Opini · Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026

Kita yang Membangun Sangkarnya Sendiri

avatar Yuris. T. Hidayat
  • URL berhasil dicopy
Syafri Musthofa  ·  Kontributor
Syafri Musthofa  ·  Kontributor

JatimUPdate.id - Ada ritual yang kita ulang setiap 2 Mei. Kita kutip Ki Hajar Dewantara. Kita keluhkan kurikulum yang berganti-ganti. Kita tunjuk kebijakan yang salah arah. Lalu esoknya, semuanya kembali seperti sediakala kelas dimulai, ujian dikejar, nilai diuber. Tahun berikutnya, ritualnya berulang.

Pertanyaan yang jarang kita ajukan bukan apa yang salah dengan sistem ini, melainkan: siapa yang setiap hari memilih untuk menghidupkannya?

"Kita mengutuk logika pasar dalam pendidikan lalu dengan tenang mengirim anak ke bimbel yang menjanjikan nilai tertinggi."
Banyak yang sudah menulis dengan fasih soal bagaimana kebijakan pendidikan kita dikendalikan oleh logika ekonomi program studi dihapus demi efisiensi, kurikulum diselaraskan dengan kebutuhan industri, kampus dikelola seperti perusahaan. Kritik itu benar. Tapi ada yang luput: sistem ini tidak bekerja sendiri. Ia bekerja karena kita guru, orang tua, mahasiswa, masyarakat setiap hari menjadi operatornya yang paling setia.

Lihat apa yang kita rayakan di media sosial setiap musim wisuda: nilai sempurna, IPK 4.00, lulus tercepat, diterima perusahaan ternama. Kita memotret toga dan mempublikasikannya sebagai pencapaian tertinggi. Kita tidak pernah memposting foto seorang mahasiswa yang berhasil mempertanyakan dosennya dengan argumen yang kuat. Kita tidak pernah merayakan seorang guru yang menolak bahan ajar yang ia anggap menyesatkan.

Kita mengutuk logika pasar dalam pendidikan lalu dengan tenang mengirim anak ke bimbel yang menjanjikan nilai tertinggi, bukan pemahaman terdalam. Kita mengeluh soal mahasiswa yang pasif lalu kita sendirilah yang sejak SD mengajari mereka bahwa diam dan menurut adalah strategi bertahan paling aman di kelas.

Antonio Gramsci menyebut fenomena ini sebagai hegemoni: dominasi yang bertahan bukan karena dipaksakan dari atas, melainkan karena diterima dan direproduksi dari bawah. Yang menarik dan yang sering kita lewati adalah bahwa Gramsci tidak berhenti pada diagnosis struktural. Ia justru percaya bahwa perubahan hanya mungkin ketika subjek-subjek di dalam sistem mulai bertindak sebagai intelektual organik: individu yang memahami posisi mereka dalam struktur, lalu memilih untuk bertindak berbeda.

"Merdeka belajar tidak mungkin tumbuh dari atas ke bawah ia hanya bisa tumbuh dari dalam ke luar."

Di sinilah letak celah yang paling jujur untuk kita tatap di Hari Pendidikan Nasional ini. Bukan hanya: apa yang harus diubah oleh pejabat? Tapi: apa yang harus saya ubah dalam cara saya mendidik dan dididik?

Seorang guru yang tetap mengajar dengan metode hafalan bukan karena ia dipaksa tapi karena itu lebih mudah dan lebih aman ia adalah bagian dari masalah yang sama. Seorang mahasiswa yang tidak pernah membantah satu pun argumen dosen bukan karena ia tidak mampu tapi karena ia tahu nilai bisa dipengaruhi keberanian bicara ia juga sedang merawat sistem yang ia keluhkan.

Ini bukan soal menyalahkan individu. Ini soal mengakui bahwa perubahan struktural yang kita tuntut dari atas tidak akan pernah bertahan jika tidak ada perubahan perilaku dari bawah yang menopangnya. Kebijakan bisa diubah dalam semalam. Budaya membutuhkan generasi.

Ki Hajar Dewantara menulis tentang ing ngarso sung tulodo di depan memberi teladan. Bukan hanya kepada murid, tapi juga kepada sistem. Merdeka belajar tidak mungkin tumbuh dari atas ke bawah ia hanya bisa tumbuh dari dalam ke luar: dari guru yang memilih kedalaman di atas ketuntasan kurikulum, dari orang tua yang menghargai rasa ingin tahu lebih dari angka rapor, dari mahasiswa yang berani mengajukan pertanyaan yang membuat dosennya tidak nyaman.

Pada 2 Mei ini, mungkin refleksi paling jujur bukan tentang apa yang gagal dilakukan negara tapi tentang apa yang kita pilih untuk lakukan atau tidak lakukan, setiap hari, dalam ruang-ruang kecil yang ada dalam jangkauan kita.

Sangkar itu memang dirancang oleh sistem. Tapi kunci pintunya lebih sering dari yang kita akui ada di tangan kita sendiri. (*)