Rojil Ungkap Pengaruh Gagasan Bung Karno: Dari PBB hingga Dibaca Ayatollah Khomeini
Surabaya,JatimUPdate.id – Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sekaligus Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Surabaya, Rojil Nugroho Bayu Aji, menegaskan Pancasila merupakan hasil gagasan bersama para pendiri bangsa, bukan milik satu tokoh maupun kelompok tertentu.
Hal itu disampaikan Rojil dalam dialog kebangsaan PAC PDIP Kecamatan Bulak Surabaya bertajuk “Menggali Api Pemikiran Bung Karno untuk Kedaulatan Bangsa di Era Digital”, di Taman Surabaya, Jumat (19/6) malam.
Rojil menjelaskan, sebelum Indonesia merdeka, dibentuk BPUPKI untuk mempersiapkan kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam proses tersebut, Soekarno menjadi salah satu tokoh yang menyampaikan gagasan tentang dasar negara.
“Soekarno itu sebagai penggali Pancasila. Soekarno sendiri yang menyampaikan saya penggali Pancasila. Bukan berarti Pancasila itu milik Soekarno sendiri, tetapi gagasan pemikiran itu awalnya disampaikan oleh Soekarno dan kemudian dibawa ke Panitia Sembilan,” tutur Rojil.
Menurutnya, Panitia Sembilan merupakan bukti perumusan Pancasila melibatkan banyak unsur bangsa.
Sebab dalam perumusan tersebut terdapat berbagai tokoh, nasionalis, kelompok agama, hingga perwakilan masyarakat lainnya.
“Di situ ada Muhammad Hatta, Maramis, KH Agus Salim, dan tokoh-tokoh lainnya. Ada dari NU, Muhammadiyah, kelompok Jawa, non muslim, semuanya masuk,” katanya.
Rojil menyebut, proses lahirnya Pancasila membedakan Indonesia dengan sejumlah negara lain.
Pasalnya sebut Rojil, dasar negara Indonesia dirumuskan melalui keterlibatan banyak kelompok.
“Kalau dasar negara Pancasila itu, hebatnya para pendiri bangsa kita merumuskan. Ada kelompoknya, ada perempuannya, ada Maria Ulfa. Dari sisi agama semua ada. Dari sisi etnik juga ada orang Tionghoa, ada orang Belanda yang pro Indonesia. Semua memberikan sumbangsih,” jelasnya.
Ia menambahkan, Pancasila yang disahkan pada 18 Agustus 1945 merupakan hasil kesepakatan bersama setelah melalui proses pembahasan panjang.
“Awalnya ada keinginan dari kelompok tertentu, tetapi semua menyampaikan bahwa ini menjadi milik bersama. Kalau ada perbedaan, tidak langsung diputuskan sepihak, tetapi dibicarakan bersama,” tuturnya.
Rojil juga menyoroti gagasan Bung Karno yang tidak hanya berpengaruh di dalam negeri, tetapi juga mendapat perhatian dunia internasional.
Salah satunya saat Soekarno menyampaikan pidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 30 September 1960.
Menurutnya, pemikiran Soekarno tentang kemerdekaan bangsa-bangsa menjadi inspirasi bagi banyak negara, utamanya Asia dan Afrika yang saat itu baru merdeka.
“Gagasan Soekarno tidak hanya diterima bangsa Indonesia, tetapi dunia internasional. Bahkan pemerintah Iran mengakui ketika membaca gagasan-gagasan Soekarno. Ayatollah Khomeini juga membaca buku-buku Soekarno,” ujarnya.
Ia menegaskan, gagasan Soekarno sejalan dengan prinsip kemerdekaan merupakan hak segala bangsa.
Maka dari itu, Indonesia sejak dulu konsisten mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa lain, termasuk Palestina.
“Bahkan dulu sepak bola pun dilarang Soekarno bertemu dengan Israel. Soekarno berani mengambil sikap pada waktu itu,” katanya.
Rojil menambahkan, Soekarno juga menawarkan konsep jalan ketiga di tengah dunia yang saat itu terbagi antara blok barat dan blok timur.
“Soekarno menyampaikan ada jalan ketiga. Yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, dan Keadilan Sosial. Namanya Pancasila,” beber Rojil Nugroho. (Roy/Yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat