Mendes Yandri Ajak Unida Gontor Bangun Desa, Siapkan Desa Binaan Dukung MBG dan Ekspor

avatar M Aris Effendi
  • URL berhasil dicopy
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyampaikan sambutan saat peluncuran Desa Binaan Agrotourism dan Sekolah Wakaf Berkah Indonesia di Universitas Darussalam (Unida) Gontor.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyampaikan sambutan saat peluncuran Desa Binaan Agrotourism dan Sekolah Wakaf Berkah Indonesia di Universitas Darussalam (Unida) Gontor.

 

Ponorogo, JatimUPdate.id, – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengajak Universitas Darussalam (Unida) Gontor berkolaborasi membangun desa guna mempercepat pengentasan sekitar 9.300 desa tertinggal dari total 75.266 desa di Indonesia.

Ajakan tersebut disampaikan Yandri saat menghadiri peluncuran Desa Binaan Agrotourism dan Sekolah Wakaf Berkah Indonesia di Kampus Unida Gontor, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, perguruan tinggi dan pondok pesantren memiliki posisi strategis dalam mendukung pemerataan pembangunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

"Komitmen pondok pesantren tidak perlu diragukan lagi, apalagi Gontor yang telah dikenal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat internasional," ujar Yandri.

Ia menjelaskan, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita keenam menempatkan pembangunan desa sebagai salah satu prioritas nasional, yakni membangun dari desa dan dari bawah untuk mewujudkan pemerataan ekonomi serta mengentaskan kemiskinan.

Menurut Yandri, arah kebijakan tersebut diterjemahkan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal ke dalam 12 Aksi Bangun Desa, Bangun Indonesia.

"Melalui Asta Cita ini, kami menurunkannya menjadi 12 Aksi Bangun Desa, Bangun Indonesia," katanya.

Program tersebut mencakup penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pembentukan Koperasi Desa Merah Putih, pengembangan ketahanan pangan melalui desa tematik, hingga pengembangan desa wisata dan desa ekspor.

Bahkan, saat ini desa-desa di Indonesia telah memiliki peluang mengekspor produk unggulannya secara langsung ke 49 negara tujuan.

Karena itu, Yandri mengajak Yayasan Gontor dan Unida Gontor menjalin kolaborasi dengan Kemendes PDT melalui pembinaan desa-desa sesuai potensi yang dimiliki.

Desa binaan tersebut diharapkan mampu menjadi pemasok bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus menghasilkan komoditas berorientasi ekspor.

"Saya mengajak para mahasiswa agar tidak lagi hanya berpikir mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat," tegas mantan Wakil Ketua MPR RI itu.

Dalam kesempatan tersebut, Yandri juga memaparkan perkembangan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih. Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan pembangunan gudang, gerai, serta berbagai kebutuhan operasional koperasi.

Meski demikian, kerja sama dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) maupun produk unggulan desa tetap dapat dilakukan.

Ia menegaskan tenaga kerja yang direkrut dalam operasional koperasi diprioritaskan berasal dari masyarakat desa setempat.

"Koperasi Desa Merah Putih, BUMDes, dan desa tematik diharapkan menjadi instrumen pemerataan ekonomi di Indonesia," ujarnya.

Untuk mempercepat pembangunan desa, Kemendes PDT menerapkan konsep Kolaborasi Octahelix, yakni sinergi delapan unsur pembangunan yang melibatkan perguruan tinggi, media, organisasi masyarakat, dunia usaha, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Menurut Yandri, kolaborasi tersebut akan semakin kuat apabila pondok pesantren turut mengambil peran aktif. Selain mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat, pesantren juga dinilai memiliki peran penting dalam membangun karakter generasi muda sekaligus membentengi masyarakat desa dari ancaman penyalahgunaan narkoba dan maraknya judi daring. (ries/yh)