Raperda Air Limbah, Dosen ITS Kritik Ketergantungan Tangki Septik

avatar Ibrahim
  • URL berhasil dicopy
Eddy Setiadi Soedjono, dok Jatimupdate.id
Eddy Setiadi Soedjono, dok Jatimupdate.id

Surabaya,JatimUPdate.id - Komisi B DPRD Surabaya kembali menggodok Raperda Pengelolaan Air Limbah Domistik, menghadirkan Dosen Teknik Lingkungan ITS, Eddy Setiadi Soedjono, Rabu (4/2).

Eddy mengaku, dalam forum menyoroti pembuangan air besar atau tinja yang masih menggunakan tangki septik.

"Kami banyak sekali mendiskusikan masalah tangki septik. Faktanya walaupun Jawa Timur provinsi kelima yang bebas buang air besar sembarangan, berarti kasarnya itu semua orang Surabaya tidak lagi kemana-mana buang air besar." kata Eddy.

Eddy menyebut pengelolaan limbah melalui tangki septik dianggap tidak relevan.

Pengelolaan air limbah tambahnya, saat ini seyogianya diolah dengan pipa.

"Tapi kan bentuk pembuangannya itu masih ke tangki septic, padahal bentuk tertinggi ya, terbaik daripada suatu pengolahan air limbah itu kan lewat perpipaan." beber dia.

Eddy menyayangkan, pengelolaan air limbah mayoritas dikelola oleh masyarakat secara mandiri.

Sedangkan kabupaten/kota Jawa Timur tak satupun Pemda yang mengelola air limbah melalui sistem pipa.

IDUL FITRI 1447H JATIM UPDATE

"Di Jawa Timur itu belum ada kabupaten kota yang sudah punya sistem perpipaan air limbahnya yang dikelola oleh pemerintah daerah. Memang ada cukup banyak, tapi kan dikelola oleh masyarakat yang sanitasi berbasis masyarakat," jelasnya.

Maka dari itu, ia mendorong Pemda tidak cuma mengola air minum saja, akan tetapi juga limbah serta sampah.

"Mestinya semuanya dikelola oleh pemerintah, kenapa hanya air minum yang dikelola, ya gentle ya! Gak air minumnya, gak air limbah, gak sampahn itu udah urusan mereka (Pemda)," tegasnya.

Sebab lanjut Eddy jika pengelolaan limbah tetap berbasis masyarakat, mereka belum teredukasi mengenai dampaknya.

"Kasihan masyarakat Tidak tahu banyak mengenai penyakit-penyakit yang ada di air limba disuruh berbasis masyarakat kan aneh. iya tidak fair lah," urai Eddy Setiadi Soedjono. (Roy)