Analisis Lirik "Time To Rock" Edane: Ledakan Perlawanan dari Penat Hidup Urban

Reporter : -
Analisis Lirik "Time To Rock" Edane: Ledakan Perlawanan dari Penat Hidup Urban
Edane, dok istimewa

Surabaya,JatimUPDATE.id - Lagu “Time To Rock” milik Edane, yang dirilis tahun 2005, terasa seperti teriakan keras dari seseorang yang terjebak dalam rutinitas hidup yang menguras tenaga. 

Bait awal liriknya langsung menabrak realitas, bekerja banting tulang, tagihan tak kunjung habis, dan waktu yang terasa berjalan terlalu cepat. 

Baca Juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III

Diksi yang dipilih lugas dan spontan, mencerminkan suara asli masyarakat pekerja yang sehari-hari berhadapan dengan tekanan ekonomi dan tuntutan hidup.

Tidak ada pemanis kata, semua ditulis apa adanya. Kalimat “Aku bekerja banting tulang, berusaha 'tuk mencari makan” membuka gambaran tentang kisah panjang perjuangan, yang kemudian dipertegas oleh keluhan sederhana namun tajam, “Tambah lagi banyak tagihan / Apakah hidup memang kejam?”. 

Imaji yang dibangun konkret, mudah dirasakan siapa saja yang hidup di kota besar macet berjam-jam, pulang larut malam, dan ruang istirahat yang makin mengecil.

Di bait berikutnya, lirik menggambarkan suntuknya suasana sosial. “Di tivi gosip politik kejam / Semuanya bikin bosan.” 

Kritiknya tidak meledak lewat retorika panjang, tetapi lahir dari kejenuhan yang paling manusiawi. 

Rasa muak melihat hiruk-pikuk politik tak ada ujung yang terasa makin menjauh dari kehidupan nyata rakyat.

Baca Juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian II 

Secara musikal, kekuatan lagu ini justru meledak ketika chorus masuk. Repetisi “Now, now it’s time to rock” datang sebagai letupan energi, semacam sinyal semua tekanan itu butuh pintu pelarian. 

Di sini posisi musik rock menjadi medium pembebasan, berteriak, menghentak, dan menghancurkan sejenak rasa sesak. Rock bukan hanya genre, tetapi sikap menghadapi realitas.

Struktur liriknya pendek-pendek dan repetitif, mengikuti ritme cepat yang khas heavy rock. Rima tidak teratur, tetapi cukup menancap untuk membantu irama keras yang dibangun musik. 

Tipografi bait yang ringkas mencerminkan napas yang terputus-putu seperti orang yang sedang menahan letupan emosi namun akhirnya tak mampu lagi membendungnya.

Baca Juga: Api di Bahu Kiri (Reuni di Tengah Bayangan Luka)

Tema lagu ini berbicara tentang keletihan mental dan pencarian kebebasan, sesuatu yang relevan lintas zaman. Sebagian orang mungkin menemukannya dalam liburan, olahraga, atau meditasi. 

Namun bagi Edane, jawabannya tegas, musik keras sebagai ruang perlawanan dan katarsis.

“Time To Rock” bukan hanya lagu penghentak kepala. Akan tetapi menjadi pengingat di balik dentuman distorsi gitar, tersimpan jeritan warga yang ingin bernapas di tengah tekanan hidup yang kian menggila. 

Dan untuk itu, kadang kita memang cuma butuh satu kalimat sederhana: Now, it’s time to rock.

Editor : Yuris. T. Hidayat