Dari Gizi hingga Gadget: Pesan Heru Tjahjono untuk Masa Depan Anak Indonesia
Oleh: Rio Rolis
Jurnalis JatimUPdate.id
Blitar, JatimUPdate.id — Upaya memperkuat kualitas generasi muda terus digencarkan melalui berbagai pendekatan. Salah satunya dilakukan oleh Heru Tjahjono yang kembali turun langsung ke masyarakat untuk menyosialisasikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (10/4), di Desa Plandirejo, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar.
Dalam pertemuan tersebut, isu yang diangkat tidak semata soal makanan, tetapi juga menyentuh perubahan gaya hidup anak-anak di era digital.
Heru menilai, tantangan terbesar saat ini bukan hanya persoalan kekurangan gizi, melainkan juga pola asuh yang mulai tergerus oleh penggunaan gadget secara berlebihan.
Menurutnya, ketergantungan anak terhadap telepon genggam berpotensi menghambat perkembangan kreativitas sekaligus berdampak pada kesehatan.
Ia juga mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut dapat memengaruhi pola makan anak yang menjadi tidak teratur.
“Anak-anak sekarang cenderung kurang aktif dan terlalu sering menggunakan gadget. Ini berpengaruh pada konsentrasi, kesehatan, bahkan cara mereka makan. Padahal, pemenuhan gizi adalah fondasi penting bagi tumbuh kembang mereka,” ujarnya.
Melalui Program MBG, pemerintah berupaya menghadirkan solusi konkret dengan menyediakan menu makanan yang telah disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi anak.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari langkah besar menuju visi Prabowo Subianto dalam membangun generasi unggul menyongsong Indonesia Emas 2045.
Namun demikian, Heru menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah.
Ia mendorong keterlibatan aktif masyarakat untuk ikut mengawasi dan memastikan kualitas pelaksanaan di lapangan.
Heru juga membuka ruang partisipasi publik untuk memberikan laporan apabila ditemukan ketidaksesuaian dalam standar gizi yang diberikan.
Menurutnya, pengawasan bersama menjadi elemen penting dalam menjaga keberlanjutan program.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, Program MBG diharapkan tidak hanya menjawab persoalan gizi, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kesehatan anak sejak dini.
Secara terpisah, tim juga menggali informasi lebih mendalam dengan mewawancarai Arista Widyawati, founder lembaga Wigcare yang berdomisili di Ponggok, Blitar.
Perempuan yang akrab disapa Bu Arista ini baru saja menyelesaikan program pascasarjana di Surabaya.
Ia menaruh perhatian serius pada persoalan tumbuh kembang anak, khususnya pada anak berkebutuhan khusus.
Berdasarkan pengalaman menangani berbagai kasus—baik melalui konsultasi maupun pendampingan langsung—ia menemukan bahwa salah satu faktor utama keterlambatan tumbuh kembang anak adalah pola asuh yang kurang tepat serta paparan gadget yang berlebihan.
“Banyak anak datang dengan keterlambatan tertentu, dan setelah dilakukan asesmen, penyebabnya sering kali berkaitan dengan kurangnya interaksi langsung dan terlalu lama terpapar gadget,” jelasnya.
Sinergi antara pemerintah dan masyarakat, kata Heru, akan menjadi kunci agar program ini benar-benar berdampak dan tepat sasaran—bukan sekadar kebijakan, melainkan gerakan bersama untuk masa depan bangsa. (rio)
Editor : Redaksi