Catatan Redaksi JatimUPdate.id
Koperasi Desa Merah Putih: Kebangkitan Ekonomi Desa Modern
Jakarta, JatimUPdate.id - Di sebuah ruang rapat di Istana Merdeka, Jakarta, awal Maret 2025, Presiden Prabowo Subianto duduk bersama para menterinya membahas sebuah gagasan sederhana namun monumental: menghidupkan kembali koperasi desa.
Baca Juga: Mendes Dorong Pertumbuhan Kopdes, Minimarket Diminta Stop Ekspansi
Dari pertemuan itu lahir program ambisius bernama Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP), yang bertujuan membentuk puluhan ribu koperasi baru di seluruh pelosok Indonesia.
Program ini diluncurkan melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Targetnya luar biasa: menciptakan sekitar 70.000 hingga 80.000 koperasi baru dalam waktu singkat.
Nyatanya, hanya dalam empat bulan sejak pengumuman, tercatat hampir 80.081 koperasi terbentuk baik Koperasi Desa maupun Koperasi Kelurahan, dengan 77.000 di antaranya telah memiliki badan hukum resmi.
Relasi Sygma Research, JatimUPdate.id, TPP, Kades Desa Pepe, Klaten dan Peluncuran KDMP
Momen bersejarah itu terjadi pada Senin, (21/07/2025), Di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Presiden Prabowo Subianto meresmikan sekaligus meluncurkan keberadaan 80.081 unit Koperasi Desa dan Koperasi Kelurahan Merah Putih se-Indonesia terpusat sekaligus Peringatan Hari Koperasi 2025.
Sementara itu, sebelumnya, setelah dipublikasi adanya program pendirian KDMP secara nasional, maka pada Senin (17/03/2025) Tim Redaksi JatimUPdate.id bersama Lembaga Riset, Sygma Reasearch and Consulting dengan Tenaga Pendamping Desa (TPP) melakukan sosialisasi keberadaan KDMP di Desa Pepe, Kecamatan Ngawen, Kab Klaten yang dihadiri 13 Kades, Sekdes dan Direktur BUMDesa.
Kala itu, Sygma Research dan TPP serta kru JatimUPdate.id yang menjadi narasumber mendorong kolaborasi BUMdesa dan KDMP serta memohon para Pemdes untuk mendukung penuh program koperasi desa dari Pemerintah, dimana Sygma Research meyakini ide dan keinginan besar Presiden Prabowo Subianto itu karena menelisik jejak keberhasilan Sang Kakek, RM Margono Djojohadikusumo yang berhasil mendirikan dan membersamai koperasi desa yang bergerak di sektor simpan pinjam, bank desa, lumbung desa, koperasi produksi di era Hindia Belanda.
Kehebatan Koperasi era Hindia Belanda itu bisa dibaca pada buku karya RM Margono dengan judul 10 Tahun Koperasi 1930-1940, yang disalin Sastrawan terkenal H.B Yasin, terbitan Balai Pustaka 1941.
Pada momen puasa itu, Kades Pepe, Kecamatan Ngawen, Kab. Klaten dengan sangat bijaksana mendorong 13 Pemdes serta BUMDesa untuk bisa berkolaborasi dengan KDMP.
"Pemdes Pepe, dan 12 Pemdes di Kecamatan Ngawen, berupaya akan mengawinkan BUMDesa dan Kopdes Merah Putih sehingga bisa berkolaborasi dan bisa Samawa," kata Kades wanita yang mimpin Desa Pepe, Ngawen, Klaten itu, sebagaimana berita yang termuat di JatimUPdate.id (19/03/2025).
Sosialisasi juga dilakukan di Desa Kramat dan Desa Terra Kecamatan Tlanakan, Kab. Pamekasan, Jumat (21/03/2025) agar para Kades tidak galau dan mendukung program KDMP.
Dan saat mendengar proses peluncuran KDMP secara nasional di pusatkan di Klaten, seluruh Kades di Kec. Ngawen merasa bangga, karena sebelum yang lain mendukung Ngawen lebih dulu memberikan kontribusi dukungan.
Koperasi Desa Dan Perintis Koperasi
Keberadaan Koperasi Desa sendiri saat ini bertujuan utama untuk mengembalikan koperasi ke akar ideologisnya sebagai pilar ekonomi rakyat, warisan semangat Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia.
Meski demikian, selain sosok Wapres Pertama RI, Drs Mohammad Hatta yang dikenal sebagai desainer Pasal 33 ayat 1, 2 dan 3 UUD 1945 yang jadi dasar perekonomian Republik Indonesia dimana Koperasi merupakan salah satu soko guru pentingnya, ada sejumlah tokoh perintis koperasi di Indonesia di era Hindia Belanda hingga Kemerdekaan RI.
Para tokoh dibalik keberadaan rintisan institusi koperasi itu antara lain, Raden Aria Wiratmadja, pendiri Koperasi Pertama di Nusantara yang berlokasi di Banyumas, Jawa Tengah. Konon, koperasi simpan pinjam dan badan perkreditan yang kala itu kemudian dikenal sebagai Bank Priyayi itu, pada keberlangsungannya kemudian di era Indonesia merdeka menjadi Bank Rakyat Indonesia, artinya BRI modern saat ini cikal-bakalnya adalah sebuah koperasi yang berdiri di Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas tersebut.
