Ruang Pendopo Omah Ndeso Klaten, 26 Maret 2026

Mudik dan Teori TPB: Menakar Nalar di Balik Eksodus Kultural

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ruang Pendopo Omah Ndeso Klaten, 26 Maret 2026
Ruang Pendopo Omah Ndeso Klaten, 26 Maret 2026

 

Oleh: Dr. Agus Andi Subroto

Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan

 

Klaten, JatimUPdate.id - Ada sebuah logika yang tidak kasatmata di balik pergerakan jutaan manusia yang memadati urat nadi transportasi Indonesia setiap menjelang Lebaran.

Fenomena ini bukan sekadar statistik mobilisasi massa, melainkan sebuah orkestrasi keinginan yang sangat terstruktur. Di balik debu jalanan dan klakson kendaraan, terdapat mekanisme psikologis yang kompleks.

Mengamati fenomena ini dari sudut pendopo di Klaten, saya merasa bahwa ritual tahunan ini memerlukan pembacaan yang lebih jernih daripada sekadar narasi rindu. Kita perlu membedahnya melalui kacamata Teori TPB (Theory of Planned Behavior) dari Icek Ajzen untuk memahami mengapa tradisi ini begitu digdaya melintasi zaman.


Dalam nalar Ajzen, perilaku manusia bukanlah letupan emosional yang acak, melainkan hasil dari niat yang dipengaruhi oleh tiga determinan utama. Pertama adalah attitude toward behavior atau sikap terhadap perilaku. Bagi pemudik, mudik telah dikonstruksi secara kognitif sebagai sebuah "kebaikan mutlak" (positivity). Meski harus berhadapan dengan kemacetan yang menguras energi dan biaya yang mencekik leher, evaluasi individu terhadap mudik tetaplah positif.

Hal ini terjadi karena ada janji kebahagiaan batin dan pemuasan spiritual yang dianggap jauh lebih berharga daripada beban materi selama perjalanan.


Kedua, mudik digerakkan oleh subjective norm atau norma subjektif. Di sini, mudik bukan lagi sekadar keinginan privat, melainkan sebuah mandat sosial. Lingkungan sekitar, keluarga besar, hingga ekspektasi masyarakat di kampung halaman menciptakan gravitasi sosial yang kuat. Ada perasaan "kurang" atau bahkan tekanan moral jika seseorang tidak pulang. Dalam konteks Indonesia, norma subjektif ini berfungsi sebagai perekat komunal yang memastikan bahwa setiap individu merasa bertanggung jawab untuk hadir secara fisik di tengah keluarga saat fajar Idulfitri menyingsing.


Ketiga, yang tak kalah krusial dalam Teori TPB, adalah perceived behavioral control atau kendali perilaku yang dirasakan.

Sehebat apa pun niat dan tekanan sosial, mudik tidak akan terjadi tanpa adanya persepsi kemudahan. Transformasi infrastruktur digital dan fisik—seperti kemudahan memesan tiket via aplikasi hingga tersambungnya jalan tol—meningkatkan rasa "mampu" pada diri masyarakat. Ketika individu merasa memiliki kendali atas sumber daya dan kesempatan, maka niat kolektif itu pun meledak menjadi tindakan nyata di lapangan.


Dari perspektif akademik, sinkronisasi antara tradisi dan Teori TPB ini seharusnya menjadi laboratorium hidup bagi para mahasiswa dan intelektual. Fenomena mudik adalah bukti bagaimana perilaku manusia dapat diprediksi dan dianalisis secara saintifik.

Bagi mereka yang mendalami kewirausahaan, mudik tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai kemacetan belaka. Ia adalah momentum ekonomi sirkular yang luar biasa, di mana perputaran modal berpindah dari pusat industri ke pelosok desa, melahirkan peluang-peluang usaha kreatif yang berbasis kearifan lokal.


Mahasiswa harus mulai membaca peluang di balik pergerakan massa ini. Bagaimana inovasi teknologi bisa mempermudah logistik oleh-oleh, atau bagaimana potensi wisata desa bisa dikemas secara profesional untuk menyambut para perantau. Mudik adalah ruang di mana teori bertemu dengan realitas, dan kreativitas bertemu dengan kebutuhan massa.


Maka, sembari menyesap kopi di pendopo omah deso Klaten siang ini, saya menyadari bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada kemampuannya merawat tradisi dengan nalar yang sehat.

Teori TPB Ajzen memberikan penjelasan logis, namun tradisi memberikan ruh pada penjelasan tersebut. Mudik akhirnya mengajarkan kita satu hal: setinggi apa pun kita terbang di rimba modernitas, kita akan selalu memiliki nalar dan rasa yang menuntun kita kembali ke tempat di mana semuanya bermula.


Sebab pada akhirnya, pulang bukan hanya persoalan perpindahan ruang, melainkan manifestasi dari peradaban yang berakal dan berperasaan.


Esai ini dipahat dengan sepenuh hati sembari memandang rinai yang tumpah ke tanah dari kursi kayu jati di pendopo omah ndeso Klaten, tempat sunyi yang diam-diam mengajarkan bahwa menulis adalah cara paling sederhana untuk bersyukur kepada kehidupan.


Urip iku Urup. Setiap kata adalah cahaya, semoga catatan kecil ini menjadi sedekah yang menyalakan kebaikan bersama.


Ruang Pendopo Omah Ndeso Klaten, 26 Maret 2026