Menjaga "Pagar" Daerah di Tengah Badai Geopolitik Global

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Suasana Halal Bil Halal Kahmi di Kota Probolinggo, Minggu (12/04/2026).
Suasana Halal Bil Halal Kahmi di Kota Probolinggo, Minggu (12/04/2026).

 

Oleh : Ponirin Mika 

Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo, serta Alumni Ponpes Nurul Jadid, juga Jurnalis JatimUPdate.id

 

 

Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - Ketegangan di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung usai, hingga fluktuasi ekonomi global bukan lagi sekadar berita di layar televisi—dampaknya nyata hingga ke meja makan masyarakat kita.

Di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, inisiatif KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) Jawa Timur dalam mengangkat tema ketahanan daerah pada momen Halalbihalal di Probolinggo kemarin menjadi sebuah pengingat yang sangat relevan.

Selama ini, narasi geopolitik seringkali dianggap sebagai "urusan pusat" atau Jakarta semata. Namun, kita lupa bahwa ketahanan nasional sejatinya adalah akumulasi dari ketahanan di tingkat lokal. Ketika rantai pasok global terganggu, yang pertama kali berteriak adalah petani di pelosok daerah karena harga pupuk naik, atau ibu rumah tangga karena harga bahan pokok melambung.

Dalam diskusi tersebut, poin krusial yang muncul adalah bagaimana Jawa Timur, sebagai salah satu lumbung energi dan pangan nasional, harus memiliki strategi mandiri. Kita tidak bisa lagi hanya menjadi penonton dalam kebijakan global.

Sinergi Intelektual dan Kebijakan
Kekuatan KAHMI terletak pada persebaran kadernya di berbagai lini: birokrasi, akademisi, pengusaha, hingga politisi.

Kehadiran tokoh-tokoh seperti Koordinator Presidium KAHMI Jatim dan para pimpinan daerah di acara tersebut menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa: Daerah harus mampu mengoptimalkan potensi agrarisnya agar tidak terus-menerus didikte oleh harga komoditas impor.

Di tengah krisis, gesekan sosial sangat mudah tersulut. Peran organisasi kemasyarakatan menjadi krusial sebagai "pendingin" suasana di akar rumput.

Krisis global menuntut solusi lokal. Transformasi digital dan ekonomi kreatif di daerah bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan.

Lebih dari Sekadar Seremonial
Langkah KAHMI Jatim yang menggeser seremoni Lebaran menjadi ruang dialektika strategis patut diapresiasi. Ini adalah sinyal bahwa kaum intelektual di Jawa Timur tidak sedang tidur.

Ketahanan daerah di tengah krisis geopolitik bukan tentang membangun tembok isolasi, melainkan membangun pondasi ekonomi dan sosial yang cukup kuat sehingga ketika badai global menghantam, kita tidak ikut roboh.

Jawa Timur memiliki modal itu; yang dibutuhkan sekarang adalah orkestrasi yang apik antara pemikiran cerdas dan eksekusi kebijakan yang nyata.

"Ketahanan nasional yang kokoh hanya bisa bermula dari daerah yang berdaya dan mandiri."