Dari Lereng Gumitir ke Pasar Dunia

Reporter : -
Dari Lereng Gumitir ke Pasar Dunia
Dapit Yusra Kusuma, S.Sos, M.M. Volunteer pada Yayasan Habilis Indonesia Madani dan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa PDT RI.

 

Oleh : Dapit Yusra Kusuma, S.Sos, M.M.

Baca Juga: Mendes Dorong Pertumbuhan Kopdes, Minimarket Diminta Stop Ekspansi

Volunteer pada Yayasan Habilis Indonesia Madani dan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa PDT RI.

 

Silo, Jember, JatimUPdate.id - Pagi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, tak pernah benar-benar sepi.

Di lereng Gumitir yang hijau, aktivitas warga bergerak pelan namun pasti. Sebagian petani memeriksa biji kopi yang dijemur, sebagian lain bersiap ke lahan jagung.

Di sudut desa, homestay dan Cafe milik BUMDes tidak pernah sepi dari pengunjung. Semua berjalan dalam satu irama: ekonomi desa yang hidup.

Beberapa tahun lalu, Sidomulyo hanyalah desa agraris seperti kebanyakan desa di Jember. Kopi memang tumbuh subur, tapi petani kerap terjebak pada harga yang ditentukan tengkulak.

Nilai tambah lebih banyak dinikmati di luar desa. Situasi itu perlahan berubah ketika Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mulai membangun sistem usaha yang lebih rapi, dari hulu ke hilir.

Perubahan paling mencolok terjadi saat kopi robusta Sidomulyo berhasil menembus pasar ekspor Mesir. Sebanyak satu kontainer kopi dilepas langsung dari desa, tanpa melalui perusahaan besar di kota.

Bagi petani, ini bukan sekadar ekspor. Ini soal posisi tawar. “Kalau dulu jual cepat karena butuh uang, sekarang lebih tenang. Harga jelas, kualitas dihargai,” begitu pengakuan cak murkahe, salah satu petani kopi yang juga pendamping lokal desa yang ikut serta membidani lahirnya bumdes dan koperasi desa di sidomulyo, silo.

Koperasi menjadi simpul utama. Ia mengonsolidasikan produksi, menjaga mutu, hingga membuka akses pembiayaan melalui LPDB-KUMKM.

Baca Juga: Pemerintah Pastikan Dana Desa untuk Kopdes Merah Putih Tak Ganggu Pembangunan Desa

Data dari Kementerian Koperasi menunjukkan, koperasi yang terhubung langsung dengan pasar memiliki tingkat keberlanjutan usaha lebih tinggi dibanding koperasi simpan pinjam semata.

Sidomulyo memilih jalur itu.
Namun cerita Sidomulyo tak berhenti di kopi. BUMDes Sidomulyo mengambil peran berbeda, tetapi saling melengkapi. Saat koperasi mengurus pasar, BUMDes mengelola aset desa.

Salah satunya melalui penanaman jagung di lahan PAT (Perluasan Areal Tanam) seluas 60 hektare. Langkah ini menjadi upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus sumber pendapatan alternatif.

Jagung dipilih bukan tanpa alasan. Komoditas ini relatif cepat panen, mudah diserap pasar lokal, dan bisa menjadi penyangga ekonomi ketika harga kopi fluktuatif. Di tengah ketidakpastian iklim dan pasar, diversifikasi menjadi kata kunci.

BUMDes juga mengelola unit usaha homestay dan kafe wisata edukatif. Letak Sidomulyo yang strategis, dekat kawasan perkebunan dan jalur wisata, menjadi peluang.

Homestay dan kafe edukatif tak hanya menyumbang Pendapatan Asli Desa, tetapi juga menggerakkan ekonomi rumah tangga. Ibu-ibu terlibat dalam pengelolaan konsumsi, pemuda desa menjadi pemandu lokal wisata edukatif.

Baca Juga: Desa Kesulitan Lahan untuk KDMP, Pemerintah Siapkan Regulasi

Di sinilah letak kekuatan Desa Sidomulyo: pembagian peran yang jelas. Koperasi mengurusi produksi dan pasar. BUMDes mengelola aset dan layanan. Keduanya bertemu pada satu tujuan: ekonomi desa yang mandiri.

Model ini menjadi semakin penting di tengah fakta bahwa ruang fiskal desa kian terbatas. Dana desa tak lagi bisa menjadi tumpuan tunggal. Data Kementerian Desa menunjukkan banyak desa mulai diarahkan untuk memperkuat pendapatan mandiri. Sidomulyo sudah melangkah lebih dulu.

Tentu, tantangan belum selesai. Skala usaha masih perlu diperbesar. Hilirisasi produk kopi belum sepenuhnya optimal. Teknologi pertanian masih harus ditingkatkan. Namun Sidomulyo telah membuktikan satu hal penting: dengan "tangan dingin" Kepala desa Sidomulyo, yang kerap dipanggil dengan sebutan Mas Kades Kamiludin, desa bisa menjadi pelaku ekonomi, bukan sekadar penerima program.

Dari biji kopi yang dijemur, dari jagung yang tumbuh di lahan PAT, dari para pengunjung kafe Bumdes dibawah rindangya pohon pohon besar, hingga tamu yang menginap di homestay desa, ekonomi Sidomulyo bergerak dari bawah. Pelan, tetapi berakar kuat.

Dari lereng Gumitir, Desa Sidomulyo mengirim pesan sederhana namun tegas kepada desa desa di seluruh Indonesia: ekonomi rakyat bisa tumbuh, jika desa mampu menggali potensi yang dimiliki, serta diberi ruang untuk mengatur dirinya sendiri.

Penulis adalah Volunteer pada Yayasan Habilis Indonesia Madani dan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa PDT RI.

Editor : Redaksi