Dua Cermin Untuk Desa Yang Sama: Antara Wajah dan Data
Oleh: Rio Rolis
Desa Dadaplangu, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar
JatimUPdate.id - Saya baru pulang dari barbershop. Di leher masih tersisa rambut halus yang terasa belum ikut terbuang bersama potongan tadi. Di desa ini, hal-hal kecil seperti rambut, usaha, dan pekerjaan sering kali hanya terlihat dari satu sisi—dan sisi lainnya baru tampak ketika kita mencoba mencatatnya. Di rumah, saya berdiri di depan cermin tanpa ada yang berubah, namun ada sesuatu yang terasa bergeser. Istri saya hanya menoleh sebentar dari arah dapur menanyakan apakah rambut sudah dipotong, dan saat ia mendekat memperhatikan lebih lama, ia menyebutkan potongannya belum rapi karena sebelah kiri terlihat lebih tinggi. Saya hanya tersenyum dan berjanji akan berganti tempat cukur dua bulan lagi, lalu berlalu ke kamar mandi.
Di luar rumah, desa berjalan seperti biasa. Motor melintas perlahan, suara ayam bersahutan dari belakang pekarangan, kucing berkejaran di atap, dan aktivitas bongkar muat pakan ternak yang tidak pernah benar-benar berhenti. Namun di beberapa titik, ada yang berubah perlahan. Anak-anak muda berdiri lebih lama di depan kaca jendela, seolah memastikan sesuatu tentang dirinya sendiri, sementara hamparan sawah tetap terbentang diam di belakang mereka. Barbershop di ujung desa selalu tampak lebih terang dibandingkan bangunan lain di sekitarnya; di dalamnya hanya terdengar dengungan mesin cukur, musik yang diputar pelan, dan orang-orang yang datang memeriksa penampilan mereka di depan cermin besar yang tidak sekadar memantulkan wajah, tetapi juga rasa percaya diri.
Di kursi antrean, saya melihat seorang pemuda duduk cukup lama menatap bayangannya sendiri. Ia menggeser kepala demi menemukan sudut yang paling pas, lalu pergi tanpa banyak bicara. Di desa ini, perubahan tidak selalu lahir dari sawah atau kandang ternak; sebagian datang dari luar negeri melalui mereka yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia di Jepang, Korea, atau Malaysia dengan harapan pulang membawa tabungan yang cukup. Kini, Badan Pusat Statistik sedang bersiap menyelenggarakan Sensus Ekonomi 2026, sebuah langkah strategis untuk memetakan aktivitas ekonomi hingga ke tingkat paling bawah. Menjelang pelaksanaannya, tantangan yang mulai terlihat di desa seperti Dadaplangu bukan sekadar menghitung angka, melainkan memahami kehidupan ekonomi yang sering tumbuh diam-diam di rumah warga, ruang usaha kecil, atau pekerjaan yang bahkan belum dianggap sebagai usaha oleh pelakunya sendiri.
Saya sempat berbincang dengan Agung, pemilik barbershop itu yang baru tiga tahun menjalani usahanya. Ia mengaku belum mengetahui mengenai Sensus Ekonomi 2026 yang akan dilaksanakan tahun ini. Awalnya ia membuka usaha ini bukan karena cita-cita, melainkan karena keterampilan inilah yang paling ia kuasai setelah memasuki usia kerja. Berbeda dengan beberapa temannya yang memilih merantau ke kota besar atau luar negeri, Agung tetap tinggal di desa karena merasa harus menjaga orang tuanya yang mulai menua.
Agung termasuk pribadi yang agak pemalu, tetapi ramah kepada pelanggan. Ia lebih sering berbicara seperlunya sambil tetap fokus merapikan garis rambut di depan telinga pelanggan. Dari ruang kecil berisi dua kursi, cermin besar, kipas angin, dan aroma minyak rambut yang samar, ia perlahan membangun sumber penghidupan sendiri. Kini penghasilannya rata-rata bahkan sudah melampaui Upah Minimum Regional di daerahnya, sesuatu yang dulu tidak pernah ia bayangkan ketika pertama kali belajar mencukur rambut dari video di internet dan membantu temannya secara bergantian. Meski demikian, sampai sekarang ia belum juga berpikir untuk menikah. Ia hanya tertawa kecil saat saya menanyakannya, lalu kembali menyalakan mesin cukur.
Di ruang kecil seperti milik Agung itulah sebenarnya denyut ekonomi desa bergerak. Bukan dalam bentuk perusahaan besar atau bangunan megah, melainkan usaha-usaha sederhana yang tumbuh perlahan bersama kebutuhan masyarakat sekitar. Persoalannya menjelang pendataan nanti, tidak semua aktivitas ekonomi hadir dalam bentuk yang mudah dicatat. Banyak usaha berjalan secara informal seperti warung kecil, jasa rumahan, tukang cukur, hingga pedagang keliling yang belum memiliki izin resmi atau tempat usaha tetap. Aktivitas mereka bergerak mengikuti ruang dan waktu, sehingga tidak selalu mudah ditemukan dalam satu kali kunjungan pencacahan.
