Haul Gus Dur ke-16, PKB Bondowoso Teguhkan Ideologi Perjuangan NU dan Kebangsaan
Bondowoso, JatimUPdate.id, – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bondowoso menggelar haul ke-16 Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di Kantor DPC PKB Bondowoso, Jalan Santawi, Kelurahan Tamansari, Selasa (30/12/2025).
Baca Juga: BREAKINGNEWS: Jembatan Sukowiryo di Jalan Mastrip Bondowoso Ambrol Satu Sisi, Akses Dibatasi Ketat
Peringatan haul ini tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan untuk mengenang wafatnya Gus Dur pada 30 Desember 2009, tetapi juga dimaknai sebagai momentum refleksi ideologis dan penguatan arah perjuangan politik kader PKB di Bondowoso.
Di Bondowoso, PKB selama ini menjadi salah satu kekuatan politik utama di DPRD yang aktif mendorong agenda kebangsaan, keumatan, dan pembangunan daerah.
Haul Gus Dur berlangsung khidmat dan dihadiri jajaran pengurus DPC PKB, anggota Fraksi PKB DPRD Bondowoso, badan otonom, serta simpatisan. Doa bersama dan tahlil dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Gus Dur, sosok ulama sekaligus negarawan yang dikenal konsisten memperjuangkan nilai kemanusiaan, pluralisme, dan demokrasi.
Ketua DPC PKB Bondowoso, Ahmad Dhafir, menegaskan bahwa haul Gus Dur memiliki makna strategis bagi konsolidasi kader, khususnya dalam mengingat kembali sejarah lahirnya PKB sebagai partai yang digagas langsung oleh Gus Dur.
“Yang memprakarsai lahirnya PKB itu Gus Dur. Pada awal Reformasi 1998, beliau sebagai Ketua Umum PBNU menangkap aspirasi warga NU agar memiliki saluran politik. Dari situ dibentuk Tim 5, Tim 9, hingga akhirnya lahir PKB,” ujar Ahmad Dhafir.
Politisi senior yang juga Ketua DPRD Bondowoso itu menjelaskan, secara filosofis, NU dan PKB memiliki makna yang saling melengkapi. Jika Nahdlatul Ulama dimaknai sebagai kebangkitan ulama, maka PKB merupakan kebangkitan bangsa.
Baca Juga: Retribusi Administrasi Dihapus, Raperda Pajak Baru di Bondowoso Permudah Layanan Publik
“NU fokus pada penguatan keagamaan dan akidah Ahlussunnah wal Jamaah, sementara PKB menjadi alat perjuangan politik NU di ranah pemerintahan. Ini sah secara historis, karena NU punya peran besar dalam lahirnya NKRI,” tegasnya.
Ia juga menegaskan komitmen PKB terhadap Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan warisan langsung dari nilai perjuangan NU dan Gus Dur. Menurutnya, nilai tersebut menjadi landasan kader PKB dalam menjalankan peran politik, termasuk di daerah.
“Pancasila sudah final, NKRI harga mati. Itu bukan sekadar jargon, tetapi tanggung jawab historis NU dan PKB dalam menjaga Indonesia,” katanya.
Lebih jauh, Ahmad Dhafir menilai warisan terbesar Gus Dur tidak hanya terletak pada aspek politik, tetapi pada nilai kemanusiaan dan persaudaraan lintas identitas yang hingga kini masih relevan, termasuk dalam menjaga harmoni sosial di Bondowoso yang majemuk.
Baca Juga: Bupati Bondowoso Resmi Buka Festival Ramadhan 2026, Dorong Ekonomi Rakyat dan Pelestarian Budaya
“Gus Dur mengajarkan kebersamaan dan persaudaraan tanpa sekat. Hadir untuk semua, tanpa pandang bulu. Persaudaraan itu bukan hanya soal agama, tetapi juga sebangsa dan kemanusiaan,” ungkapnya.
Melalui peringatan haul ini, DPC PKB Bondowoso berharap seluruh kader, khususnya anggota fraksi, semakin memahami posisi dan tanggung jawabnya sebagai representasi perjuangan politik NU di pemerintahan daerah.
“Sejalan dengan jargon PKB, kita harus maju tak gentar membela yang benar,” pungkas Ahmad Dhafir. (ries/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat