Lima Hari Menjelang Seleksi

avatar Rio Rolis
  • URL berhasil dicopy

Oleh: Rio Rolis 

JatimUPdate.id - Di telepon, suara ibu saya menahan sesuatu.
“Kalau lewat pos biasa, mungkin seminggu sampainya.”
Saya tidak menjawab.
Saya diam.

Di ruang tamu rumah mertua, televisi menyala pelan. Kadang suara iklan muncul sebentar lalu hilang lagi begitu saja. Di meja kayu, map cokelat itu saya letakkan begitu saja.
Sudah beberapa kali saya buka hari itu.
Isinya tidak banyak. Tapi ada satu bagian yang terus kembali saya lihat.
E-KTP baru.

Satu kotak kecil di lembar persyaratan masih kosong.
Saat itu saya sedang berada di antara dua alamat. Yang satu sudah lama saya tinggalkan. Yang satu lagi belum sepenuhnya menerima saya.
KTP lama dan kartu keluarga lama harus diperbarui karena perpindahan domisili dari Lubuklinggau, Sumatera Selatan, ke Blitar, Jawa Timur. Semua proses pengurusannya dilakukan di Lubuklinggau.

Masalahnya, waktu pendaftaran calon anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Pemilu 2019 tinggal beberapa hari lagi.
Hari-hari berjalan lebih cepat dari biasanya.

Tanggal penutupan pendaftaran yang tertempel di berkas seperti terus bergerak mendekat. Saya membuka checklist kelengkapan itu berulang kali. Beberapa bagian sudah saya tandai. Tinggal satu yang belum ada.
Di Lubuklinggau, ibu saya mengurus semuanya sendiri.

Saya membayangkan dia keluar rumah pagi-pagi dengan map plastik bening di tangan. Naik ojek. Turun di kantor. Pindah lagi ke tempat lain.
“Barusan mama carter ojek lagi,” katanya di telepon, sambil ketawa kecil.

Tertawanya pendek.
“Takut telat sampai.”
Lalu ada jeda kecil setelah itu.
Bukan jeda yang dibuat-buat. Lebih seperti suara yang berhenti sebentar sebelum melanjutkan hari.
Ayah saya sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Meski di rumah masih ada adik saya, ibu tetap menjadi orang yang paling sibuk setiap kali urusan anak-anaknya harus selesai cepat.

Saya bilang pelan,
“JNE saja, Ma.”
Tidak ada alasan panjang.
Nama itu keluar seperti sesuatu yang sudah pernah saya percaya sebelumnya.
Mungkin karena beberapa tahun sebelumnya, saat masih kuliah di Jember, saya beberapa kali menggunakan jasa pengiriman untuk hobi memelihara ikan hias. Dari situ saya mulai akrab dengan satu hal sederhana: ada paket yang tidak hanya membawa barang, tapi juga kecemasan orang yang menunggu di ujung perjalanan.

Di kepala saya, amplop cokelat itu mulai bergerak.
Dari Lubuklinggau.
Saya tidak tahu benar bagaimana jalannya sampai ke Blitar.
Tapi di ingatan saya, jarak antarpulau selalu terasa panjang.
Ada jalan Sumatera yang berguncang.
Ada pelabuhan.
Ada laut.
Lalu Jawa.
Hari itu saya justru tidak berada di rumah.

Saya harus menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai salah satu syarat administrasi seleksi calon anggota PPK.

Saya masuk ke beberapa ruangan kecil satu per satu. Duduk. Menunggu nama dipanggil. Pindah lagi ke meja berikutnya.

Tapi pikiran saya tidak ikut berpindah.
Ia tetap tinggal di rumah.
Di rumah, ada seseorang yang sedang menunggu paket yang sebenarnya hanya satu kartu, tetapi terasa seperti sesuatu yang tidak boleh terlambat sedikit pun.
Saya membuka ponsel.
Menutupnya lagi.
Membukanya lagi.
“Sudah sampai?”
“Belum.”
“Kalau sudah, taruh di tempat aman ya.”
Anak kami waktu itu masih kecil. Saya takut amplop itu dimainkan atau terselip entah di mana.
Waktu berjalan tanpa benar-benar saya ikuti.

Saya hanya menunggu bagian yang tidak bisa saya lihat sendiri.
Sampai pesan itu masuk.
“Sudah datang.”
Saya membaca pesan itu.
Saya tidak langsung menutup layar.
Saya membaca lagi.
Tidak ada tambahan kalimat setelahnya.

Tidak ada yang berubah di ruangan tempat saya berdiri. Orang-orang tetap lewat. Suara tetap ada. Langkah kaki tetap terdengar.
Tapi sesuatu yang sejak beberapa hari terakhir menekan kepala saya perlahan mengendur.
Beberapa hari kemudian, saya ikut seleksi.
Saya jalani satu per satu.
Datang.
Menunggu.
Masuk.
Keluar.
Lanjut lagi.
Tidak ada bagian yang terasa dramatis waktu itu. Semuanya berjalan seperti hari-hari biasa yang hanya sedikit lebih melelahkan.
Saya sampai di akhir proses itu.
Dan saya tetap tinggal di sana sampai tahapan terakhir.

Pada Pemilu 2019, saya dipercaya menjadi Ketua Divisi Teknis dan Penghitungan pada badan adhoc PPK Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.
Bertahun-tahun setelahnya, saya masih ingat satu hal yang tidak pernah saya tulis di mana pun.

Sebuah amplop yang bergerak dari Lubuklinggau ke Blitar.
Sampai hari ini saya masih menyimpan dua E-KTP dengan alamat berbeda.
Yang satu Lubuklinggau. Yang satu Blitar.

Di dompet, keduanya tidak pernah saya keluarkan bersamaan.