Revitalisasi Infiltrasi (R-I): Menangkap Air, Menangkap Masa Depan Surabaya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ali Yusa
Ali Yusa

 

oleh : Ali Yusa

Penggurus Persatuan Insinyur Indonesia Jawa Timur

 

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Jika Surabaya berani memulainya sekarang, maka dari Gunung Anyar hingga Benowo, kota ini bukan hanya lebih aman dari banjir, tetapi juga lebih kaya air, lebih sehat, dan lebih siap menjadi kota maritim masa depan.

Kalimat itu bukan sekadar harapan, melainkan arah kebijakan yang mendesak. Sebab kota besar pada abad ini tidak diukur hanya dari tinggi gedung, panjang jalan, atau besarnya investasi, tetapi dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan daya dukung lingkungan.

Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya berada pada titik krusial. Urbanisasi terus berlangsung. Penduduk bertambah.

Permintaan hunian meningkat. Kawasan industri meluas. Pergudangan tumbuh cepat. Jalan-jalan diperkeras. Ruang terbuka makin terdesak. Dalam jangka pendek, ekspansi itu terlihat sebagai tanda kemajuan.

Namun dalam jangka panjang, kota menghadapi tagihan ekologis yang tidak kecil: banjir yang berulang, air tanah yang menurun, kawasan pesisir yang rentan, serta biaya sosial yang terus membesar.

Di sinilah persoalan lama Surabaya muncul kembali setiap musim hujan. Air datang lebih cepat daripada kemampuan kota mengelolanya. Drainase dipaksa menanggung limpasan dari permukaan beton yang semakin luas.

Saluran dibangun, pompa ditambah, box culvert diperbesar, tetapi genangan tetap hadir di berbagai titik. Data Dinas PU-SDA Kota Surabaya dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kota memiliki lebih dari 70 rumah pompa, ratusan unit pompa air, ribuan kilometer jaringan saluran primer-sekunder, serta pembangunan dan pelebaran box culvert di banyak koridor jalan.

Angka tersebut menunjukkan keseriusan investasi pemerintah kota. Namun angka itu sekaligus menegaskan satu paradoks: semakin banyak infrastruktur pembuangan air dibangun, semakin besar pula ketergantungan kota pada sistem mekanis yang mahal dan rentan.

Kota seakan berlari di treadmill infrastruktur: bekerja keras, tetapi tetap berada di tempat yang sama.

Masalah utamanya bukan semata kurangnya pompa atau kurang panjangnya box culvert. Masalahnya adalah pendekatan yang terlalu bertumpu pada hilirisasi air.

Banyak rumah pompa bekerja memindahkan air dari satu genangan ke saluran lain, sementara box culvert di sejumlah kawasan belum sepenuhnya terkoneksi dengan jaringan mikro di permukiman.

Akibatnya, air cepat terkumpul di titik tertentu tetapi lambat keluar dari hulu lingkungan. Sistem besar dibangun, namun cabang-cabang kecilnya tidak selalu menyatu.

Lebih jauh lagi, ketergantungan pada rumah pompa memiliki biaya tersembunyi. Pompa membutuhkan listrik, operator, perawatan, suku cadang, dan kesiapsiagaan 24 jam.

Saat listrik padam, sedimentasi tinggi, sampah menyumbat, atau kapasitas melebihi desain, maka pompa kehilangan efektivitasnya. Kota modern tidak boleh menggantungkan keselamatan hidrologinya hanya pada mesin.

Sudah saatnya paradigma itu diubah. Surabaya tidak cukup hanya menjadi drain city—kota yang terburu-buru membuang air ke laut.

Surabaya harus bergerak menjadi sponge city—kota yang mampu menyerap, menahan, memanfaatkan, dan mengelola air hujan sebagai aset strategis. Dari gagasan inilah Revitalisasi Infiltrasi (R-I) memperoleh relevansinya.

R-I pada dasarnya sederhana: menghidupkan kembali kemampuan tanah menyerap air hujan. Tetapi dampaknya luas. Ketika air meresap ke tanah, volume limpasan berkurang, tekanan terhadap drainase menurun, kebutuhan kerja pompa berkurang, cadangan air tanah terisi ulang, suhu kawasan menjadi lebih baik, dan ruang kota menjadi lebih resilien.

Apa yang tampak sebagai intervensi teknis sesungguhnya adalah strategi ekonomi dan sosial jangka panjang.

Surabaya memiliki alasan kuat untuk memulai transformasi ini sekarang. Kota ini adalah kota maritim dengan bentang pesisir panjang.

Dari timur ke barat, terdapat sedikitnya 11 kecamatan kawasan pesisir dan pengaruh pesisir: Gunung Anyar, Rungkut, Sukolilo, Mulyorejo, Bulak, Kenjeran, Semampir, Pabean Cantikan, Krembangan, Asemrowo, hingga Benowo. Kawasan-kawasan ini menghadapi tekanan ganda: limpasan hujan dari daratan dan ancaman rob dari laut.

Di wilayah timur, urbanisasi bergerak cepat di bekas lahan tambak dan rawa. Di utara, kepadatan permukiman membatasi ruang terbuka.