Selanjutnya, ada sosok Dr Sutomo, pendiri Budi Utomo ini juga merupakan pegiat dan perintis Koperasi era Hindia Belanda, baik melalui Budi Utomo, Indonesia Studi Club serta Partai Indonesia Raya (Parindra), semua instrumen yang didirikan Sutomo itu bergerak untuk mendorong perkembangan hidup koperasi.
Tokoh lainnya yaitu Kakek Presiden Ke-8 yaitu RM Margono yang bisa diketahui kebersamaannya melakukan persemaian koperasi era Hindia Belanda dari buku catatan kegiatannya sebagai Inspektur Koperasi era kolonial tersebut.
Baca Juga: Pemerintah Pastikan Dana Desa untuk Kopdes Merah Putih Tak Ganggu Pembangunan Desa
KDMP dan Visi serta Misi Besar Ekonomi Berbasis Kerakyatan era Modern
Di balik program ini ada visi besar membangun kemandirian ekonomi rakyat lewat semangat gotong royong. Misi yang dijalankan meliputi:
- Digitalisasi koperasi, melalui platform Digi Koperasi yang dikembangkan Telkom, memudahkan pengelolaan dan akses layanan.
- Akses modal yang didukung oleh perbankan nasional, termasuk Bank Mandiri dan Bank Himbara, menyediakan layanan keuangan digital bagi koperasi desa.
- Penguatan kelembagaan, memastikan koperasi memiliki badan hukum, tata kelola transparan, serta pengurus terlatih.
- Peningkatan literasi keuangan dan digital, agar koperasi mampu bertahan dan berkembang di era ekonomi modern.
Pelaksanaan Koperasi Merah Putih ibarat orkestra yang mengharmoniskan berbagai pihak. Pemerintah pusat mengatur regulasi, Telkom menghadirkan teknologi digital, perbankan menyediakan akses modal, sementara pemerintah daerah mendampingi langsung koperasi hingga ke desa.
Fokus sektor diarahkan pada bidang vital seperti pangan, energi, dan UMKM—sektor yang langsung menyentuh kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat desa.
Jika berjalan mulus, program ini bisa mengurangi ketimpangan ekonomi antara desa dan kota, meningkatkan kesejahteraan anggota koperasi melalui akses modal dan pasar yang lebih luas, serta memperkuat daya saing nasional. Desa tidak lagi menjadi penonton, melainkan pemain aktif dalam perekonomian nasional.
Namun, di balik optimisme, tantangan nyata menanti. Rendahnya literasi koperasi dan keterbatasan kapasitas pengurus di banyak desa masih menjadi hambatan besar. Masalah klasik seperti tata kelola yang lemah, risiko kredit macet, dan keberadaan “koperasi papan nama” tanpa aktivitas nyata juga masih menghantui.
Baca Juga: Desa Kesulitan Lahan untuk KDMP, Pemerintah Siapkan Regulasi
Digitalisasi yang diharapkan menjadi solusi pun menghadapi kendala akses internet yang belum merata dan resistensi dari sebagian masyarakat yang nyaman dengan cara lama.
Koperasi Merah Putih lebih dari sekadar program pemerintah. Ia adalah gerakan nasional yang berusaha menghidupkan kembali semangat Bung Hatta dalam bentuk koperasi modern dan digital yang berpijak pada nilai gotong royong.
Keberhasilannya akan menjadi tonggak penting dalam sejarah ekonomi Indonesia. Sebaliknya, kegagalannya akan menjadi pelajaran berharga tentang kompleksitas meredefinisi struktur ekonomi dari akar rumput.
Saat ini, harapan tetap menyala: Koperasi Merah Putih bukan hanya jargon politik, melainkan alat nyata perjuangan ekonomi rakyat.
Pada kontek tersebut, Sygma Reserch and Consulting bersama Redaksi JatimUPdate.id dan dukungan penuh Tenaga Pendamping Profesional yang bergerak di desa-desa tetap bersemangat untuk membersamai desa, pemerintah desa serta warga desa guna mendorong tumbuh kembangnya Koperasi Desa Merah Putih.
Harapan besarnya, KDMP bisa bersinergi dan berkolaborasi dengan institusi ekonomi milik Pemdes yaitu BUMDesa, agar keduanya berpadu-padan bersama-sama memberdayakan perekonomian rakyat desa.
Meski terkesan banyak kendala, problematika disana-sini, namun Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementrian Koperasi bersama Kementrian Desa PDT beserta Kementrian Dalam Negeri serta didukung beberapa Kementrian terkait sangat serius untuk membumikan dan mensukseskan Program Koperasi Desa dan Koperasi Kelurahan Merah Putih agar target Maret-April 2026, KDMP dan Koperasi Kelurahan Merah Putih bisa berkegiatan dan Beraktifitas.
Dukungan penuh para pihak khususnya stakeholder di Desa menjadi back bone atas keberhasilan program bernuansa ekonomi kerakyatan ini, bila era Kolonial Hindia Belanda saja ada ratusan koperasi desa bersama bank desa bisa tumbuh dan berkembang, pastinya di Era Peradaban Modern menuju Indonesia Emas 2045 ini KDMP dan Koperasi Kelurahan Merah Putih juga bisa mengulang sukses juga.
Sygma Research dan Redaksi JatimUPdate.id percaya bahwa Desa Adalah Kunci Peradaban Modern Indonesia Emas 2045. (dek/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat