Catatan Redaksi JatimUPdate.id
Saat NU Diuji Zaman
Oleh : Ponirin Mika
Baca Juga: MWCNU Simokerto Buka Posko Konsumsi Gratis Sambut Napak Tilas Satu Abad NU
Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kabupaten Probolinggo, Alumni Ponpes Nurul Jadid, Jurnalis JatimUPdate.id
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - Nahdlatul Ulama lahir dari semangat besar para ulama Nusantara untuk menjaga Islam yang ramah, membumi, dan selaras dengan nilai kebangsaan.
Didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, NU bukan sekadar organisasi keagamaan, tetapi sebuah gerakan moral yang menempatkan maslahat umat sebagai pedoman utama.
Semangat khidmah, keikhlasan, dan kekuatan tradisi pesantren menjadi fondasi yang membuat NU tumbuh sebagai rumah besar umat, tempat di mana keberagaman dihormati dan moderasi dijunjung tinggi.
Perjalanan panjang NU tidak lepas dari metode dakwah yang khas—santai, merangkul, dan tidak menghakimi.
NU membuktikan bahwa perubahan sosial dapat ditempuh tanpa benturan, tetapi melalui teladan, ketelatenan, dan kearifan lokal.
Dakwah kultural yang dibawa kiai kampung, para pengasuh pesantren, serta beragam banom NU menjadikan Islam tidak terasa asing, melainkan menyatu dalam budaya.
Baca Juga: Kasus Nenek Elina, Pengamat Ajak Sikapi Secara Bijak, Bukan Memperluas Ketegangan Konflik Sosial
Melalui pendekatan inilah NU tumbuh menjadi kekuatan sosial terbesar di Indonesia, sekaligus penjaga tradisi Islam yang wasathiyah.
Zaman bergerak cepat. Tantangan baru—mulai dari digitalisasi, pergeseran nilai generasi muda, rivalitas politik, hingga isu ekstremisme—mengetes keluwesan NU sebagai organisasi yang besar dan majemuk. Kebesaran NU membuat setiap dinamika internal ikut sorotan publik.
Ketegangan pemikiran, perbedaan pandangan, bahkan gesekan antar-kader menjadi bagian dari perjalanan organisasi besar.
Inilah ujian zaman yang harus dijawab NU: bagaimana tetap relevan tanpa kehilangan jati diri, bagaimana mengikuti arus tanpa hanyut, bagaimana merangkul perubahan tanpa meninggalkan tradisi.
Sejarah menunjukkan bahwa NU selalu mampu melewati masa-masa sulit berkat budaya musyawarah, tawadhu’, dan penghormatan kepada para kiai.
Baca Juga: Gus Yahya Ungkap Rasa Syukur Usai Bersilaturahmi dengan Rais Aam di Surabaya
Di saat perbedaan memanas, jalur kekeluargaan kembali menjadi panglima. NU punya tradisi menyelesaikan persoalan secara tenang, jauh dari hiruk-pikuk panggung politik. Ketika dialog dibuka, ketika hati direndahkan, ketika ketulusan dikedepankan—NU menemukan kembali napasnya: kebersamaan. Karena NU bukan hanya organisasi, melainkan keluarga besar. Dan keluarga selalu punya cara untuk saling memaafkan dan melangkah maju.
NU hari ini memang sedang diuji zaman. Namun, sejarah panjangnya mengajarkan bahwa NU adalah organisasi yang kuat karena akar tradisinya, lentur karena kebijaksanaan ulama, dan besar karena keikhlasan para jamaahnya.
Dengan menjaga prinsip moderasi, memperkuat solidaritas internal, serta terus merespons perubahan dengan arif, NU akan tetap menjadi penyangga peradaban bangsa.
Ujian bukan untuk melemahkan, tetapi menguatkan. Dan NU selalu membuktikan bahwa setiap ujian hanya memperkokoh khidmah untuk umat dan negeri. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat