Dunia Modern Terlalu Munafik untuk Mengakui Perang Tidak Pernah Berakhir
Oleh: Catur Ambyah, M.Pd, Dosen citizenship dan master of social science
JatimUPdate.id - “Di era modern, perang paling efektif bukan yang menghancurkan kota, melainkan yang berhasil mengendalikan cara manusia berpikir.” Michel Foucault.
Ada masa ketika perang ditentukan oleh siapa yang paling lihai mengayunkan pedang. Hari ini perang ditentukan oleh siapa yang punya server paling dingin, algoritma paling canggih, dan buzzer paling tidak tahu malu.
Dunia memang berubah. Tapi satu hal tetap sama: negara selalu menemukan cara baru untuk mengendalikan manusia, sementara manusia selalu cukup naif untuk menyebutnya “kemajuan”.
Revolusi Industri pertama lahir di United Kingdom dengan bunyi mesin uap yang romantis di buku sejarah, tetapi brutal di dunia nyata.
Mesin-mesin itu tidak hanya memproduksi kain dan rel kereta; ia juga memproduksi kolonialisme dalam skala industri.
Eropa mendadak sadar bahwa dunia ternyata bisa dijarah lebih cepat kalau kapal perang digerakkan batu bara, bukan doa pastor.
Di titik ini nasionalisme model Germany tumbuh seperti alkohol murah: keras, memabukkan, dan membuat orang rela mati demi sesuatu yang bahkan tidak bisa disentuh—“jiwa bangsa”.
Johann Gottfried Herder menyebut bangsa punya Volksgeist, roh kolektif. Kedengarannya puitis sampai manusia mulai membakar manusia lain demi menjaga “kemurnian” roh itu.
Nasionalisme model ini percaya bangsa dibangun oleh darah, bahasa, sejarah, dan tanah leluhur. Jadi kalau lahirmu beda aksen sedikit saja, kau bisa dianggap tamu di rumah sendiri.
Lalu Revolusi Industri kedua datang membawa listrik, minyak bumi, dan kemampuan manusia memproduksi kematian secara massal.
Pabrik Ford tidak cuma melahirkan mobil, tetapi juga logika bahwa segala sesuatu bisa dibuat cepat, seragam, dan efisien termasuk perang.
Dua Perang Dunia lahir dari rahim modernitas ini. Ironis memang. Peradaban yang katanya makin maju justru menemukan cara paling efisien untuk menghancurkan sesamanya.
Di era ini, nasionalisme berubah menjadi industri propaganda. Benedict Anderson bilang bangsa hanyalah imagined community, komunitas imajiner.
Artinya, nasionalisme sebenarnya mirip fandom sepak bola: orang-orang yang tak saling kenal merasa bersaudara karena simbol dan cerita yang sama.
Bedanya, fandom bola paling banter rusuh stadion. Nasionalisme ekstrem bisa membakar satu benua. United States lalu datang dengan versi nasionalisme yang lebih licin.
Amerika tidak terlalu peduli warna kulitmu selama kau percaya pada “American Dream”. Nasionalisme model Amerika tidak menjual darah dan tanah, tetapi mimpi.
Semua orang boleh masuk, asal percaya kerja keras bisa membuatmu kaya raya. Tentu itu terdengar indah sebelum kita sadar bahwa sistemnya membuat satu persen orang menguasai sebagian besar kekayaan nasional sementara sisanya sibuk membeli motivasi dari konten TikTok.
Tetapi Amerika paham satu hal penting: budaya kadang lebih efektif daripada tank. Maka Hollywood bekerja lebih rajin daripada diplomat.
Marvel, McDonald’s, Netflix, NBA, semuanya adalah ekspor ideologi yang dibungkus hiburan.
Antonio Gramsci menyebutnya hegemoni budaya: ketika orang dijajah tanpa merasa dijajah karena mereka menikmati musik penguasanya.
Lalu internet datang. Revolusi Industri 3.0 membuat manusia percaya teknologi akan membebaskan semua orang.
Kenyataannya? Ia hanya memindahkan rantai ke tempat yang lebih estetis. Dulu manusia dijajah dengan senapan, sekarang dengan notifikasi.
Perang pun berubah bentuk. Tahun 2010, virus Stuxnet menyerang fasilitas nuklir Iran tanpa perlu satu pun tentara mendarat.
Dunia mulai masuk fase ketika keyboard lebih menakutkan daripada rudal. Michel Foucault sebenarnya sudah lama mengingatkan: kekuasaan modern bekerja lewat pengawasan.
Dan hari ini kita memberikannya secara sukarela lewat selfie, GPS, dan centang “I Agree” yang tidak pernah dibaca. Masuk Revolusi Industri 4.0, keadaan menjadi makin absurd.
Negara tidak lagi cukup menguasai minyak; sekarang mereka ingin menguasai data, algoritma, dan perhatian manusia.
Perang Russia-Ukraine War menunjukkan bagaimana drone murah bisa mempermalukan tank mahal. Sementara perang Israel–Hamas war memperlihatkan tragedi kemanusiaan berubah menjadi konten real-time.
Kematian kini bersaing dengan algoritma. Jika tragedimu tidak cukup viral, mungkin dunia tidak akan peduli.
Laporan World Economic Forum 2025 bahkan menyebut disinformasi AI sebagai ancaman global utama.
Deepfake politik mulai beredar. Orang bisa dibuat tampak mengatakan sesuatu yang tak pernah mereka katakan. Kebenaran hari ini seperti recehan parkir: ada, tapi nilainya kecil sekali.
Dan sekarang manusia memasuki Revolusi Industri 5.0 dengan wajah sok futuristik: AI, robot humanoid, komputasi kuantum, dan jargon “human-centered technology”.
Padahal negara-negara besar sebenarnya sedang panik. Mereka takut kehilangan dominasi. Maka perebutan chip AI lebih panas daripada perebutan minyak abad lalu.
NVIDIA bisa lebih berpengaruh daripada banyak kementerian. Silicon Valley kadang tampak lebih menentukan masa depan dunia daripada sidang PBB.
Di tengah semua itu, nasionalisme tetap dipakai seperti korek api politik. Model Jerman menjual identitas. Model Amerika menjual mimpi.
Model Soviet Union menjual loyalitas kolektif pada negara. Tiga-tiganya berbeda bungkus, tetapi sama-sama membutuhkan satu hal: warga yang percaya bahwa negaranya selalu benar dan mungkin di situlah ironi terbesar manusia modern.
Kita hidup di zaman paling canggih sepanjang sejarah, tetapi tetap mudah digiring oleh simbol, slogan, dan rasa takut yang sama primitifnya seperti manusia ribuan tahun lalu.
Bedanya sekarang propaganda hadir dengan kualitas HD dan backsound sinematik.
“Negara modern jarang membunuh manusia secara langsung. Ia lebih suka membuat manusia saling membunuh atas nama ideologi, identitas, dan rasa takut.” Antonio Gramsci
Editor : Redaksi