Ramadan, Tanda Baca dalam Hidup Sosial

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Hijrah Saputra   Humas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, alumnus S3 Universitas Jember
Hijrah Saputra Humas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, alumnus S3 Universitas Jember

 

Oleh: Hijrah Saputra

Humas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, alumnus S3 Universitas Jember

 

 

Bondowoso, JatimUPdate.id - Ramadan selalu datang tanpa benar-benar mengejutkan. Ia tidak mengetuk pintu dengan suara keras.

Tidak pula memaksa orang berdiri tegap menyambutnya. Ia hadir seperti pergeseran udara yang hampir tak terasa, tetapi cukup untuk membuat orang menyesuaikan napas.

Awal masuk Ramadan, warung kopi yang biasanya ramai sejak subuh itu tampak tutup. Bangku-bangku kayu tak kelihatan. Tidak ada kepulan asap rokok, tidak ada gelas yang beradu, tidak ada tawa yang memecah pagi.

Jalanan masih dilalui orang-orang seperti biasa, tetapi langkah mereka lebih terukur. Percakapan terdengar seperlunya saja. Ada kesadaran yang pelan namun merata: hari akan terasa lebih panjang dari biasanya, dan setiap orang sedang menyesuaikan diri dengan ritme yang baru.

Di kantor-kantor pelayanan, meja tetap tersusun rapi. Antrean tetap menunggu giliran. Sistem tetap berjalan seperti biasa. Namun di balik semua keteraturan itu, ada penyesuaian yang tidak tertulis—penyesuaian batin.

Ramadan masuk sebagai peristiwa yang tidak gaduh. Ia tidak datang dengan perubahan yang mendadak atau seremonial yang berlebihan.

Ia merambat pelan ke dalam rutinitas—menggeser kebiasaan, menata ulang jam-jam harian, dan menyentuh cara orang berbicara serta bersikap.

Hidup tetap berjalan seperti biasa, tetapi ada lapisan kesadaran baru yang menyertainya. Orang bekerja, berdagang, mengantre, bercakap—dengan irama yang sedikit berbeda. Seolah-olah setiap orang sedang berjalan sambil membawa ingatan bahwa dirinya sedang berlatih menahan sesuatu.

Meja Pelayanan dan Ujian yang Sunyi

Seorang pegawai duduk di balik meja pelayanan. Map-map tersusun rapi di sisi kanan. Layar komputer menyala sejak pagi. Panggilan antrean berubah perlahan.

Warga datang dengan berbagai wajah: ada yang tergesa, ada yang cemas, ada yang sekadar ingin cepat selesai. Seorang pria paruh baya mendekat, suaranya agak tinggi. Ia menanyakan berkas yang belum selesai. Sudah dua kali datang, katanya.

Pegawai itu menarik napas pelan. Tenggorokannya kering. Ia menjelaskan kembali prosedur yang sebenarnya sudah sering ia ulang. Ia memilih nada suara yang tetap datar dan lembut. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pujian. Hanya keputusan kecil untuk tidak membalas dengan emosi yang sama.

Di titik seperti itu, puasa bekerja secara konkret. Ia tidak berdiri di atas mimbar. Ia berdiri di antara dua manusia yang sedang berhadapan. Anthony Giddens pernah menulis bahwa _“social practices are recursively organized”_ (Anthony Giddens: 1984). Praktik sosial terbentuk dari kebiasaan yang diulang. Jika kesabaran diulang setiap hari, ia menjadi struktur. Jika kemarahan diulang, ia pun menjadi struktur. Ramadan memberi kesempatan untuk mengulang yang berbeda.

Ibu dan Temannya di Pasar Sore

Di sudut pasar, dua perempuan berdiri di depan lapak penjual tape. Wajah mereka sedikit gusar. Mereka menghitung uang yang ada di tangan, lalu menatap harga yang tertulis kecil di atas kardus.

Bukan karena terlalu mahal. Hanya saja, kebutuhan di rumah lebih banyak dari yang bisa mereka bawa hari itu. Mereka berbicara pelan. Sesekali tersenyum untuk menutupi kegelisahan.

Penjual tape membungkus pesanannya dengan alas daun pisang di keranjang besek bambu, tangannya bergerak cepat. Di sekeliling mereka, suara tawar-menawar bersahutan. Akhirnya mereka membeli secukupnya. Tidak berlebihan. Dalam langkah pulang, mereka tidak banyak bicara.

