Menakar Welas Asih Pemimpin: Antara Megahnya Pesta Kota dan Sunyinya Penggusuran

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

Catatan Redaksi - Wajah kota modern sering kali terjebak dalam kosmetik visual. Di satu sudut jalan, lampu-lampu festival berpijar terang, musik berdentum, dan pidato tentang keberhasilan kota digaungkan dengan meriah. 

Namun, hanya beberapa kilometer dari panggung megah tersebut, ada ruang-ruang sunyi tempat para pedagang kecil mengalami penggusuran atas nama ketertiban dan estetika. 

Kontras yang tajam ini memicu pertanyaan mendasar untuk siapa sebenarnya kota ini dibangun? 

Paradoks Estetika dan Perut yang Lapar

Ketika sebuah pemerintah daerah gencar mengumandangkan efisiensi anggaran, setiap rupiah yang keluar dari kas publik seharusnya diuji dengan asas prioritas. 

Namun menjadi ironis ketika anggaran besar masih mampu dialokasikan untuk pesta pora seremonial yang monumental, sementara di saat yang sama, kebijakan penertiban ekonomi akar rumput dilakukan secara represif.

Penggusuran Pedagang Kaki Lima (PKL) tanpa relokasi yang matang merupakan kegagalan membaca skala prioritas. 

Festival kota mungkin memberikan kebahagiaan sesaat bagi warga. Namun kehilangan mata pencaharian memberikan penderitaan yang permanen bagi masyarakat rentan. 

Pemerintah tidak bisa memoles wajah kota agar terlihat cantik di luar, sementara di dalamnya ada warga yang menjerit karena ruang hidupnya dirampas.

Kepemimpinan Kosmetik vs. Kepemimpinan Welas Asih

Dunia hari ini tidak kekurangan pemimpin yang pandai berpesta atau cakap mencetak angka pertumbuhan di atas kertas. 

Yang kian langka adalah pemimpin yang memiliki welas asih (compassionate leadership) sebuah gaya kepemimpinan yang menempatkan empati di atas estetika, dan keadilan di atas pencitraan.

Pemimpin yang welas asih memahami bahwa PKL bukanlah "sampah visual" yang harus dilenyapkan demi terlihat rapi di mata investor atau wisatawan. 

Mereka adalah motor ekonomi informal yang bertahan hidup mandiri tanpa membebani negara. 

Menggusur mereka demi keindahan kota yang semu, sambil merayakan hari jadi kota secara mewah, meruy bentuk tebang pilih kepedulian yang mencederai etika publik.

Menolak Maskot Keberhasilan Semu

Kemeriahan festival sering kali berfungsi sebagai anestesi sosial sebuah upaya pengalihan agar publik terbuai oleh ilusi kemakmuran dan melupakan konflik agraria serta kemiskinan perkotaan yang nyata. 

Jika keberhasilan sebuah kepemimpinan hanya diukur dari seberapa meriah pesta yang dibuat, maka kota tersebut sedang berjalan menuju krisis kemanusiaan.

Kota yang humanis tidak dinilai dari bersihnya trotoar dari orang miskin, melainkan dari seberapa mampu kota tersebut merangkul kelompok miskin agar bisa naik kelas. 

Penataan tidak harus berarti pemusnahan. Pendekatan top-down yang represif harus digantikan dengan dialog partisipatif.

Mengembalikan Jiwa Kota

Kota bukanlah hanya kumpulan beton, aspal, dan taman-taman indah. Jiwa dari sebuah kota adalah manusianya termasuk mereka yang mengais rezeki di pinggir jalan.

Sudah saatnya masyarakat menuntut model kepemimpinan yang utuh. Membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai merayakan pesta di tengah narasi efisiensi, tetapi pemimpin yang tangannya merangkul, kebijakannya melindungi, dan hatinya dipenuhi welas asih untuk memastikan tidak ada satu pun warganya yang kelaparan di balik megahnya lampu-lampu kota.