Timbang-Pandang Biografi Akhmad Munir (1) ๐——๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ž๐—ผ๐—ฝ๐—ฟ๐—ฎ๐—น ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—น

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Buku Langkah Sunyi Menuju Puncak
Buku Langkah Sunyi Menuju Puncak

Oleh Hadi Winarto

Jurnalis Senior, Alumni Universitas Jember

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Kalau boleh memberi judul lain untuk buku ๐ฟ๐ด๐‘๐บ๐พ๐ด๐ป ๐‘†๐‘ˆ๐‘๐‘Œ๐ผ ๐‘€๐ธ๐‘๐‘ˆ๐ฝ๐‘ˆ ๐‘ƒ๐‘ˆ๐‘๐ถ๐ด๐พ: ๐ต๐‘–๐‘œ๐‘”๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘“๐‘– ๐ด๐‘˜โ„Ž๐‘š๐‘Ž๐‘‘ ๐‘€๐‘ข๐‘›๐‘–๐‘Ÿ; ๐ท๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐‘…๐‘œ๐‘๐‘˜ ๐‘›’๐‘…๐‘œ๐‘™๐‘™ ๐‘˜๐‘’ ๐ฝ๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘™ ๐‘Š๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ก๐‘Ž๐‘ค๐‘Ž๐‘›, saya akan beri judul ๐ท๐ด๐‘…๐ผ ๐พ๐‘‚๐‘ƒ๐‘…๐ด๐ฟ ๐‘€๐ธ๐‘๐ฝ๐ด๐ท๐ผ ๐ฝ๐ธ๐‘๐ท๐ธ๐‘…๐ด๐ฟ: ๐ต๐‘–๐‘œ๐‘”๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘“๐‘– ๐ด๐‘˜โ„Ž๐‘š๐‘Ž๐‘‘ ๐‘€๐‘ข๐‘›๐‘–๐‘Ÿ.

Itu lebih blak-blakan dan ๐‘ก๐‘œ ๐‘กโ„Ž๐‘’ ๐‘๐‘œ๐‘–๐‘›๐‘ก, tapi rasanya tetap ๐‘’๐‘ฆ๐‘’-๐‘๐‘Ž๐‘ก๐‘โ„Ž๐‘–๐‘›๐‘”. Dan, saya punya alasan.
Alasan pertama, karena Akhmad Munir yang ditulis riwayat hidupnya oleh Abdul Hakim dalam buku ๐ฟ๐ด๐‘๐บ๐พ๐ด๐ป ๐‘†๐‘ˆ๐‘๐‘Œ๐ผ ๐‘€๐ธ๐‘๐‘ˆ๐ฝ๐‘ˆ ๐‘ƒ๐‘ˆ๐‘๐ถ๐ด๐พ… adalah arek Jawa Timur –wilayah yang dikenal luas dengan kultur blak-blakan, dan langsung ke inti (๐‘ก๐‘œ ๐‘กโ„Ž๐‘’ ๐‘๐‘œ๐‘–๐‘›๐‘ก).

Kedua, perjalanan karier Akhmad Munir memang benar-benar berawal dari paling bawah sebelum menjadi pemuncak posisi di bidang pekerjaannya. Bahkan, perjalanan kehidupan Munir pun dilalui dengan proses yang setali-tiga-uang dengan perjalanan  kariernya. 

Dimulai pada tahun 1992 sebagai pembantu koresponden “LKBN Antara” untuk wilayah Sumenep (Madura), Munir kemudian diangkat jadi koresponden, editor, kepala biro dan seterusnya sampai kemudian menduduki pos pemimpin redaksi, yang lantas dipuncaki pada 2023 dengan jabatan sebagai Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) “LKBN Antara” –sebuah kantor berita nasional milik pemerintah yang berstatus BUMN (Badan Usaha Milik Negara).

Ini tentu sebuah anyaman perjalanan karier yang luar biasa, bahkan bisa saja dibilang sebuah keajaiban (๐‘š๐‘–๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘๐‘™๐‘’).
 
Seumpama kita analogikan Munir berada lembaga militer, posisinya di “LKBN Antara” sudah mencapai pangkat jenderal penuh alias empat bintang --yang biasanya diperoleh oleh para lulusan akademi militer (jalur perwira). Mustahil ada jenderal bintang empat yang berangkat dari jalur tamtama. 

Nah uniknya, di “LKBN Antara”, Cak Munir mengawali karir dari “jalur tamtama”, namun berhasil meraih pangkat jenderal penuh. Sepertinya MURI perlu mencatat pencapaian Munir ini sebagai rekor baru di Indonesia.

๐—›๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฟ

Di awal sebagai wartawan (tepatnya sebagai pembantu koresponden), tak ada sama sekali dalam mimpi dan angan-angan Munir untuk menjadi orang nomor satu di perusahaan media tempatnya bekerja. 
Ia juga tak pernah berangan-angan jadi “orang penting”. 

Ia hanya ingin menjadi orang yang berguna/bermanfaat (โ„Ž๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š๐‘Ž๐‘› 232). Atau, jika meminjam bahasa dari ahli jiwa kenamaan Viktor E. Frankl, Munir ingin menjadi orang yang kehadirannya memiliki makna (๐‘š๐‘’๐‘Ž๐‘›๐‘–๐‘›๐‘”).

