Ketika kesejahteraan prajurit disalurkan lewat ranjang dan rest area
(Trilogi-Part Two) Dari Koperasi ke Kasur: Jejak Uang Gelap di Balik Seragam
Oleh : Widodo, Ph. D,.
Pengamat Keruwetan Sosial
Baca Juga: (Trilogi-Part One) Bisnis Esek-Esek Oknum Tentara yang Berakhir Maut
Surabaya, JatimUPdate.id - Jika di Part 1 kita menyaksikan tragedi Mami Rose dan Letkol Purwanto, maka di Part 2 ini kita menelusuri akar busuk yang membuat kisah itu mungkin: uang koperasi tentara yang berbelok arah dari dapur keluarga prajurit menuju ranjang bisnis gelap.
Koperasi, dalam idealismenya, lahir untuk menolong prajurit kecil. Tempat menabung, tempat pinjam uang darurat, tempat belanja murah.
Tapi di tangan para perwira rakus, koperasi jadi ATM pribadi. Laporan keuangan di atas kertas rapi, tapi uangnya menguap ke proyek-proyek “sampingan”: parkiran pelabuhan, pertambangan fiktif, hingga..ya, Anda tak salah baca investasi di rumah-rumah hiburan.
Sebuah laporan internal di awal 1990-an bahkan menyebut: dari 312 koperasi TNI aktif, hampir sepertiganya tidak punya laporan keuangan yang bisa diaudit. Tapi siapa yang berani memeriksa koperasi berseragam loreng?
Uang di koperasi itu ibarat darah: mengalir tanpa arah, tapi selalu kembali ke jantung yang sama markas besar para pengambil keputusan. Di masa Orde Baru, semua bisnis tentara dilindungi “doktrin dwifungsi”: menjaga negara sambil berdagang atas nama “ketahanan ekonomi.” Maka tak heran, ada koperasi yang punya kapal, SPBU, bahkan wisma pijat.
Dan di Surabaya, uang itu mengucur ke Gang Dolly, bertransformasi jadi lampu neon, musik dangdut, dan perempuan-perempuan yang dijadikan aset investasi. Semua tercatat, tapi tak pernah dibuka. Semua tahu, tapi tak seorang pun bicara.
Baca Juga: Transmigran Dari TNI dan Polisi, Wamen Viva Yoga: Program Transmigrasi Ikut Menjaga Wilayah NKRI
Kini, Dolly memang sudah ditutup secara resmi. Tapi jangan buru-buru menepuk dada.
Karena bisnisnya tidak mati, ia hanya berganti format. Dari gang sempit ke executive lounge, dari wisma ke spa & karaoke, dari uang koperasi ke rekening “anak perusahaan” BUMN atau yayasan seragam.
Labelnya berganti: “bisnis pariwisata,” “entertainment,” “jasa relaksasi.” Tapi modusnya sama: uang masuk lewat pintu depan, moral keluar lewat pintu belakang.
Beberapa tempat bahkan “di-backup” oleh aparat aktif atau pensiunan dengan dalih keamanan.
Yang dijaga bukan ketertiban, tapi arus uang.
Seorang mantan anggota koperasi di Jawa Timur pernah berkata lirih, “Kami cuma nyetor tiap bulan. Tapi tahu-tahu uangnya dipakai beli hotel. Katanya buat kesejahteraan. Saya cuma bisa senyum.”
Senyum getir yang terdengar seperti doa yang tak pernah dikabulkan.
Baca Juga: Eri Cahyadi Tegaskan Pengawasan Moroseneng Terus Diperketat
Kini, pertanyaannya sederhana tapi pahit: berapa banyak koperasi berseragam yang masih menyimpan rahasia serupa?
Berapa banyak dana pensiun prajurit yang diinvestasikan ke bisnis yang tak pantas disebutkan di apel pagi?
Dan berapa banyak “Mami Rose baru” yang hidup makmur di balik plakat bertuliskan “usaha bersama untuk kesejahteraan anggota”?
Kita sering bangga menyebut tentara sebagai “abdi negara.” Tapi kadang lupa, negara juga bisa jadi “pelanggan tetap” ketika moral dibiarkan sewa kamar.
Jadi, dari koperasi ke kasur, dari simpanan ke dosa, dari seragam ke skandal perjalanan uang rakyat ini panjang dan penuh parfum murahan.
Dolly boleh mati, tapi mental Dolly masih hidup:
berganti nama, berganti tempat, tapi tetap berbisik di antara deru motor patroli dan musik malam yang disponsori oleh iuran prajurit. (roy/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat