Ruang Tumbuh Bersama: Usai Mengajar di ITB Yadika Pasuruan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy


 

Oleh Dr. Agus Andi Subroto

Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan 

 

Pasuruan, JatimUPdate.id - Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika mengajar tidak lagi terasa sebagai proses satu arah. Ketika audiens—dalam hal ini mahasiswa—mulai berani berbicara, mengalir tanpa sekat, mendiskusikan materi, bahkan menganalisis studi kasus dengan sudut pandang mereka sendiri, di situlah kelas berubah menjadi ruang yang hidup.

Bagi penulis, itu bukan sekadar momen mengajar, tetapi momen yang membahagiakan.

Tidak dapat dipungkiri, saat mahasiswa mampu angkat bicara dengan bebas, itu adalah kemewahan tersendiri. Sebuah tanda bahwa ruang di kelas tidak hanya diisi oleh materi, tetapi juga oleh keberanian, rasa percaya diri, dan keterbukaan untuk berpikir.

Mengelola kelas memang bukan sekadar menyampaikan bahan ajar. Ia adalah seni. Setiap dosen memiliki cara yang unik untuk menghidupkan suasana, mencairkan jarak, dan menghadirkan energi.

Ketika mahasiswa merasa nyaman, ketika mereka mampu menangkap insight dari setiap materi, dan ketika mereka melihat dosennya bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai kawan berdiskusi—di situlah lahir sebuah privilege yang tidak semua ruang belajar miliki.

Kelas pun tidak lagi sekadar tempat duduk dan papan tulis. Ia menjelma menjadi ruang bertukar pikiran, ruang dialektika, bahkan menjadi penyemai kecil bagi peradaban yang lebih besar.

Dan di titik itu, kebahagiaan seorang pendidik menemukan maknanya.

Melihat para calon pemimpin masa depan berani berbicara, menyampaikan gagasan, dan saling bertukar pendapat dengan bebas dan merdeka.

Karena sejatinya, mengajar bukan hanya tentang mentransfer ilmu—
tetapi tentang menumbuhkan keberanian untuk berpikir dan bersuara.

Urip iku Urup. Setiap kata adalah cahaya, semoga catatan kecil ini menjadi sedekah yang menyalakan kebaikan bersama.

Salam hangat dan hormat.