Menjadi wartawan saja, awalnya juga lebih sebagai kebetulan bagi Munir. Artinya, bekerja sebagai jurnalis  bukanlah cita-cita yang dia idamkan dan rencanakan jauh-jauh hari sejak kecil. 

Andaikata saat kanak-kanak ditanya apa cita-citanya, saya ๐‘˜๐‘œ๐‘˜ yakin jawaban Munir bukanlah “ingin jadi wartawan”, karena jawaban itu sepertinya tidak ada dalam perbendaharaan imajinasi seorang anak dari keluarga yang ekonominya pas-pasan, yang tinggal di sebuah kampung di Sumenep --kabupaten di ujung timur Pulau Madura.

Ia terlontar ke dunia tulis-menulis dan kemudian profesi jurnalistik mulanya lebih karena kebutuhan untuk ๐‘ ๐‘ข๐‘Ÿ๐‘ฃ๐‘–๐‘ฃ๐‘Ž๐‘™ alias untuk menyambung hidup.

Ibunya, yang ๐‘ ๐‘–๐‘›๐‘”๐‘™๐‘’ ๐‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘›๐‘ก sejak Munir masih kanak-kanak, membiayai sekolah Munir dari semata-mata pekerjaaannya sebagai penjahit di kampung. 
Penghasilan sang ibu tentu tidak pasti, tergantung ada atau tidaknya order jahitan.

Suatu kali saat Munir di semester 6 perkuliahan di FISIP Universitas Jember (Unej), ibunya menyerah. Perempuan ini tak mampu membiayai kelanjutan pendidikan Munir.

“Nak, ibu tak sanggup lagi membiayai kuliahmu. Pilihlah apakah kau ingin berhenti dan bekerja, atau melanjutkan pendidikan dengan usahamu sendiri…..,” ucap Rukmini, sang ibunda, kala itu (โ„Ž๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š๐‘Ž๐‘› 55).

Dalam acara ๐‘™๐‘Ž๐‘ข๐‘›๐‘โ„Ž๐‘–๐‘›๐‘” dan bedah bukunya itu di Surabaya pada 16 April 2026 lalu, Munir mengakui bahwa kehidupan pribadinya sebetulnya condong mengalir saja, bahkan kadang agak ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘‘๐‘œ๐‘š. Tidak terprogram sedemikian rupa dari jauh-jauh hari --sebagaimana resep yang lazim disarankan oleh para motivator jika seseorang ingin membangun karier yang sukses.

Namun, dalam kasus Munir, mengalir bukan berarti ๐‘ ๐‘Ž๐‘˜ ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘๐‘๐‘’ ๐‘‘๐‘’๐‘ค๐‘’, ๐‘ ๐‘’๐‘š๐‘Ž๐‘ข ๐‘”๐‘ข๐‘’ atau hidup sembarangan, serta tak tentu arah.

Sebaliknya, Munir sudah memiliki kesadaran tentang nilai dan arah hidup sejak SMA. Maksudnya, dengan kondisi ekonomi orangtuanya yang penuh keterbatasan (bahkan ada kalanya tetangga rumah mengulurkan bantuan kebutuhan pokok lantaran iba), Munir menyadari sejak dini bahwa ia harus menjadi seseorang yang bermakna dalam kehidupan agar kelak kondisinya lebih baik daripada yang dialami orangtuanya. 

Jadi, itulah cita-cita Munir: menjadi orang yang bermanfaat dan memiliki arti (๐‘š๐‘’๐‘Ž๐‘›๐‘–๐‘›๐‘”). (โ„Ž๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š๐‘Ž๐‘› 40-41)

“Lebih baik kita dikenang sebagai orang baik daripada sebagai orang besar,” ucapnya. (โ„Ž๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š๐‘Ž๐‘› 230)

Nah, apa bentuk atau wujud pekerjaan/profesi menjadi orang yang bermanfaat, itulah yang Munir sama sekali tidak memiliki gambaran sejak jauh-jauh hari. Di sinilah maksud dari mengalir saja.

Mengalir tentu tidak sama dengan terseret arus. Mengalir itu bermuatan kesadaran: sadar kapan berkelok, kapan menepi, dan kapan berjalan pelan, tetapi jelas tidak pernah mandek. 

“Berkat pak guru Komari, saya merasa diorangkan, dianggap. Dan itu membuat kepercayaan diri saya tumbuh. Saya pun merasa, yang cocok buat saya kelak bukanlah jadi pegawai biasa,” demikian tertulis di halaman 41.

Karena menyadari bahwa hidupnya harus memiliki makna, Munir menerjemahkannya dalam kenyataan dengan senantiasa berusaha berbuat baik, serta tekun dalam mengerjakan apa yang digelutinya.(bersambung)

 

Tulisan berikutnya: "๐‘ฐ๐’ƒ๐’–, ๐’”๐’Š ๐‘ฎ๐’–๐’“๐’– ๐‘ฉ๐’†๐’”๐’‚๐’“ ๐‘ด๐’†๐’๐’•๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐‘บ๐’‘๐’Š๐’“๐’Š๐’•๐’–๐’‚๐’"