Selain itu, sebagian pelaku usaha kemungkinan masih bersikap hati-hati ketika ditanya mengenai pendapatan yang diperoleh. Di desa, data tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang netral. Ada kekhawatiran bahwa informasi usaha akan berkaitan dengan kewajiban perpajakan, bantuan sosial, atau urusan administrasi lain yang belum sepenuhnya dipahami. Akibatnya, ada yang menjawab seperlunya, ada pula yang memilih tidak menyampaikan aktivitas usahanya secara lengkap. Padahal sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997, data individu bersifat rahasia dan hanya digunakan untuk kepentingan perencanaan pembangunan.
Dalam banyak keadaan, kehidupan yang rumit pada akhirnya harus diterjemahkan menjadi deretan angka. Padahal di balik setiap angka selalu ada cerita tentang cara bertahan hidup, tentang pekerjaan yang dijalankan diam-diam, tentang keluarga yang tetap harus makan, bahkan tentang kegagalan yang tidak pernah terlihat dalam formulir pendataan. Di situlah barangkali jarak paling sunyi antara realitas dan angka statistik.
Selalu ada jarak antara catatan administratif dan realitas di lapangan. Statistik membantu membaca pola perkembangan, tetapi kehidupan masyarakat sering bergerak lebih rumit daripada tabel dan formulir yang sedang disiapkan. Ada pekerjaan yang berjalan tanpa papan nama, ada penghasilan tambahan yang tidak pernah dilaporkan, dan ada orang-orang yang bekerja setiap hari tanpa pernah merasa dirinya bagian dari pelaku ekonomi formal. Hal itu ibarat pertandingan sepak bola ketika satu tim menguasai penguasaan bola, jumlah operan, dan tembakan ke gawang, tetapi tetap pulang dengan kekalahan karena satu gol kecil yang luput diantisipasi.
Salah satu aktivitas ekonomi yang diperkirakan paling sulit terdeteksi nantinya adalah kegiatan les privat yang berlangsung di ruang tamu rumah warga pada malam hari. Kegiatan ini tidak memiliki papan nama, jam operasional pasti, atau ruang kerja khusus. Pelakunya lebih dahulu dikenal sebagai tenaga pendidik, sehingga ketika ditanya pekerjaan utama, jawaban yang tercatat adalah guru, sementara kegiatan mengajar tambahan dianggap sekadar sampingan. Padahal bagi sebagian guru honorer, pendapatan dari les privat justru jauh lebih besar dibandingkan honor mengajar resmi yang mereka terima. Di titik inilah batas antara profesi utama dan usaha sampingan menjadi samar, sehingga potensi ekonomi yang nyata berisiko tidak sepenuhnya tercatat dalam pendataan nanti.
Sensus Ekonomi 2026 pada akhirnya adalah wujud upaya negara mendekatkan diri pada kehidupan ekonomi yang terus bergerak, berubah bentuk, dan kadang bersembunyi di balik identitas sosial sehari-hari. Barbershop yang terang, sawah yang tenang, usaha rumahan, hingga les privat tanpa nama, semuanya merupakan bagian dari peta ekonomi Indonesia yang sesungguhnya yang sedang disiapkan untuk dipetakan.
Pada Kamis malam setelah kegiatan yasinan, pesan singkat dari Agung masuk ke ponsel saya: “Giliran sampean, Pak.” Saya pun kembali datang ke barbershop itu. Lampunya masih terang seperti biasa. Di depan cermin besar, Agung berdiri sambil mengenakan celemek hitam yang sedikit dipenuhi potongan rambut halus. Ia meminta saya duduk, lalu mulai menyalakan mesin cukur tanpa banyak percakapan.
Di ruangan kecil itu, rambut-rambut jatuh perlahan ke lantai keramik dan segera disapu sebelum sempat diperhatikan terlalu lama. Saya tiba-tiba membayangkan betapa banyak kehidupan di desa yang sebenarnya bergerak dengan cara serupa: bekerja setiap hari, menghasilkan sesuatu, menopang keluarga, tetapi mudah luput dari perhatian karena tidak memiliki tanda yang cukup besar untuk dilihat oleh sistem pencatatan negara.
Berdasarkan pengamatan ini, persiapan menuju Sensus Ekonomi 2026 perlu memperkuat pendekatan komunikasi yang humanis. Sosialisasi harus lebih dekat dan menyentuh pemahaman masyarakat bahwa data yang diberikan akan menjadi dasar kebijakan yang tepat sasaran, bukan alat untuk pengawasan. Pendataan perlu melihat di balik definisi "usaha" yang kaku, agar mampu menangkap segala bentuk aktivitas ekonomi yang hidup di tengah masyarakat.
Di antara dua cermin tersebut — satu memantulkan wajah warga dan satu lagi berusaha memantulkan data ekonomi — mungkin memang tidak ada yang mampu menunjukkan kenyataan secara utuh. Sebagian kehidupan akan tetap tercecer seperti rambut-rambut halus di lantai barbershop: kecil, mudah tersapu, nyaris tidak terlihat, tetapi diam-diam menjadi bukti bahwa seseorang pernah hidup, bekerja, dan bertahan di sana. (*)
Editor : Redaksi