Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 28/03/2026

Lima Ragam Jihad dalam Al-Qur’an

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi Lima Ragam Jihad
Ilustrasi Lima Ragam Jihad

 

Oleh Abdul Rohman Sukardi 

Pengamat Sosial, Politik dan Hukum

 


Jakarta, JatimUPdate.id - Banyak orang menyangka jihad hanya berarti perang atau kekerasan. Padahal, dalam Al-Qur'an, jihad adalah perjuangan bersungguh-sungguh di jalan Allah dalam arti yang luas.

Meliputi dimensi spiritual, intelektual, sosial, dan dalam kondisi tertentu, fisik. 

Pemahaman yang utuh ini penting agar jihad tidak direduksi hanya pada satu bentuk yang sempit. Melainkan dipahami sebagai etos kehidupan yang menuntun manusia menuju kebaikan dan keadilan.

Pertama, jihad yang paling mendasar adalah jihad melawan hawa nafsu. Setiap manusia menghadapi godaan untuk berbuat salah. Amarah, keserakahan, atau keinginan instan. 

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tampak pada kemampuan seseorang menahan diri dari korupsi, menjaga kejujuran dalam pekerjaan, atau menolak godaan untuk berbuat curang meskipun ada kesempatan. QS. Surah Al-Ankabut ayat 69 menegaskan bahwa Allah memberi petunjuk kepada mereka yang bersungguh-sungguh. 

Jihad dalam ragam ini menjadi fondasi. Tanpa pengendalian diri, bentuk jihad lain kehilangan makna moralnya dan berpotensi kehilangan arah.

Kedua, jihad diwujudkan melalui perjuangan dengan ilmu dan dakwah. Menyampaikan kebenaran tidak selalu lewat mimbar, tetapi juga melalui pendidikan, tulisan, diskusi, dan keteladanan dalam perilaku sehari-hari. 

Seorang guru yang mendidik dengan integritas, penulis yang meluruskan informasi di tengah banjir hoaks, atau siapa pun yang menyebarkan nilai kebaikan di ruang publik digital, sedang menjalankan jihad ini. QS. 

Surah An-Nahl ayat 125 mengajarkan pentingnya hikmah dan dialog yang santun. Menegaskan bahwa kebenaran harus disampaikan dengan cara yang beradab, argumentatif, dan tidak memaksa.

Ketiga, jihad dapat dilakukan melalui perjuangan dengan harta. Pengorbanan materi bukan sekadar sedekah simbolik, tetapi juga bentuk keberpihakan kepada keadilan sosial dan kemanusiaan.

Membantu korban bencana, mendukung pendidikan anak kurang mampu, atau membiayai kegiatan sosial yang bermanfaat luas adalah wujud konkret jihad ini. 

QS. Surah At-Taubah ayat 41 menegaskan pentingnya kontribusi harta dan jiwa, menunjukkan bahwa iman dalam Islam selalu berkaitan dengan aksi nyata yang berdampak pada kehidupan orang lain.

Keempat, jihad tercermin dalam kesabaran. Dalam realitas hidup yang penuh tekanan—ketidakadilan, kehilangan, kegagalan, atau ujian ekonomi—. Bersabar bukan sikap pasif. Melainkan keteguhan untuk tetap berada di jalan yang benar. 

Seorang pekerja yang tetap jujur meski berada di lingkungan tidak sehat, atau individu yang tetap berbuat baik meski disakiti, sedang menjalankan jihad kesabaran yang membutuhkan kekuatan mental dan spiritual yang tinggi.

QS. Surah Al-Baqarah ayat 153 menegaskan bahwa pertolongan Allah bersama orang-orang yang sabar.

Kelima, Al-Qur’an juga mengakui jihad fisik, tetapi dalam konteks membela diri dari kezaliman. QS. Surah Al-Hajj ayat 39 memberi izin berperang bagi mereka yang ditindas, bukan untuk agresi atau ekspansi tanpa sebab yang adil. 

Ini menegaskan bahwa kekuatan hanya digunakan sebagai jalan terakhir. Dengan batasan moral yang ketat, serta tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan.

Dengan demikian, jihad dalam Al-Qur’an mencakup lima ragam yang saling melengkapi: pengendalian diri, penyebaran ilmu, pengorbanan harta, kesabaran, dan pembelaan diri. 

Kesemuanya menunjukkan bahwa jihad adalah perjuangan menyeluruh—hati, pikiran, dan tindakan—yang relevan sepanjang zaman dan menjadi fondasi bagi kehidupan yang adil dan bermartabat. Itulah Jihad dalam Al Quran. Dalam Ajaran Islam. 

 

Jakarta, ARS ([email protected]). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Opini

Kupatan

Kupatan adalah salah satu tradisi islam yang berkembang di Jawa khususnya di pesisir utara Jateng dan sebagian besar Jatim, di lokasi walisongo berdakwah.