In Memoriam: Prof. Bustami Rahman
Guru yang Mengajarkan dengan Teladan, Bukan dengan Kata
Oleh : Agus Trihartono
Alumni Fisip Universitas Jember Angkatan 1988, Guru Besar Fisip UJ, Rektor Universitas Islam Cordoba, Banyuwangi
Baca Juga: Peluang Reaktivasi Jalur KA Bondowoso Menguat, BTP Surabaya Lakukan SID Kalisat–Panarukan
Kyoto, JatimUPdate.id - ADA GURU yang mengajarkan lewat buku dan teori, dan ada guru yang mengajarkan lewat teladan hidupnya.
Prof. Bustami Rahman termasuk yang kedua. Ia hadir bukan sebagai sosok yang banyak bicara, tetapi sebagai pribadi yang menuntun dengan keteladanan. Ucapannya tidak bergemuruh, namun selalu sampai.
Setiap kalimatnya mengandung pertimbangan, kedalaman, dan kejujuran yang lahir dari pengalaman panjang.
Beliau memiliki kemampuan berbahasa yang indah. Diksi yang dipilihnya selalu tepat, elegan, dan mengandung kekuatan yang tenang. Ia tidak berupaya mempengaruhi, tetapi kata-katanya mengajak orang berpikir dan merenung.
Retorikanya tidak untuk menguasai, melainkan untuk menumbuhkan pemahaman bersama. Setiap kali beliau berbicara, yang hadir bukan hanya suara, melainkan nilai (value).
Bagi saya, Prof. Bustami adalah seorang guru dan teladan. Sosok akademisi yang memegang teguh prinsip dan menunaikannya dalam keseharian tanpa banyak deklarasi.
Ia mengajarkan bahwa integritas tidak perlu diumumkan, cukup dijalani. Bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi juga cara memelihara martabat diri dan menghormati kebenaran.
Dari beliau saya pertama kali belajar berpikir kritis, bukan untuk membantah, tetapi untuk memahami secara lebih jernih. Ia mengajarkan bahwa berpikir adalah juga soal tanggung jawab moral, bukan sekadar kemampuan logika.
Baca Juga: Bustami Rahman
Dari beliau pula saya belajar pentingnya memilih guru dan lingkungan akademik yang baik, agar kita dapat menyerap tidak hanya ilmunya, tetapi juga budaya ilmiahnya.
“Pergilah belajar ke luar negeri,” kata Prof Bustami suatu kali dengan nada tenang, “bukan untuk mengejar gelar, tetapi untuk mengenal cara berpikir dan budaya akademik yang berbeda.” Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi penanda arah bagi langkah saya berikutnya.
Prof. Bustami adalah sosok yang meneduhkan. Dalam diskusi, ia mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Dalam perbedaan pandangan, ia menunjukkan bagaimana bersikap bijak tanpa kehilangan ketegasan.
Ia menempatkan ilmu sebagai jalan mencari kebenaran, bukan alat untuk menunjukkan keunggulan. Dalam ketenangan sikapnya, ada keyakinan yang kuat bahwa ilmu dan moralitas harus berjalan beriringan.
Kini, ketika beliau telah tiada, kami menyadari bahwa kehilangan seorang guru bukan hanya kehilangan pengajar, tetapi kehilangan cermin tempat kami belajar melihat diri. Namun nilai-nilai yang beliau tanam tidak ikut pergi. Ia tetap hidup dalam cara kami berpikir, menulis, dan berinteraksi dengan sesama. Nilai-nilai itu menjelma menjadi kebiasaan kecil: menimbang dengan jujur, bekerja dengan hati, dan berpikir dengan rasa tanggung jawab.
Selamat jalan, Prof. Bustami Rahman.
Terima kasih atas keteladanan yang tak pernah Anda ucapkan, tapi kami rasakan.
Baca Juga: Akhmad Munir : Prof Bustami Rahman Mewariskan Semangat Pantang Menyerah Menghadapi Perjuangan Hidup
Terima kasih atas ilmu yang tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi hidup dalam tindakan kami setiap hari.
Anda mungkin telah berpulang, tetapi cara Anda memandang ilmu, berbicara dengan tenang, dan memegang teguh prinsip akan selalu menjadi bagian dari cara kami memahami dunia akademik.
Kami akan terus melanjutkan perjalanan ini dengan semangat yang Anda wariskan: berpikir jernih, bertindak dengan integritas, dan menjaga ilmu sebagai bentuk pengabdian, bukan kebanggaan.
Catatan Redaksi JatimUPdate.id bahwa artikel mengenang alm Prof Bustami Rahman ini secara khusus dikirimkan oleh Agus Trihartono, mantan mahasiswa Prof Bustami khusus dari
Dari Kyoto, di musim gugur 2025. Artikel ini diterima redaksi dini hari Selasa (18/11/2025) beberapa saat ketika penulis mendengar kabar duka wafatnya Prof Bustami Rahman di Yogyakarta, Senin sore (17/11/2025).
Artikel ini sekaligus untuk menghantarkan jenasah alumnis Sosiatri Fisip Universitas Gajah Mada yang kemudian mengabdi di Fisip Universitas Jember dan jadi Rektor Pertama Universitas Bangka Belitung itu dikebumikan di Yogyakarta Selasa pagi (18/11/2025). (rio/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat