Kebangkitan Nasional dalam Konteks Pembagunan Daerah

avatar Shofa
  • URL berhasil dicopy
Mesak Paidjala (penulis)
Mesak Paidjala (penulis)

Oleh : Mesak Paidjala*

Jakarta, JatimUPdate.id - Momen Kebangkitan Nasional tidak hanya cukup kita maknai sebagai sebuah peristiwa historis yang diperingati setiap 20 Mei. Dalam konteks Indonesia modern, semangat itu seharusnya diterjemahkan menjadi kebangkitan daerah, sebuah gerakan kolektif untuk membangun kemandirian, daya saing, dan kesejahteraan masyarakat di setiap sudut kepulauan Indonesia.

Sebab, Indonesia tidak mungkin bisa bangkit secara nasional jika daerah-daerahnya masih jalan di tempat, bergantung dan tidak memilki kekuatan ekonomi maupun sumberdaya manusia yang memadai. Membawa semangat 1908 ke dalam pembangunan daerah abad ke-21 berarti mengubah cara kita mengelola potensi lokal. Ada tiga pilar utama yang menjadi kunci pembangunan daerah hari ini.

Dari Sentralistik Menuju Kemandirian Lokal

Semangat kebangkitan nasional mengajarkan kita untuk berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Dalam pembangunan daerah, semangat itu semestinya tercermin lewat penguatan otonomi daerah yang sehat dan produktif melalui Inovasi Kebijakan dan Kedaulatan Ekonomi

Daerah tidak bisa hanya terus-menerus menjadi pelaksana kebijakan pusat, melainkan aktif melahirkan inovasi yang sesuai dengan karakteristik wilayahnya masing masing, Daerah pertanian tentu membutuhkan pendekatan berbeda dengan daerah industri, kawasan pesisir, maupun wilayah wisata.

Karena itu, keberhasilan pembangunan daerah seharusnya tidak hanya diukur dari besarnya anggaran yang diterima, tetapi dari sejauh mana daerah mampu menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi lokal baik dari UMKM, pertanian, perikanan, ekonomi kreatif, hingga pariwisata, untuk menuju kedaulatan ekonomi. Karena pada akhirnya kemandirian daerah itu bukan soal melepaskan diri dari pusat, melainkan tentang kemampuan daerah untuk tidak terus-menerus bergantung.

Gotong Royong Digital (Konektivitas dan SDM)

Jika dulu Boedi Oetomo menyatukan kaum terpelajar lewat surat kabar dan pertemuan fisik, hari ini kebangkitan daerah dipicu oleh konektivitas digital.

Pemerataan Akses (internet dan infratruktur digital) kini bukan lagi pelengkap, tapi jadi kebutuhan dasar bagi pembangunan, Ketika sebuah desa mendapatkan akses internet yang baik, pemuda dan pelaku UMKM bisa memasarkan produk lokal ke pasar nasional bahkan pasar global, dan anak-anak bisa mengakses pendidikan yang lebih luas dan setara.

Namun infrastruktur saja tidak cukup. Kebangkitan daerah hanya akan terjadi jika kualitas sumber daya manusianya ikut meningkat, fokus pembangunan harus bergeser pada pendidikan vokasi yang link-and-match dengan industri lokal agar talenta terbaik tidak semua pindah ke ibu kota (menghindari brain drain).

Kolaborasi Pentahelix

Pembangunan daerah juga tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Kebangkitan modern membutuhkan kerja bersama melalui kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, masyarakat, dan media. Pemerintah berperan sebagai regulator dan pengarah kebijakan. Dunia usaha menghadirkan investasi dan lapangan kerja. Kampus menyediakan riset dan inovasi. Masyarakat menjadi penggerak sosial di tingkat akar rumput. Sementara media berfungsi mengawasi sekaligus menyebarkan optimisme pembangunan.
Tanpa kolaborasi semacam ini, pembangunan daerah akan berjalan parsial dan sulit berkelanjutan.

Intisari Kebangkitan Modern

Nasionalisme hari ini tidak lagi diukur dari perjuangan fisik angkat senjata, Nasionalisme tercermin dari seberapa besar sebuah daerah mampu mengentaskan kemiskinan, menurunkan angka stunting, meningkatkan literasi dan kualitas pendidikan, serta membuka lapangan kerja bagi warganya sendiri. Dengan itu, maka Membangun Indonesia dari pinggiran adalah wujud nyata dari merawat api kebangkitan nasional kita.

*Penulis adalah Ketua Departemen Pembagunan Nasional DEPINAS SOKSI