Hetifah Sjaifudian: Sekolah Tahan Bencana Harus Jadi Standar Baru
Jakarta, JatimUPdate.id - Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mendorong agar proses pemulihan infrastruktur pendidikan pascabencana tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik, tetapi juga menjadikan standar sekolah tahan bencana sebagai acuan utama pembangunan kembali di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurut Hetifah, bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi pada 25 November 2025 menjadi pelajaran penting bahwa banyak sekolah masih rentan terhadap risiko alam. Karena itu, rekonstruksi sekolah harus dirancang lebih kuat, aman, dan adaptif terhadap potensi bencana di masa depan.
“Pemulihan infrastruktur pendidikan tidak boleh sekadar mengembalikan kondisi seperti semula. Kita harus membangun sekolah yang lebih tangguh dan aman bagi anak-anak,” ujar Hetifah di Jakarta, Sabtu (18/1/2026).
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per 14 Januari 2026 mencatat 4.639 satuan pendidikan terdampak bencana, dengan lebih dari seribu sekolah mengalami kerusakan berat hingga total. Kondisi tersebut mengganggu proses belajar 683.259 siswa serta aktivitas puluhan ribu guru dan tenaga kependidikan.
Hetifah menilai, meski sebagian besar sekolah sudah kembali digunakan, kualitas bangunan dan lingkungan belajar pascabencana harus menjadi perhatian utama. Sekolah yang direhabilitasi perlu memenuhi standar keselamatan, sanitasi, dan kelayakan ruang belajar.
Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang telah melakukan pembersihan sekolah, membangun ruang kelas darurat, serta menyalurkan bantuan pendidikan. Namun, fase rekonstruksi jangka menengah dan panjang, menurutnya, membutuhkan perencanaan yang lebih komprehensif.
“Sekolah yang dibangun kembali harus memperhitungkan peta risiko bencana. Ini penting agar anak-anak tidak kembali belajar di ruang yang berbahaya,” tegasnya.
Selain bangunan utama, Hetifah juga menyoroti pentingnya infrastruktur pendukung, seperti akses jalan ke sekolah, drainase, dan fasilitas air bersih, yang sering kali rusak akibat bencana dan menghambat aktivitas belajar.
“Sekolah tahan bencana adalah investasi masa depan. Dari sanalah kita memastikan pendidikan tetap berjalan meski di tengah tantangan alam,” pungkas Hetifah (*)
Editor : Redaksi