani mengembangkan teknologi baru yang dapat mempercepat masa panen, meningkatkan produktivitas, dan menjawab masalah irigasi, pupuk hingga alih fungsi lahan.

Baca Juga: Generasi Muda Dipanggil: KY Bali Bangkitkan Kesadaran Hukum Mahasiswa

“Mahasiswa hari ini harus menjadi pencipta solusi, bukan hanya penonton. Teknologi pertanian kita masih punya banyak celah inovasi,” tegasnya.

Ia pun mengapresiasi upaya pemerintah melalui BP BUMN Pupuk Indonesia yang mempercepat distribusi pupuk bersubsidi agar lebih tepat sasaran.

Melalui kegiatan ini, BEM FP UB dan PIN mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi lintas-sektor untuk menghadapi tantangan pangan nasional. Selain itu, mereka menekankan pentingnya pengawasan distribusi pupuk agar tidak terjadi penyimpangan di lapangan (*)

Editor : Redaksi