Analisis Retaknya Aliansi Semu

avatar Yuris. T. Hidayat
  • URL berhasil dicopy
Hadi Prasetyo Pengamat Sosial Politik
Hadi Prasetyo Pengamat Sosial Politik

Oleh: Hadipras 

JatimUPdate.id - Indonesia saat ini tengah berada dalam fase "limbo" politik yang ganjil. Transisi kekuasaan dari Joko Widodo ke Prabowo Subianto, yang awalnya dicitrakan sebagai keberlanjutan yang mulus, kini mulai menampakkan wajah aslinya: "sebuah transisi yang tidak tuntas".
Keretakan ini (setidaknya yang telah kental sebagai persepsi sebagian masyarakat) bukan sekedar persoalan selera kebijakan, melainkan benturan eksistensial antara presiden yang sedang menjabat dengan residu kekuatan rezim lama yang berupaya menjaga tonggak dinasti politiknya.

Masalah utama dari transisi ini dipahami publik berakar pada upaya sistematis rezim lama untuk memancangkan pengaruh jangka panjang melalui politik dinasti. Penempatan Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden awalnya dianggap sebagai "jaminan" bagi Jokowi bahwa warisannya aman. 

Namun, dalam realitas kekuasaan, posisi ini justru menjadi anomali. 
Gibran kini tampak sebagai figur yang berada di persimpangan; ia adalah bagian dari pemerintahan Prabowo, namun loyalitas organiknya tetap tertambat pada pusat kekuatan di Solo.
Dinamika ini menciptakan apa yang disebut para analis intelijen sebagai "operasi garis dalam". Keberadaan loyalis rezim lama di dalam kabinet dan struktur birokrasi—yang sering dijuluki sebagai Geng Solo—bukan lagi berfungsi sebagai mesin pendukung, melainkan menjadi potensi sabotase struktural. 

Transisi disebut tidak tuntas karena pemegang mandat baru belum sepenuhnya memegang kendali atas instrumen negara yang masih "terinfeksi" oleh loyalitas masa lalu.
Salah satu fenomena paling menarik dalam lanskap politik 2026 adalah paradoks Jokowi. Secara statistik, ia mungkin masih memiliki tingkat popularitas yang cukup  berkat kebijakan populis di masa lalu. Namun, popularitas tidaklah sama dengan kredibilitas.

Di mata kelas menengah, akademisi, dan aktivis masyarakat sipil, kredibilitas rezim lama telah tergerus secara fundamental.

Kalau jujur mencermati gunjingan masyarakat, sentimen "Anak Haram Konstitusi" dan rekam jejak digital yang kontroversial (seperti fenomena FufuFafa) telah menciptakan cacat permanen pada aspek moral dan intelektual dinasti politik ini. 
Rakyat mungkin masih "menyukai" figur tersebut sebagai persona, namun mereka tidak lagi "percaya" pada integritas politiknya.

Ketimpangan antara citra publik dan legitimasi etis inilah yang membuat fondasi kekuatan dinasti Jokowi dinilai menjadi sangat rapuh.
Menjelang 2029, anatomi kekuatan politik Indonesia mulai bergeser secara signifikan. Prabowo Subianto menunjukkan kecenderungan untuk melakukan "netralisasi infrastruktur" dengan merapat kembali ke kekuatan partai tradisional yang solid, seperti PDIP di bawah Megawati Soekarnoputri.

Langkah ini adalah langkah pragmatis untuk memutus ketergantungan pada relawan-relawan non-partai (seperti Laskar Gibran atau YouTuber Nusantara) yang memberi kesan kuat hanya setia pada figur, bukan pada sistem negara.

Kita sedang melihat munculnya poros baru: aliansi antara kekuatan nasionalis lama melawan kekuatan dinasti baru. Pergeseran ini menandakan bahwa instrumen negara (TNI, Polri, dan ASN) yang bersifat pragmatis akan perlahan-lahan kembali ke titah panglima tertinggi yang aktif. Kekuatan "pinjaman" yang dimiliki Jokowi selama sepuluh tahun terakhir mulai ditarik kembali oleh realitas konstitusi.

Pertarungan menuju 2029 bukan lagi soal keberlanjutan, melainkan soal pembersihan sisa-sisa pengaruh rezim lama. Jika ekonomi memburuk dan krisis melanda, skenario transisi paksa melalui posisi Wakil Presiden mungkin akan dicoba. 

Namun, dengan kredibilitas moral yang berada di titik nadir, setiap upaya untuk memaksakan dinasti politik lewat "jalur musibah" hanya akan memicu perlawanan rakyat yang jauh lebih besar.

Pada akhirnya, sejarah politik Indonesia selalu mengajarkan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas fondasi keluarga akan selalu berbenturan dengan institusi negara yang menginginkan kemandirian.
Perang dingin antara Prabowo dan Jokowi hanyalah babak awal dari runtuhnya aliansi semu yang kini mulai menemui ujung jalannya.

Pada akhirnya, kita sedang menonton sebuah pertunjukan sirkus politik yang memukau: sebuah upaya gigih untuk membangun dinasti di atas fondasi pasir digital yang mulai amblas.
Sang mentor mungkin merasa masih memegang kendali lewat pasukan "udara" dan laskar-laskar kesayangan, seolah-olah kursi kekuasaan bisa diwariskan semudah memindahtangankan gerobak martabak. 

Namun, ia lupa bahwa dalam dinginnya tembok Istana, aroma masakan dapur Megawati dan ketegasan garis komando sang Jenderal jauh lebih menggoda bagi para pengikut pragmatis daripada sekedar janji-janji sisa kejayaan masa lalu. 

Jika 2029 adalah garis finis, maka "ban serep" yang dipersiapkan dengan penuh ambisi itu mungkin akan menyadari bahwa di jalanan politik yang terjal, ban yang tidak memiliki ulir kredibilitas hanya akan membuat penumpangnya tergelincir ke selokan sejarah—diiringi riuh rendah tawa netizen dan jejak digital yang menolak untuk mati. (*)