Dari Negeri Pengimpor Menjadi Penyuplai Pangan
Oleh Zainal Abidin
Jurnalis JatimUPdate.id Gresik
Gresik, JatimUPdate.id - Beberapa tahun lalu, sulit membayangkan Indonesia berbicara sebagai pengekspor beras.
Negeri ini terlalu lama akrab dengan berita impor, gejolak harga, dan kekhawatiran terhadap cadangan pangan nasional.
Karena itu, ketika Malaysia mulai melirik beras Indonesia dalam jumlah besar, yang berubah sesungguhnya bukan sekedar arah perdagangan, melainkan cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.
Perum Bulog dikabarkan mencapai kesepakatan awal dengan Malaysia terkait rencana pembelian beras premium sebanyak 500 ribu ton.
Angka itu jauh lebih besar dibanding pembicaraan sebelumnya yang hanya berada di kisaran 200 ribu ton.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut proses tersebut tinggal menunggu finalisasi harga dan skema distribusi.
Di balik negosiasi dagang itu, sebenarnya ada simbol perubahan yang lebih besar, yakni Indonesia perlahan mulai keluar dari bayang-bayang sebagai negara pengimpor pangan.
Selama bertahun-tahun, swasembada sering terdengar sebagai slogan politik yang datang dan pergi.
Namun dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah berupaya membangun narasi baru bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga tentang posisi Indonesia dalam percaturan global.
Data produksi beras nasional yang disebut surplus, meningkatnya Cadangan Beras Pemerintah, hingga berhentinya impor sejumlah komoditas strategis menjadi fondasi optimisme tersebut.
Pemerintah juga mulai menghubungkan penguatan pangan dengan reformasi energi, pupuk subsidi, dan perluasan pasar ekspor.
Di tengah ancaman krisis pangan dunia, langkah ini memberi pesan bahwa pangan kini bukan lagi semata urusan pertanian, melainkan bagian dari geopolitik dan kedaulatan negara.
Namun sejarah juga mengajarkan bahwa keberhasilan pangan tidak cukup diukur dari angka produksi atau besarnya ekspor.
Ketahanan pangan sejatinya baru bermakna ketika hasil panen mampu menjaga stabilitas harga, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memastikan masyarakat kecil tetap bisa mengakses kebutuhan pokok dengan layak.
Karena itu, ekspor beras ke Malaysia bukan hanya soal transaksi dagang. Ia menjadi ujian: apakah Indonesia benar-benar sedang membangun kemandirian pangan yang kuat, atau sekadar menikmati surplus sesaat di tengah momentum politik dan pasar global.
Sebab sebuah bangsa tidak disebut kuat hanya karena mampu menjual pangannya ke luar negeri, tetapi ketika ia mampu memastikan rakyatnya sendiri tidak lagi hidup dalam kecemasan terhadap kebutuhan paling dasar yakni pangan.
Editor : Redaksi