Di barat, pertumbuhan industri dan logistik menciptakan permukaan kedap air baru setiap tahun. Seluruhnya menunjukkan satu pesan: Surabaya tidak sedang menghadapi satu jenis banjir, melainkan banyak jenis kerentanan yang datang bersamaan.

Persoalan itu diperumit oleh posisi Surabaya sebagai kota hilir sistem sungai besar. BBWS Brantas memegang peran penting dalam pengelolaan sungai utama, pengendalian debit, pintu air, dan normalisasi alur. Ketika curah hujan tinggi di kawasan hulu Brantas, tekanan di wilayah hilir seperti Surabaya ikut meningkat. Karena itu, banjir kota tidak bisa dipandang sebagai persoalan lokal semata, tetapi bagian dari tata kelola DAS regional.

Selain itu, pasokan air baku Surabaya juga bergantung pada sistem regional. Perum Jasa Tirta I selama ini mengelola sumber daya air strategis di wilayah Brantas, termasuk bendungan, distribusi air baku, dan pengaturan operasi air lintas sektor. Stabilitas debit sungai dan kualitas air yang dijaga lembaga ini memiliki arti langsung bagi keberlangsungan pelayanan air minum kota.

Di sisi hilir pelayanan publik, PDAM Surya Sembada menanggung tanggung jawab besar menyediakan air bersih bagi jutaan warga. Jika kota gagal memperkuat cadangan air melalui infiltrasi dan konservasi, maka tekanan terhadap air baku permukaan akan semakin besar, terutama pada musim kemarau atau saat kualitas sungai menurun.

Maka, kebijakan pengendalian banjir tidak bisa lagi bersifat tunggal. Membangun saluran tetap penting, tetapi saluran bukan satu-satunya jawaban. Kota perlu mengurangi air yang masuk ke saluran sejak awal.

Artinya, setiap rumah, sekolah, gudang, apartemen, kawasan industri, dan pusat niaga harus menjadi bagian dari sistem pengelolaan air.

Dalam praktiknya, Revitalisasi Infiltrasi dapat diterjemahkan ke banyak instrumen: sumur resapan rumah tangga, taman resapan di lingkungan padat, trotoar berpori, kolam retensi berinfiltrasi, panen air hujan di gedung publik, atap hijau, restorasi rawa kota, hingga koridor hijau pesisir.

Tidak ada satu proyek raksasa yang menyelesaikan semuanya. Yang dibutuhkan adalah ribuan intervensi kecil dan menengah yang konsisten.

Namun transformasi semacam ini tidak dapat dijalankan pemerintah sendirian. Di sinilah konsep heptahelix menjadi penting: pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas masyarakat, media, lembaga keuangan, serta unsur hukum dan regulasi.

Dalam semesta Pancasila, kolaborasi ini sejatinya merupakan bentuk modern dari gotong royong nasional. Pemerintah menetapkan arah, kampus memberi ilmu, dunia usaha menanam investasi, media membangun kesadaran, lembaga keuangan membuka pembiayaan hijau, hukum menjaga disiplin ruang, dan masyarakat memastikan program hidup di lapangan.

Peran lembaga kemasyarakatan seperti LPMK, RT/RW, Karang Taruna, PKK, koperasi warga, komunitas pesisir, dan kelompok lingkungan sangat menentukan. Mereka dapat memimpin gerakan sumur resapan kampung, kerja bakti saluran, penghijauan gang, bank sampah, edukasi kebencanaan, hingga usaha ekonomi pesisir. Tanpa masyarakat, kebijakan berhenti di dokumen; dengan masyarakat, kebijakan berubah menjadi gerakan bersama.

Ada pula alasan ekonomi yang kerap diabaikan. Banjir bukan sekadar air menggenang. Ia menghambat logistik, menurunkan produktivitas, merusak kendaraan dan rumah, meningkatkan risiko penyakit, menekan nilai properti, dan menciptakan biaya tersembunyi yang ditanggung rumah tangga serta pelaku usaha. Dalam kota dagang seperti Surabaya, satu hari gangguan mobilitas berarti kerugian berantai.

Sebaliknya, investasi infiltrasi memberi pengembalian yang luas: genangan berkurang, kualitas lingkungan membaik, cadangan air meningkat, biaya listrik pompa menurun, umur saluran lebih panjang, beban pasokan air bersih lebih stabil, daya tarik investasi naik, dan nilai kawasan terdongkrak. Dengan kata lain, R-I bukan beban fiskal. Ia adalah strategi pertumbuhan yang lebih cerdas.

Surabaya membutuhkan peta jalan sepuluh tahun. Pada tahap awal, kota perlu memetakan seluruh titik genangan, menyusun peta konektivitas saluran mikro-makro, dan memulai gerakan ratusan ribu sumur resapan rumah tangga.

Tahap berikutnya adalah membangun koridor jalan berpori, embung mikro di 11 kecamatan pesisir, dan sistem panen air hujan di gedung publik. Pada tahap matang, Surabaya dapat tampil sebagai model nasional kota spons tropis.

Menangkap air berarti menangkap masa depan. Dan bagi Surabaya, masa depan itu sudah mengetuk pintu hari ini.