Ramadan sering kali hadir dalam keputusan kecil seperti itu: menahan keinginan untuk lebih, menerima yang ada, dan pulang dengan perasaan yang setengah lega. Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa “habitus is history turned into nature” (Pierre Bourdieu: 1977). Kebiasaan lama terasa alamiah karena terus diulang. Ramadan memberi celah untuk mengoreksi kebiasaan itu—pelan-pelan, tanpa gegap gempita.

Kadang Ramadan terasa seperti tanda seru. Ia menggetarkan. Ia memaksa orang bangun lebih awal, tidur lebih larut, menata ulang jadwal dan kebiasaan.

Namun di lain waktu, ia lebih menyerupai tanda tanya. Ia membuat kita berhenti dan bertanya: apakah lapar ini menumbuhkan empati? Apakah haus ini menghaluskan bahasa kita? Ataukah semuanya hanya berganti jadwal tanpa mengubah watak?

Di sinilah Ramadan menjadi cermin sosial. Ia tidak hanya menguji tubuh, tetapi juga relasi. Relasi dengan keluarga. Relasi dengan rekan kerja. Relasi dengan orang asing di antrean.

Dalam tradisi klasik Islam, puasa tidak pernah dipahami sebagai sekadar latihan fisik. Al-Ghazali menulis:

“Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa pun selain lapar dan dahaga.” (Al-Ghazali: 1111). Tafsir moralnya jelas: puasa kehilangan makna ketika tidak menembus perilaku.

Sunyi di Musala Kecil

Selepas magrib, musala kecil di ujung kampung hampir kosong. Lampunya temaram. Karpetnya sedikit berdebu. Seorang lelaki duduk sendirian di sudut ruangan. Gelas plastik bekas air putih ada di sampingnya. Tangannya terlipat di atas lutut. Ia tidak membaca apa pun. Tidak berbicara.

Di luar, suara motor lewat sesekali. Anak-anak berlari sambil tertawa. Di dalam, waktu terasa berjalan lebih lambat. Ia mungkin sedang mengingat nada suaranya siang tadi.

Mungkin sedang memikirkan wajah seseorang yang belum ia perlakukan dengan cukup sabar. Tidak ada air mata. Tidak ada doa panjang yang terdengar. Hanya kesadaran kecil yang muncul tanpa suara. Ramadan kadang bekerja justru di ruang yang tidak dicatat siapa pun.

Antrean dan Latihan Menahan Diri

Antrean adalah ujian yang sederhana tetapi nyata. Ia mempertemukan ego-ego kecil dalam satu garis lurus. Di bulan Ramadan, antrean terasa lebih panjang. Orang lebih cepat tersinggung. Waktu terasa lebih lambat.

Namun justru di sana latihan itu terjadi: menunggu tanpa mengeluh terlalu keras, memberi jalan pada yang lebih tua, tidak memotong pembicaraan.

Puasa bukan hanya menahan lapar. Ia menahan dorongan untuk selalu menjadi yang pertama. Jika kebiasaan kecil ini diulang, ia akan menjadi praktik sosial baru—seperti yang digambarkan oleh Giddens (1984).

Perubahan sosial tidak selalu datang dari kebijakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang diulang secara konsisten.

Perubahan besar jarang datang dalam satu malam. Ia lebih sering menyerupai embun yang turun pelan. Tidak terdengar. Tidak dramatis. Namun ketika pagi tiba, daun-daun terasa lebih segar. Ramadan mungkin seperti itu. Ia tidak menjanjikan transformasi instan. Ia hanya menyediakan jeda.

Jeda untuk membaca ulang hidup. Jeda untuk menata ulang cara berbicara. Jeda untuk menyadari bahwa kita sering terlalu tergesa. Jika pun ada perubahan, ia mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Tetapi terasa di dalam. Dan kadang, itu sudah cukup.

Hidup yang Dibaca Ulang

Hidup sosial sering berjalan seperti kalimat panjang tanpa tanda baca. Kita bekerja, berbicara, bergerak, tanpa sempat berhenti memeriksa maknanya. Ramadan hadir sebagai koma. Kadang sebagai tanda seru. Kadang sebagai tanda tanya. Ia tidak menjanjikan manusia baru. Ia hanya mengingatkan bahwa kita selalu bisa memperbaiki kalimat yang sedang kita tulis.

Di meja pelayanan. Di pasar sore. Di musala yang sunyi. Di antrean yang panjang. Sebagai tanda seru, ia menggetarkan. Sebagai tanda tanya, ia menguji. Sebagai koma, ia memberi jeda. Dan di antara semua tanda baca itu, hidup sosial pelan-pelan belajar bernapas kembali. Wallahu A'lam bish showab. (red)