Bertransformasi Lewat TPS 3R, Desa Kilensari Targetkan Naik Kelas Jadi Desa Peduli Lingkungan

avatar M Aris Effendi
  • URL berhasil dicopy
Bangunan TPS 3R Desa Kilensari menjadi simbol transformasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat. (Foto atas)  Petugas KSM dan warga lakukan pengangkutan sampah di Desa Kilensari, Kec. Panarukan, Situbondo. (Foto bawah)
Bangunan TPS 3R Desa Kilensari menjadi simbol transformasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat. (Foto atas) Petugas KSM dan warga lakukan pengangkutan sampah di Desa Kilensari, Kec. Panarukan, Situbondo. (Foto bawah)

 

Situbondo, JatimUPdate.id, – Pemerintah Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, terus melakukan transformasi pengelolaan sampah sebagai upaya mendorong desa keluar dari predikat kumuh dan menuju desa peduli lingkungan.

Program ini digencarkan sejak akhir 2022, bertepatan dengan awal masa jabatan Kepala Desa Kilensari, Sugiono.

Upaya pembenahan pengelolaan sampah sejatinya telah dirintis sejak 2022. Saat itu, pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kilensari melakukan studi banding ke Desa Ponggok, Kabupaten Klaten, yang dikenal berhasil mengelola potensi desa secara inovatif.

Namun, rencana tindak lanjut dari hasil studi tersebut belum berjalan optimal akibat dampak pandemi Covid-19 serta keterbatasan anggaran desa.

Memasuki tahun 2023, pengelolaan sampah mulai dijalankan oleh BUMDes. Meski demikian, pada tahap awal, pergerakannya dinilai belum signifikan.

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Desa Kilensari kemudian mengambil langkah strategis dengan membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai motor penggerak utama pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga.

“Sejak awal kami menyadari, jika hanya mengandalkan BUMDes, pergerakannya tidak akan maksimal. Karena itu kami inisiasi pembentukan KSM agar masyarakat terlibat langsung dan merasa memiliki program pengelolaan sampah ini,” ujar Kepala Desa Kilensari, Sugiono.

Namun, langkah tersebut tidak berjalan mulus. Pemerintah desa sempat menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat, bahkan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Tak sedikit pula yang menilai pemerintah desa tengah “berbisnis” dengan warganya sendiri.

Tantangan lain yang tak kalah besar adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya.

“Penolakan itu kami jadikan bahan evaluasi. Mengubah pola pikir masyarakat soal sampah memang tidak bisa instan. Karena itu kami memilih pendekatan yang persuasif dan berkelanjutan,” tegas Sugiono.

Sebagai bentuk keseriusan, pada 2023 Pemerintah Desa Kilensari mengalokasikan Dana Desa (DD) untuk pengadaan 200 unit tong sampah yang disebar di lingkungan permukiman warga.

Upaya ini diperkuat dengan sosialisasi secara door to door, serta pendekatan melalui forum-forum informal seperti warung kopi dan kegiatan pengajian di tingkat RT.

IDUL FITRI 1447H JATIM UPDATE

Motor penggerak KSM pengelolaan sampah Desa Kilensari, Etti Nova Puspita Reni atau yang akrab disapa Ustadzah Etik, menegaskan bahwa tantangan utama pengelolaan sampah bukan hanya soal sistem, melainkan perubahan perilaku masyarakat.

“Mengelola sampah itu butuh perjuangan panjang. Yang kita ubah bukan hanya sistemnya, tapi perilaku masyarakatnya. Jadi tidak bisa instan,” ujarnya.

Menurut Ustadzah Etik, kunci keberhasilan terletak pada pendekatan yang tepat dan menyesuaikan karakter masing-masing warga. “Kami harus cerdas dan sabar. Ada warga yang bisa diajak lewat edukasi, ada yang lewat keteladanan, bahkan ada yang melalui pendekatan keagamaan,” jelasnya.

Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Hingga akhir 2025, jumlah pelanggan layanan pengelolaan sampah di Desa Kilensari telah mencapai hampir 1.000 kepala keluarga dari total sekitar 5.000 KK. Iuran yang diterapkan pun disesuaikan dengan kondisi ekonomi warga, yakni berkisar antara Rp15.000 hingga Rp20.000 per bulan.

Keberadaan TPS 3R kini menjadi tulang punggung sistem pengelolaan sampah Desa Kilensari. Fasilitas ini baru dibangun pada tahun 2025 melalui dukungan anggaran APBD Kabupaten Situbondo Tahun 2025, dan mulai dimanfaatkan sebagai pusat pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat, dari hulu hingga hilir.

Ketua KSM Desa Kilensari, Yulizar Iswandani Selalu, menegaskan bahwa tujuan utama program ini bukan semata-mata soal iuran, melainkan membangun budaya sadar lingkungan di tengah masyarakat.

“Target minimal kami adalah mengubah Desa Kilensari dari desa berpredikat kumuh menjadi desa sadar lingkungan. Jika kesadaran itu tumbuh, maka kebersihan, kesehatan, dan kualitas hidup warga akan ikut meningkat,” pungkasnya. (ries/yh)