HIPMI Sidoarjo Luncurkan Program Bioflok Terintegrasi, Siapkan Wirausaha Baru dan Perkuat Ketahanan Pangan
Sidoarjo, JatimUPdate.id - Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Sidoarjo meresmikan Program Integrated Farming Budidaya Ikan Air Tawar Sistem Bioflok sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong lahirnya wirausaha baru di sektor perikanan dan peternakan.
Program tersebut merupakan implementasi konsep Sapta Delta yang digagas Ketua Umum BPC HIPMI Kabupaten Sidoarjo, Muh. Zakaria Dimas Pratama.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI melalui program bantuan budidaya perikanan.
Peresmian dilakukan di dua lokasi yang menjadi proyek percontohan (pilot project), yakni di Pokdakan Cahaya Muda Gemilang, Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, pada Selasa (30/6/2026), dan dilanjutkan di Pokdakan Wiwit Mulyo, Desa Watugolong, Kecamatan Krian, Rabu (1/7/2026).
Kedua kelompok pembudidaya ikan tersebut menjadi binaan HIPMI Sidoarjo dalam pengembangan ekosistem integrated farming.
Selain sektor perikanan, HIPMI juga membina tiga kelompok peternak ayam petelur sebagai bagian dari model usaha terpadu yang menghubungkan sektor perikanan, peternakan, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Sebagai bentuk dukungan pemerintah, masing-masing kelompok menerima bantuan lengkap berupa satu unit bangunan pendukung budidaya, delapan kolam bioflok berkapasitas besar, 20 ribu benih ikan air tawar, serta 1,8 ton pakan pelet yang mencukupi kebutuhan satu siklus produksi.
Ketua Umum BPC HIPMI Kabupaten Sidoarjo, Muh. Zakaria Dimas Pratama, mengatakan peresmian program tersebut bukan sekadar penyerahan bantuan, melainkan awal pembangunan ekosistem ekonomi yang menghubungkan seluruh rantai usaha dari hulu hingga hilir.
"Persoalan terbesar daerah bukan karena kekurangan potensi, tetapi karena potensi-potensi yang ada masih berjalan sendiri-sendiri. Ketika petani, pembudidaya ikan, pelaku usaha, akademisi, investor, dan pemerintah dipertemukan dalam satu ekosistem, yang tumbuh bukan hanya satu usaha, tetapi ekonomi daerah secara keseluruhan. Itulah semangat Sapta Delta yang kami bangun melalui Integrated Farming," ujar Zakaria.
Menurutnya, HIPMI hadir sebagai penghubung berbagai potensi yang selama ini belum saling terkoneksi. Banyak pelaku usaha yang memiliki produk berkualitas, namun masih terkendala akses pasar, pembiayaan, hingga jejaring bisnis.
Melalui program tersebut, pembudidaya ikan, peternak ayam petelur, pelaku UMKM, akademisi, pemerintah, investor, media, dan jaringan pemasaran disatukan dalam satu rantai nilai yang saling menguatkan sehingga mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, program ini juga disiapkan sebagai laboratorium kewirausahaan berbasis masyarakat. Para kelompok binaan didorong memiliki kemampuan mengelola usaha secara profesional, memanfaatkan teknologi budidaya modern, membangun jaringan pemasaran, mengakses pembiayaan, hingga melakukan hilirisasi produk agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
HIPMI Sidoarjo juga mendorong modernisasi sektor pangan melalui penerapan digital farming, smart aquaculture, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), pencatatan usaha digital, hingga pemasaran berbasis teknologi.
Dengan pendekatan tersebut, sektor perikanan dan peternakan diharapkan mampu menarik minat generasi muda karena tidak lagi dipandang sebagai sektor tradisional, melainkan sebagai peluang usaha modern yang menjanjikan.
Selain itu, hasil budidaya juga diarahkan untuk tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah melalui pengembangan merek lokal, inovasi kemasan, pemasaran digital, dan perluasan akses pasar.
Zakaria menilai berbagai tantangan daerah, seperti tingginya angka pengangguran usia produktif, regenerasi petani dan pembudidaya, transformasi digital UMKM, hingga penguatan ketahanan pangan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.
Karena itu, HIPMI Sidoarjo mengembangkan konsep Sapta Delta yang bertumpu pada tujuh pilar utama, mulai dari pemberdayaan anggota sebagai mentor dan investor, inkubasi bisnis, penguatan kolaborasi penta helix, digitalisasi usaha, ekonomi berkelanjutan, hilirisasi berbasis kearifan lokal, hingga pengembangan ekonomi kreatif melalui penguatan merek, kemasan, edukasi, dan agrowisata.
Program Integrated Farming Bioflok yang dimulai di Desa Balongdowo dan Desa Watugolong diharapkan menjadi model pemberdayaan ekonomi desa yang dapat diterapkan di berbagai wilayah di Kabupaten Sidoarjo.
"Target kami bukan sekadar menghasilkan ikan lebih banyak, tetapi melahirkan kelompok usaha yang mandiri, profesional, mampu membaca peluang pasar, serta mencetak pengusaha-pengusaha baru dari desa. Sapta Delta bukan hanya sebuah konsep, melainkan gerakan kolaborasi untuk memperkuat ketahanan pangan dan menggerakkan ekonomi daerah secara berkelanjutan," tutup Zakaria.(ih/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat