Mereka yang Memakan Bumi dan Kita yang Ditelan Lumpur

Reporter : -
Mereka yang Memakan Bumi dan Kita yang Ditelan Lumpur

Oleh: Hadipras

JatimUPdate.id - Kita sering membayangkan kekejaman seperti adegan dalam film thriller: gelap, berdarah, penuh teriakan. Tetapi kekejaman paling nyata justru sering kali terjadi dalam kesenyapan.
Dalam deru alat berat yang membelah perut bumi saat fajar. Dalam raungan truk-truk pengangkut batubara dan kayu glondongan yang melintasi desa saat anak-anak belajar.
Kekejaman itu berwujud angka-angka statistik yang dingin: salah satunya "lebih dari 1.000 orang meninggal di Sumatera" akibat bencana yang dipicu kerakusan. Itu bukan sekadar data; itu adalah potret penderitaan yang diwariskan.

Mereka, para penghisap, adalah pembunuh berdarah dingin. Metafora ini bukan hiperbola. Darah dingin, karena keputusan mereka diambil di ruang ber-AC, berdasarkan spreadsheet dan proyeksi laba.

Setiap keputusan untuk menebang lebih luas, mengeruk lebih dalam dan ganas, atau mengabaikan standar keselamatan, adalah jarum jam yang bergerak menuju bencana.
Mereka tidak memegang senjata, tetapi kontrak. Mereka tidak melihat air mata, tetapi grafik saham yang naik.

Korban mereka tidak roboh tertembak, tetapi terpenjara dalam kemiskinan, tersedu oleh batuk kronis, atau hilang terkubur longsor dan banjir bandang yang sebenarnya bisa diramalkan.
Kisahnya adalah kisah klasik "Rakyat Menggugat" yang tak pernah usai. Di satu sisi, segelintir orang kaya yang rakus, yang menganggap gunung, hutan, dan sungai sebagai angka di portofolio investasi.

Alam hanya "sumber daya" yang harus dieksploitasi sampai habis, untuk memuaskan nafsu yang tak pernah puas akan lebih.

Di sisi lain, rakyat kecil yang hidupnya bergantung pada belas kasihan alam itu. Nelayan yang lautnya tercemar limbah. Petani yang sawahnya retak karena aliran air dibendung untuk kepentingan pabrik. Ibu-ibu yang harus berjalan berkilo-kilo meter mencari air bersih, karena sumber mata airnya telah dikomersialisasi.

Penderitaan itu multidimensi. Bukan hanya kehilangan mata pencaharian, tapi juga kehilangan masa depan. Anak-anak bernapas dalam udara berdebu dan beracun, mewarisi penyakit, bukan warisan.

Mereka menjadi korban dua kali: korban kerusakan lingkungan hari ini, dan korban ketidakadilan yang akan membelenggu mereka esok. Sementara itu, para pelaku kerap berlindung di balik jargon "pembangunan" dan "penyerapan tenaga kerja", seolah-olah kemakmuran segelintir orang bisa menjadi kafan bagi nyawa ribuan orang lain.
Lalu, di mana letak kegugahan hati kita?

Film thriller membuat kita berdebar, lalu lega ketika film berakhir.
Tetapi thriller nyata ini tidak memiliki credit roll. Ia terus berlanjut. Setiap kali kita diam melihat eksploitasi berlebihan, setiap kali kita menerima begitu saja pola konsumsi yang boros sumber daya, kita secara pasif menjadi penonton yang menyetujui alur ceritanya, dambil hanya sekedar menggerutu.

Kesadaran lingkungan dan kemanusiaan adalah dua sisi mata uang yang sama. Tidak mungkin kita membela kemanusiaan tanpa membela bumi yang menjadi rumah bersama.

Menggugat keserakahan para perampok sumber daya bukanlah sikap anti-kemajuan, melainkan perlawanan untuk memastikan bahwa kemajuan itu tidak dibangun di atas kuburan massal rakyatnya sendiri.

Mari kita ubah narasinya. Dari "rakyat menggugat" menjadi "rakyat membangun kembali". Kesadaran itu dimulai dari hal kecil: mempertanyakan asal-usul yang kita konsumsi, mengurangi jejak ekologis, mendukung suara-suara korban, dan menolak untuk menjadi bagian dari sistem yang memuja keserakahan.

Karena di thriller nyata ini, kita semua adalah pemainnya. Kita bisa memilih peran: menjadi penonton yang diam, atau menjadi karakter yang bangkit dan berkata, "Cukup. Darah dinginmu tidak akan lagi membekukan hati kami."
Bumi ini bukan warisan dari nenek moyang, melainkan pinjaman dari anak cucu kita. Dan pinjaman itu sedang dirampok di depan mata kita.

Sudah waktunya kita bersatu menjadi penjaga yang tak hendak tidur, sebelum kita semua—tanpa pandang kaya atau miskin—akhirnya ditelan oleh lumpur keserakahan yang kita biarkan merajalela.

Coba putat lagu "Heart of Steel" dari band heavy metal Manowar, yang dirilis pada tahun 1988 sebagai bagian dari album "Kings of Metal".

Lirik lagu ini berbicara tentang kekuatan, keberanian, dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup. Lagu ini juga memiliki tema tentang perjuangan dan pengorbanan untuk mencapai tujuan dan mempertahankan kehormatan.
Pesan dari lagu ini adalah untuk menginspirasi dan memotivasi pendengar untuk menjadi kuat, berani, dan tidak menyerah dalam menghadapi kesulitan. Lagu ini juga mengandung pesan tentang pentingnya keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan untuk mencapai tujuan.
Beberapa baris lirik yang terkenal dari lagu ini adalah:

"Ke dalam api, ke dalam malam
Berjuang untuk kehormatan, berjuang untuk hak
Dengan hati baja, kita akan mengambil malam
Dan kita tidak akan pernah menyerah, kita tidak akan pernah kalah".
Salam metal!!

Editor : Redaksi