Revalidasi UNESCO di Depan Mata, Bapperida Bondowoso Yakin Ijen Geopark Mampu Bertahan
Bondowoso, JatimUPdate.id – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Bondowoso, Anisatul Hamidah, menegaskan optimisme pemerintah daerah dalam menghadapi revalidasi UNESCO Global Geopark (UGG) Ijen.
Baca Juga: BREAKINGNEWS: Jembatan Sukowiryo di Jalan Mastrip Bondowoso Ambrol Satu Sisi, Akses Dibatasi Ketat
Optimisme itu disampaikannya dalam Talkshow Seni dan Budaya yang digelar JMSI Cabang Bondowoso, Jumat (6/2/2026).
Ia menyebut forum tersebut sebagai momentum menyatukan kegelisahan berbagai pihak menjadi kekuatan bersama.
“Ketika semua kegelisahan lalu berbicara, pasti akan ada solusi,” ujar Anisatul, disambut tepuk tangan peserta forum.
Menurutnya, pertanyaan besar tentang mampukah Ijen Geopark bertahan dalam revalidasi UNESCO sejatinya sudah terjawab dengan satu kata: mampu. Namun, optimisme itu harus dibangun melalui kebersamaan, keyakinan, serta pemanfaatan seluruh potensi daerah.
“Kita harus bisa, kita harus mampu mempertahankan. Dengan apa? Dengan kebersamaan dan keyakinan memanfaatkan potensi yang ada,” tegasnya.
Anisatul mengungkapkan, dalam beberapa waktu terakhir dirinya intens berkoordinasi dengan perangkat daerah yang mengampu revalidasi Geopark Ijen. Meski di luar muncul anggapan belum sinkron, dalam forum resmi seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) disebut telah memahami tugas pokok dan fungsi masing-masing.
“Masing-masing sudah tahu apa yang harus dilakukan. Tinggal bagaimana ini kita sampaikan ke masyarakat bahwa kita bisa,” katanya.
Ia menekankan pentingnya pendekatan lintas sektor, baik di internal pemerintah maupun dengan pihak eksternal. Menurutnya, wawasan geopark tidak boleh berhenti sebagai konsep, tetapi harus hidup dalam pikiran dan tindakan seluruh elemen masyarakat Bondowoso.
“Wawasan geopark itu harus ada dalam pikiran dan jiwa masyarakat. Semua sesuai peran masing-masing, menghidupkan kembali,” ujarnya.
Baca Juga: Retribusi Administrasi Dihapus, Raperda Pajak Baru di Bondowoso Permudah Layanan Publik
Bapperida, lanjutnya, juga mendorong transparansi perkembangan kepada publik. Setiap kemajuan, sekecil apa pun, harus disampaikan agar masyarakat merasa terlibat dalam penguatan geopark.
“Sekecil apa pun perkembangan, sampaikan kepada masyarakat. Sekecil apa pun layanan yang mendukung geopark, ayo kita berikan informasi,” katanya.
Dalam perencanaan jangka menengah, Pemkab Bondowoso telah memasukkan penguatan geopark dalam tahapan Musrenbang hingga 2027. Meski kondisi fiskal daerah terbatas, kekuatan terbesar Bondowoso disebut terletak pada masyarakatnya.
“Kita sudah menghitung tahapan perencanaan sampai tahun 2027. Dengan segala kekuatan fiskal yang ada, yang bisa kita kuatkan adalah masyarakat,” tegasnya.
Anisatul juga memaparkan program unggulan “Bondowoso Sebenarnya” yang melibatkan lebih dari 50 perguruan tinggi melalui kerja sama penelitian dan pengabdian. Menurutnya, pembangunan berbasis geopark harus didukung data dan riset.
“Semua kebijakan, termasuk yang berhubungan dengan geopark, harus berbasis riset dan data,” ujarnya.
Baca Juga: Bupati Bondowoso Resmi Buka Festival Ramadhan 2026, Dorong Ekonomi Rakyat dan Pelestarian Budaya
Ia menambahkan, kawasan Ijen memiliki potensi geologi luar biasa. Dari total 22 titik letusan anak gunung, baru tujuh yang disurvei akademisi dan dikenal sebagai Seven Summit. Sisanya dinilai masih menyimpan potensi besar yang belum tergarap.
“Masih banyak yang belum terjamah. Itu akan menjadi keberkahan besar untuk Bondowoso ke depan,” katanya.
Secara konkret, Desa Kalianyar ditetapkan sebagai pilot project International Community Development bekerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tujuh guru besar disebut telah turun langsung mengeksplorasi potensi desa, termasuk penguatan UMKM kopi hingga legalitas usaha.
“Kami tidak merasa sendiri. Ada Unesa, ada UI, dan perguruan tinggi lain yang siap memperkuat Bondowoso,” tandasnya.
Ia menegaskan, sinergi pemerintah, sejarawan, desa, hingga komunitas menjadi kunci agar Ijen Geopark tidak sekadar bertahan dalam revalidasi UNESCO, tetapi benar-benar tumbuh sebagai pusat pembangunan berbasis geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity. (ries/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat