Manifesto Pesantren Peduli Hutan Lahir dari Muktamar Pemikiran 2025 di Budug Asu
Singosari, Malang, JatimUPdate.id - Semangat baru kepedulian lingkungan tumbuh dari lereng Arjuno. Pusat Studi Pesantren (PSP) bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Wonosantri dan KTH Wonosoborejo menggelar Muktamar Pemikiran dan Studi Kawasan di Hutan Budug Asu, Singosari, Kabupaten Malang.
Baca Juga: Wabup Malang Apresiasi Peran Strategis GP Ansor
Sebuah forum pemikiran yang memadukan spiritualitas pesantren, kajian sosial, serta kepedulian ekologis dalam satu ruang dialektika.
Kegiatan ini dirancang untuk mengkaji, menyepakati, dan menyebarluaskan gagasan utama muktamar, terutama terkait isu ekologi dan kemasyarakatan. Ekologi dipandang bukan sekadar wacana lingkungan, tetapi bagian dari problem kemanusiaan yang selama ini terabaikan.
Melalui pendekatan Studi Kawasan, para peserta diajak memahami keragaman persoalan di tiap wilayah, agar bisa merumuskan langkah-langkah berkelanjutan dalam bingkai tanggung jawab sosial, moral, bahkan spiritual.
Muktamar ini lahir dari semangat khidmah lil ummah—pengabdian untuk masyarakat—sekaligus upaya memperkuat empati sosial dan memperdalam ilmu-ilmu kemasyarakatan, baik tradisi lama maupun pengetahuan baru.
---
Dua Hari yang Penuh Perbincangan, Doa, dan Pergerakan
Digelar selama dua hari, Sabtu–Minggu, 22–23 November 2025, rangkaian kegiatan dimulai dengan Tawasul Kebangsaan dan doa bersama untuk para pejuang hutan. Kajian ekologis mendalam dipandu oleh Gus Fatkhul Ulum, diikuti diskusi sosio-kultural bersama Winartono M.Ikom, serta Ngalas—ngaji seputar hutan—bersama Abdul Wahab. Malam hari ditutup dengan Mbalah Maqolah bersama Edi Purwanto, M.S, mengkaji pandangan ulama Nusantara tentang pertanian.
Esok paginya, peserta berbagi pengalaman, membentuk komisi, lalu melakukan sidang pembahasan rekomendasi.
Gus Achmad Ubaidillah, Direktur Pusat Studi Pesantren, memantik semangat melalui orasi kepesantrenan sebelum rekomendasi Muktamar dibacakan bersama sebagai penutup kegiatan.
Tak berhenti pada wacana, para peserta kemudian bersama-sama menanam pohon sebagai simbol lahirnya gerakan baru Pesantren Peduli Hutan.
---
Budug Asu: Titik Awal Gerakan dari Lereng Arjuno
Sejak pagi hari pertama, puluhan santri, kiai muda, mahasiswa, akademisi, perangkat desa, aktivis, hingga peneliti berbondong-bondong naik ke Hutan Budug Asu.
Lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan: Budug Asu merupakan hutan lindung yang kini dikelola resmi oleh KTH Wonosantri berdasarkan SK Menteri, dengan tujuan utama menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Dalam forum itu, peserta langsung dihadapkan pada “hidangan permasalahan”: rendahnya kesadaran kepemilikan hutan, ketergantungan pada pemodal, renggangnya relasi petani–pembuat kebijakan, hingga masih adanya pihak yang enggan melepaskan kontrol manfaat hutan kepada masyarakat.
Selama dua hari di tengah rimbunnya hutan, para peserta membaca, menulis, berdiskusi, dan merumuskan masa depan pengelolaan hutan serta regenerasi pejuang lingkungan agar perjuangan tidak terputus. Dari Budug Asu, gerakan ini diharapkan menyebar lebih luas.
Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik, Mahasiswa UNITRI Berdayakan Desa Jombok
---
Nawa Manifesto: Kesepakatan Baru dari Budug Asu
Di area diskusi utama—tenda-tenda peserta nyaris selalu kosong karena mereka sibuk berdialektika—lahir sebuah kesepakatan penting. Setelah diskusi panjang, pada Minggu siang, 23 November 2025, peserta Muktamar menghasilkan “Nawa Manifesto Hutan Budug Asu”, sembilan rekomendasi strategis sebagai peta jalan gerakan pesantren peduli lingkungan:
1. Mendirikan Trisamuhita Desa sebagai penegasan keberpihakan pesantren kepada masyarakat hutan.
2. Menyusun berbagai produk pengetahuan sadar lingkungan.
3. Mendorong kebijakan kurikulum pesantren berbasis ekologi.
4. Mengajak para akademisi berperan aktif dalam isu lingkungan.
5. Membentuk Kalam (kelompok kajian alam) untuk menumbuhkan dan merawat kesadaran ekologis.
6. Membuat database alumni pesantrenyang fokus pada isu lingkungan.
7. Menggalakkan kampanye pesantren ramah lingkungan melalui media sosial.
8. Mengadakan pelatihan untuk membentuk muharik lingkungan di pesantren.
9. Menyediakan ruang apresiasi bagi praktik baik santri dan pesantren dalam menjaga alam.
Pewarta : Ilham TPP Singosari. (dek/mmt)
---
Editor : Miftahul Rachman